This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Monday, April 23, 2018
Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Friday, June 9, 2017
WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO

Released | 2 June 2017 (USA) |
Country | USA | China | Hong Kong |
Language | English | German |
Genres | Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War |
Director | Patty Jenkins |
Writers | Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits » |
Starcast | Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright | See full cast & crew » |
Rating |
Sunday, June 4, 2017
LEGO BATMAN MOVIE (2017) BLUERAY+ SUB INDO
THE LEGO BATMAN MOVIE
(2017)


Released
| 10 February 2017 (USA) |
| Country | Denmark | USA |
Language
| English |
Genres
| Animation | Action | Adventure | Comedy | Family |
Director
| Chris McKay |
Writers
| Seth Grahame-Smith (screenplay), Chris McKenna (screenplay) | 8 more credits » |
Starcast
| Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson | See full cast & crew » |
| Rating | 7.5/1045,613 votes |



LINK
Subtitle: br.thelegobatmanmv.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: Agent Nas
Friday, November 18, 2016
Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO

|
Released
|
14 September 2016 (Indonesia) |
| Country | USA |
|
Language
|
English |
|
Genres
|
Adventure | Family | Fantasy |
|
Director
|
David Lowery |
|
Writers
|
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits » |
|
Starcast
|
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew » |
| Rating |
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber



Friday, November 11, 2016
Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO

|
Released
|
30 September 2016 (Indonesia) |
| Country | USA | UK | Belgium |
|
Language
|
English |
|
Genres
|
Adventure | Drama | Family | Fantasy |
|
Director
|
Tim Burton |
|
Writers
|
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay) |
|
Starcast
|
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew » |
| Rating |
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber


Friday, November 4, 2016
Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo
Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.
Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.
Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.
Released
|
26 October 2016 (Indonesia) |
| Country | USA |
Language
|
English |
Genres
|
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi |
Director
|
Scott Derrickson |
Writers
|
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit » |
Starcast
|
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew » |
| Rating |
Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia
Friday, October 21, 2016
Sausage Party (2016) BluRay
Released
|
12 August 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language
|
English |
Genres
|
Animation | Adventure | Comedy |
Directors
|
Greg Tiernan, Conrad Vernon |
Writers
|
Kyle Hunter (screenplay), Ariel Shaffir (screenplay) | 5 more credits » |
Starcast
|
Seth Rogen, Kristen Wiig, Jonah Hill | See full cast & crew » |
| Rating |



Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: ElHeisenberg
Robinson Crusoe (2016) BluRay
|
Released
|
9 September 2016 (USA) |
| Country | Belgium | France |
|
Language
|
English | French | German |
|
Genres
|
Animation | Adventure | Comedy | Family |
|
Directors
|
Vincent Kesteloot, Ben Stassen |
|
Writer
|
Domonic Paris |
|
Starcast
|
Matthias Schweighöfer, Kaya Yanar, Ilka Bessin | See full cast & crew » |
| Rating |
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: De_PLaYBoX
Friday, September 30, 2016
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia
Released | 22 July 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genres | Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller |
Director | Justin Lin |
Writers | Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit » |
Starcast | Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.
Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).
Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.
Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.
Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.
Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.
Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.
Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.
Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.
Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber



Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4
UCERCLOUD
Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam








