I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Adventure Movies. Show all posts
Showing posts with label Adventure Movies. Show all posts

Monday, April 23, 2018

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Image result

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DeKnight bersama dengan T.S. Nowlin (Maze Runner: The Death Cure, 2017), Emily Carmichael, dan Kira Snyder, jalan cerita Pacific Rim Uprising mengambil latar belakang waktu pengisahan sepuluh tahun semenjak terjadinya Battle of the Breach yang dikisahkan di Pacific Rim. Dikisahkan, Jake Pentecost (John Boyega) – yang merupakan putera dari General Stacker Pentecost (Idris Elba) yang telah meninggal dunia – dipaksa oleh kakak angkatnya, Mako Mori (Rinko Kikuchi), untuk kembali bertugas pada Pan-Pacific Defence Corps sebagai seorang pelatih bagi kadet-kadet muda kesatuan tersebut. Bukan sebuah persoalan mudah. Meskipun memiliki ayah yang telah dianggap sebagai sosok pahlawan bagi kebanyakan manusia di muka Bumi, Jake Pentecost memilih untuk menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Walau menerima “paksaan” sang kakak angkat, Jake Pentecost menjalankan tugasnya dengan malas-malasan. Sikap tersebut bahkan semakin menjadi-jadi setelah Jake Pentecost kembali bertemu dengan saingan terberatnya selama menjadi kadet muda terdahulu, Nate Lambert (Scott Eastwood). Namun, setelah kemunculan sebuah robot asing yang menimbulkan kekacauan besar, Jake Pentecost sadar bahwa kemampuannya diperlukan untuk berjuang dan memperbaiki keadaan.

Genre:  Action, Adventure, Fantasy, Science Fiction



Friday, June 9, 2017

WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO




Released
2 June 2017 (USA)

Country
USA | China | Hong Kong

Language
English | German

Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War

Director
Patty Jenkins

Writers
Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits »

Starcast
Gal GadotChris PineRobin Wright | See full cast & crew »

Rating
Wonder Woman (2017) on IMDb
Review:
Cukup mengherankan untuk melihat baik DC Films maupun Marvel Studios (atau rumah produksi Hollywood lainnya) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya menggarap sebuah film pahlawan super dengan sosok karakter wanita berada di barisan terdepan. Terlebih, film-film bertema pahlawan super tersebut saat ini sedang begitu digemari oleh banyak penikmat film sehingga mampu mendatangkan jutaan penonton – khususnya para penonton wanita. Marvel Studios sebenarnya memiliki kesempatan tersebut ketika mereka memperkenalkan karakter Black Widow yang diperankan Scarlett Johansson pada Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010) dan The Avengers (Joss Whedon, 2012) yang akhirnya kemudian begitu mencuri perhatian. Entah karena masih kurang percaya diri atau merasa karakter Black Widow belum terlalu menjual, ide pembuatan film solo untuk Black Widow akhirnya terkubur dalam hingga saat ini. Johansson sendiri kemudian mampu membuktikan nilai jualnya ketika ia membintangi Lucy (Luc Besson, 2014), Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014), dan Ghost in the Shell (Rupert Sanders, 2017) yang menempatkannya sebagai semacam sosok pahlawan super wanita sekaligus berhasil meraih kesuksesan secara komersial ketika masa perilisannya.
Well… Marvel Studios had their chances and ruined it. Pada tahun 2010, studio pesaingnya, DC Films – yang film-film pahlawan supernya selama ini seringkali menjadi bulan-bulanan para kritikus film dunia selepas trilogi The Dark Knight (2005 – 2012) arahan Christopher Nolan – mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi adaptasi film layar lebar dari Wonder Woman. Setelah mengumumkan bahwa Patty Jenkins (Monster, 2003) akan duduk di kursi penyutradaraan dan Gal Gadot (Fast and Furious 6, 2013) akan berperan sebagai karakter ikonik Diana Prince/Wonder Woman, DC Films kemudian secara resmi memulai proses produksi film di tahun 2015. Reputasi film-film pahlawan super milik DC Films sempat membayangi sekaligus memberikan keraguan pada Wonder Woman. Namun, dengan naskah cerita yang solid dari Allan Heinberg, penampilan yang begitu mengikat dari Gadot sekaligus arahan yang sangat kuat dari Jenkins, Wonder Woman mampu menentang segala ekspektasi terhadapnya. Tidak hanya menjadi film terbaik DC Films semenjak The Dark Knight (Nolan, 2008), Wonder Woman adalah salah satu film pahlawan super terbaik yang pernah dirilis Hollywood hingga saat ini.
Dibuka dengan cuplikan adegan yang sempat muncul dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (Zack Snyder, 2016) – dimana DC Films menghadirkan karakter Diana Prince/Wonder Woman untuk pertama kali, Jenkins memulai Wonder Woman dengan mengajak penonton berkenalan dengan asal usul sang wanita ajaib tersebut. Merupakan puteri dari penguasa kepulauan Themyscira yang merupakan tempat tinggal bagi kaum Amazon, Queen Hippolyta (Connie Nielsen), perkenalan Diana (Gadot) dengan seorang kapten Angkatan Darat Amerika Serikat, Steve Trevor (Chris Pine), kemudian membawanya bertualang jauh dari tanah kelahirannya. Dari informasi yang diberikan Steve Trevor, Diana mengetahui bahwa dunia sedang menghadapi perang besar yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Merasa bahwa peperangan tersebut disebabkan oleh Ares sang Dewa Perang, dan sebagai kaum Amazon yang bertugas untuk menundukkan Ares, Diana lantas bergabung dengan Steve Trevor dan pasukannya demi menghentikan peperangan.
Penampilan Gadot merupakan kunci mengapa karakter Diana Prince/Wonder Woman tampil begitu memikat. Seperti halnya Hugh Jackman yang memerankan James Howlett/Logan/Wolverine atau Robert Downey, Jr. yang memerankan Tony Stark/Iron Man atau Chris Evans yang memerankan Steve Rogers/Captain America, Gadot jelas terlahir untuk memerankan Diana Prince/Wonder Woman. Tidak seperti Black Widow yang tampil seduktif, Diana Prince/Wonder Woman adalah sosok pahlawan super dengan kepribadian yang terasa begitu lugu – mungkin dapat dideskripsikan sebagai versi wanita dari Steve Rogers/Captain America. Gadot mampu merepresentasikan gambaran tersebut dengan kuat. Meskipun dengan penampilan fisik yang sempurna – dan sentuhan lip gloss yang setiap melapisi bibirnya, kharisma Gadot mampu menjadikan karakter yang ia perankan terasa masih begitu membumi, hangat, dan mudah didekati siapa saja. Deskripsi penampilan yang jelas membuat baik Gadot maupun Diana Prince/Wonder Woman akan sangat mudah untuk disukai atau dicintai atau bahkan diidolai oleh siapa saja.
Tentu saja, penampilan Gadot juga merupakan hasil dari pengarahan yang sangat mengagumkan dari Jenkins. Merupakan film kedua Jenkins setelah Monster yang berhasil memenangkan Charlize Theron sebuah Academy Award, Wonder Woman hadir dengan kekuatan penceritaan dan teknikal layaknya film-film bertema sama arahan para sutradara pria namun dengan sentuhan sensitivitas seorang wanita. Kelebihan tersebut begitu terasa pada kemampuan Jenkins untuk menonjolkan kepribadian setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita dan membuat kehadiran mereka terasa begitu esensial, bahkan bagi karakter-karakter dengan jalinan kisah yang minimalis. Hal ini yang membuat pertarungan akhir yang dihadapi Diana Prince/Wonder Woman terasa lebih sebagai sebuah pertarungan ideologis antara dua karakter daripada sebagai sebuah pertarungan untuk menggelorakan penggunaan tata efek visual yang melelahkan seperti yang terjadi dalam adegan pertarungan final pada Batman v Superman: Dawn of Justice.
Perjalanan pengisahan Wonder Woman sendiri bukannya hadir tanpa permasalahan. Dengan karakter Diana Prince/Wonder Woman yang begitu mempesona, karakter-karakter antagonis dalam film ini seringkali terasa kurang begitu memorable. Begitu pula dengan karakter-karakter pendukung yang hadir di sekitaran Diana Prince/Wonder Woman maupun Steve Trevor. Paruh kedua dan ketiga pengisahan film juga memiliki beberapa masalah. Setelah deretan pengenalan karakter dan konflik pada paruh pertama, paruh kedua terasa sedikit hambar dalam pengelolaan ceritanya – meskipun mampu menggali kedalaman hubungan karakter Diana Prince/Wonder Woman dengan Steve Rogers dengan baik. Paruh ketiga yang berisi penyelesaian deretan konflik yang telah dikembangkan pada paruh-paruh pengisahan sebelumnya juga sempat terasa goyah pada beberapa bagian. Meskipun begitu, kelemahan-kelemahan minor tersebut untungnya tidak akan mengurangi kualitas pengisahan Wonder Woman secara keseluruhan yang mampu diproduksi dengan apik.
Berbicara mengenai departemen akting, penampilan Pine sebagai Steve Trevor mampu mendampingi penampilan Gadot dengan baik. Chemistry­-nya yang sangat hangat dengan Gadot membuat hubungan mereka terlihat begitu manis. Chemistry itu pula yang kemudian berhasil menyumbangkan beberapa momen emosional dalam presentasi cerita Wonder Woman. Selain Pine, penampilan-penampilan pendukung dalam film ini hadir dalam kualitas yang solid. Mulai penampilan dari Nielsen dan Robin Wright sebagai dua sosok wanita terdekat bagi karakter Diana Prince/Wonder Woman, David Thewlis, David Huston, Elena Anaya hingga Lucy Davis yang kerap kali berhasil mencuri perhatian. Kualitas penampilan departemen akting yang unggul tersebut yang kemudian berhasil semakin membuat Wonder Woman hadir begitu istimewa. Sebuah pencapaian yang jelas memberikan standar baru (yang cukup tinggi) bagi film-film pahlawan super wanita di masa yang akan datang. An instant classic!

LINK DIJAMIN BISA KARNA SUDAH DIUJI OLEH ADMIN 
FILE SIZE= 348MB
FORMATMP4
LINK
Subtitle: hdts.wonderwoman.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: unickunru

Sunday, June 4, 2017

LEGO BATMAN MOVIE (2017) BLUERAY+ SUB INDO

THE LEGO BATMAN MOVIE
(2017)

Quality: BRRip


Released
10 February 2017 (USA)
CountryDenmark | USA
Language
English
Genres
Animation | Action | Adventure | Comedy | Family
Director
Chris McKay
Writers
Seth Grahame-Smith (screenplay), Chris McKenna (screenplay) | 8 more credits »
Starcast
Will ArnettMichael CeraRosario Dawson | See full cast & crew »
RatingThe LEGO Batman Movie (2017) on IMDb
7.5/1045,613 votes
Review:
The LEGO Movie arahan Phil Lord dan Christopher Miller muncul menjadi salah satu film animasi terbaik yang dirilis pada tahun 2014 lalu dengan tampilannya yang begitu berwana, naskah cerita yang diisi dialog serta karakter yang jenaka serta sebuah lagu tema yang berhasil menempel di kepala setiap penontonnya – sekaligus membuahkan nominasi Best Original Song pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Tahun ini, penonton mendapatkan sebuah subseri dari The LEGO Movie yang dibintangi oleh salah satu karakter pahlawan super yang sempat muncul di film tersebut, Batman. Diarahkan oleh Chris McKay – yang sebelumnya bertugas sebagai salah satu penata gambar pada The LEGO Movie, The LEGO Batman Movie menjanjikan pengalaman yang sama menyenangkannya dengan film pertama seri ini sekaligus kehadiran Batman serta rekan-rekan protagonis dan antagonisnya dalam nada penceritaan yang jauh dari kesan kelam seperti yang sering dibawakan film-film Batman selama ini. Because… Why so serious, right?
Tiga tahun semenjak menyelamatkan The LEGO Universe seperti yang dikisahkan pada The LEGO Movie, Batman (Will Arnett) terus mengisi kesehariannya dengan melawan kejahatan di Gotham City. Namun, Batman kemudian merasa keberadaan dirinya menjadi tidak berarti ketika Komisaris Besar Kepolisian yang baru, Barbara Gordon (Rosario Dawson), menginginkan agar kepolisian dan masyarakat Gotham City untuk tidak terlalu bergantung pada keberadaan Batman dalam menjaga keamanan kota. Sementara itu, Joker (Zach Galifianakis) sedang menyusun rencana untuk membalaskan dendamnya kepada Batman. Dengan mengumpulkan deretan penjahat legendaris seperti Harley Quinn (Jenny Slate), Riddler (Conan O’Brien), Bane (Doug Benson), Catwoman (Zoë Kravitz) hingga Lord Voldemort dari seri film Harry Potter (Eddie Izzard) dan Sauron dari trilogi The Lord of the Rings (Jemaine Clement), Joker mulai mengambil alih dan menghancurkan Gotham City. Merasa dirinya terpanggil kembali dan dibutuhkan, Batman kemudian mengumpulkan pasukannya dan mulai menjalankan aksi untuk menyelamatkan Gotham City.
Seperti halnya The LEGO Movie, naskah cerita yang digarap Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern dan John Whittington masih mengutamakan plot kisah mengenai pentingnya kebersamaan dan kerjasama antara satu dengan yang lain. Maskipun masih menawarkan jalan pengisahan yang diisi dengan dialog-dialog yang sukses tampil menghibur, keberadaan banyaknya karakter dalam jalan cerita The LEGO Batman Movie memang cukup memberikan beban tersendiri dalam mengikuti kisahnya. Paruh pertama film, khususnya, terasa berjalan dengan tempo yang sedikit lamban akibat usaha untuk memperkenalkan deretan karakter-karakternya. Beruntung, secara perlahan, The LEGO Batman Movie kemudian berhasil meningkatkan pacuan penceritaan dan akhirnya tampil dengan ritme pengisahan yang tepat untuk dinikmati, baik sebagai sebuah komedi maupun sebagai sebuah film pahlawan super.
Dari departemen produksi, warna-warna terang dan bernuansa cerah, yang jelas tidak akan didapatkan penonton dari film-film Batman manapun, juga masih mengisi film sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Tatanan musik garapan Lorne Balfe juga memberikan atmosfer pengiring yang tepat bagi setiap adegan The LEGO Batman Movie – memberikan sajian ketegangan a la film-film pahlawan super di banyak adegan aksi dan, secara mengejutkan, mampu memberikan elemen emosional ketika naskah cerita film ini memberikan pengisahan yang menyentuh. Penataan gambar film ini juga diperlakukan seperti layaknya sebuah film pahlawan super. Memberikan pengalaman menyaksikan sebuah film animasi yang cukup menyegarkan.
Namun, poin kesuksesan terbesar dari naskah cerita The LEGO Batman Movie adalah kemampuan para penulis naskahnya untuk memasukkan berbagai referensi tentang Batman – baik dari komik, serial televisi hingga seri film Batman – secara cerdas ke dalam rangkaian konflik maupun dialog yang disajikan dalam film ini. Para pembuat The LEGO Batman Movie jelas merupakan kumpulan para penggemar berat Batman. Bersama, mereka menggali secara mendalam berbagai informasi tentang pahlawan super tersebut dan menyajikannya dengan sentuhan hiburan yang kuat. Begitu banyaknya referensi tentang Batman, The LEGO Batman Movie dipastikan akan dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi para penontonnya ketika mereka menyaksikan film ini untuk kedua atau ketiga (atau keempat atau kelima atau keenam dan seterusnya…) kalinya. Mereka yang bukan penggemar Batman rasanya juga tidak lantas akan merasa dialienasi oleh kuatnya referensi budaya Batman dalam naskah cerita film ini. Ada begitu banyak unsur hiburan yang sukses disajikan di sepanjang 104 menit durasi perjalanan film ini.
The LEGO Batman Movie juga diperkuat oleh barisan pengisi suara yang mampu menjadikan karakter-karakter mereka bagitu hidup dan menarik untuk diikuti kisahnya. Sebagai Batman, vokal Arnett tampil sangat meyakinkan. Karakternya yang digambarkan sebagai versi parodi dari sosok Bruce Wayne/Batman yang eksentrik dan penyendiri mampu disajikan dengan sempurna. Galifianakis juga cukup memikat perhatian sebagai Joker, seperti halnya Michael Cera yang menjadikan Robin sebagai sosok yang cute atau Ralph Fiennes yang menjadikan karakter pendamping setia Bruce Wayne/Batman, Alfred Pennyworth, tampil dengan karakterisasi yang lebih luas dari yang biasa ditampilkan dalam film-film Batman lainnya. Kesuksesan penggarapan kualitas secara keseluruhan The LEGO Batman Movie tersebut dengan mudah menjadikan film ini sebagai film Batman terbaik sejak The Dark Knight (Christopher Nolan, 2008). Dan dengan komposisi komedi yang cerdas, The LEGO Batman Movie jelas juga menjadi film Batman paling menghibur di sepanjang sejarah adaptasi film dari komik buatan DC Comics tersebut.



+

Link di jamin aktif karna sudah di tes oleh ADMIN 

FILE SIZE= 328MB
FORMAT MP4


LINK
UCERCLOUD



Subtitle: br.thelegobatmanmv.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: Agent Nas







Friday, November 18, 2016

Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO


Released
14 September 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
David Lowery
Writers
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew »
Rating
7.2/10
Review:
Disney belum berhenti untuk bercerita tentang believing in wonder di tahun ini. Di awal tahun kita sudah bertemu dengan ‘Zootopia’ bersama seekor kelinci yang berjuang meraih mimpinya, yang kemudian disusul oleh ‘The Jungle Book’ dan ‘Finding Dory’. Kini ‘Pete’s Dragon’ hadir mencoba meneruskan pencapaian tadi, sebuah redesign yang sehat pada a tale of a magic tentang kisah persahabatan antara seorang manusia dengan seekor naga dengan kombinasi heart, semangat, dan visual yang menyenangkan. It’s ‘The Good Dinosaur’ meets ‘The Jungle Book’ with good heart and magic.
Grace Meacham (Bryce Dallas Howard), seorang penjaga hutan, tidak percaya dengan cerita sang ayah, Mr. Meacham (Robert Redford), tentang naga yang hidup di dalam hutan, sampai ketika ia bertemu dengan Pete (Oakes Fegley). Remaja berusia 10 tahun itu mengatakan selama ini ia diasuh dan dilindungi oleh seekor naga hijau bernama Elliot. Pete yang selama ini bersembuyi dari interaksi sosial dengan manusia lain keluar dari hutan untuk meminta bantuan dari Grace. Hutan tempat ia dan Elliot selama ini tinggal sedang terancam aksi dari para penebang hutan yang dipimpin pria bernama Gavin (Karl Urban).
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber

FILE SIZE : 308 MB
MP4
LINK

Friday, November 11, 2016

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO



Released
30 September 2016 (Indonesia)
Country USA | UK | Belgium
Language
English
Genres
Adventure | Drama | Family | Fantasy
Director
Tim Burton
Writers
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay)
Starcast
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew »
Rating
7.1/10
Review:
Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.
Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) memiliki ikatan yang erat dengan kakeknya Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp), sosok yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur tentang sebuah rumah berisikan anak-anak yang memiliki kekuatan unik di bawah pimpinan wanita bernama Miss Alma LeFay Peregrine (Eva Green). Suatu ketika musibah menimpa Abe dan kemudian meninggalkan Jake dalam kondisi sepi serta terus dirundung mimpi buruk, dipaksa untuk bertemu psikiater bernama Dr. Golan (Allison Janney) untuk dapat mengatasi kesedihannya. Tapi suatu ketika berawal dari sebuah postcards rasa ingin tahu Jake terhadap kebenaran dari dongeng yang selalu Abe ceritakan itu menjadi besar, bersama sang ayah Franklin (Chris O’Dowd) dia kemudian menuju Wales berharap dapat menemukan rumah Miss Peregrine.
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber
 

FILE SIZE : 343 MB
MP4
LINK

Friday, November 4, 2016

Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo

Hasil gambar untuk doctor strange 
Sinopsis Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.

Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.

Review Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.

Released
26 October 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi
Director
Scott Derrickson
Writers
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit »
Starcast
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew »
Rating
8.0/10

FILE SIZE : 287 MB
MP4
LINK
 [USERCLOUD] 

Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia

Friday, October 21, 2016

Sausage Party (2016) BluRay


Released
12 August 2016 (USA)
Country USA
Language
English
Genres
Animation | Adventure | Comedy
Directors
Greg Tiernan, Conrad Vernon
Writers
Kyle Hunter (screenplay), Ariel Shaffir (screenplay) | 5 more credits »
Starcast
Seth Rogen, Kristen Wiig, Jonah Hill | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 6.7/10


SINOPSIS:Film Sausage Party bercerita tentang sekelompok tokoh yang mencari dan berusaha menemukan Sosis guna mengungkap keberadaannya.  setelah mereka jatuh kedalam keranjang belanjaan , pada saat itu barulah mereka memulai perjalana yang penuh bahaya yang harus mereka lewat. mereka harus kembali ke gang sebelum tanggal 4 juli.



FILE SIZE :250MB

Subtitle: br.sausgprty.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: ElHeisenberg

Robinson Crusoe (2016) BluRay

Hasil gambar untuk ROBIN COURSE WILD LIFE 2016
 
Released
 9 September 2016 (USA)
Country Belgium | France
Language
English | French | German
Genres
Animation | Adventure | Comedy | Family
Directors
Vincent Kesteloot, Ben Stassen
Writer
Domonic Paris
Starcast
Matthias Schweighöfer, Kaya Yanar, Ilka Bessin | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 5.3/10

ROBINSON CRUSOE (The Wild Life) bercerita tentang Tuesday, seekor burung kakaktua yang tinggal bersama dengan hewan lainnya. Tuesday memiliki cita-cita untuk menjelajahi dunia. Pasca diterpa badai kencang, Tuesday dan temannya menemukan sosok asing di pantai, Robinson Crusoe. Tuesday segera melihat Crusoe sebagai tiket keluar dari pulau itu untuk menjelajah ke daratan lain. Sebaliknya, kunci keselamatan Crusoe ada di tangan Tuesday dan kawan-kawan.
Awalnya tidak mudah, namun perlahan hidup mereka berjalan dengan harmonis sampai kemunculan dua kucing liar yang ingin menguasai pulau. Pertempuran pun terjadi melawan para kucing, sampai akhirnya Crusoe dan para hewan menemukan kekuatan sesungguhnya dari persahabatan.
 

FILE SIZE; 256MB


Subtitle: br.robnsoncrsoe.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: De_PLaYBoX

Friday, September 30, 2016

Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

star-trek-beyond-2016.jpg
movieinfo.png
Released
22 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Justin Lin
Writers
Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit »
Starcast
Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif7.4/10

Review:

Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.

Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).

Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.

Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.

Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.

Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.

Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.

Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.

Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

banner-appwal.jpg
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4

UCERCLOUD

Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam