I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Thriller Movies. Show all posts
Showing posts with label Thriller Movies. Show all posts

Sunday, June 4, 2017

DOWNLOAD THE FATE OF THE FURIOUS (2017) HC HDRIP SUBTITLE INDONESIA




Released
14 April 2017 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Crime | Thriller
Director
F. Gary Gray
Writers
Chris MorganGary Scott Thompson (based on characters created by)
Starcast
Vin DieselJason StathamDwayne Johnson | See full cast & crew »
RatingThe Fate of the Furious (2017) on IMDb
7.2/1071,759 votes
Review:
Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis.
Dua tahun semenjak perilisan Fast and Furious 7 (atau Furious 7 atau Fast 7 – bergantung dimana lokasi negara perilisannya) dan untuk pertamakalinya semenjak kematian tragis Paul Walker yang memerankan salah satu karakter sentral, Brian O’Conner, seri film The Fast and the Furious melanjutkan perjalanannya lewat Fast and Furious 8. Dikisahkan, Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru saja menikahi Letty Ortiz (Michelle Rodriguez) dan sedang berbulan madu di Kuba, secara tidak sengaja bertemu dengan seorang teroris dunia maya yang dikenal dengan nama Cipher (Charlize Theron). Tanpa disangka, setelah pertemuan tersebut, Dom malah memilih untuk mengkianati Letty sekaligus para sahabatnya, Luke Hobbs (Dwayne Johnson), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Chris Bridges) dan Ramsey (Nathalie Emmanuel), untuk kemudian bergabung dengan Cipher dan menyusun sebuah rencana teror untuk memicu sebuah perang nuklir. Bekerjasama dengan agen rahasia Frank Petty (Kurt Russel) dan Eric Reisner (Scott Eastwood), Letty bersama mantan rekan-rekan Dom memulai aksi mereka untuk menyelamatkan dunia dari berbagai rencana jahat Dom dan Cipher.
Juga dirilis dengan judul The Fate of the Furious atau Fast 8 – lagi, bergantung dimana lokasi negara perilisannya, Fast and Furious 8 masih melanjutkan tradisi seri-seri sebelumnya dimana kisah persahabatan serta tantangan yang hadir dalam hubungan karakter-karakter dalam film ini menjadi pendamping bagi deretan adegan aksi yang dipenuhi tampilan efek visual spektakuler yang menjadi sajian utama sekaligus daya tarik film. F. Gary Gray (Straight Outta Compton, 2015), yang menggantikan posisi Wan untuk duduk di kursi sutradara, sepertinya berusaha keras untuk menyaingi tampilan aksi yang dihadirkan Wan dalam seri sebelumnya. Berhasil? Cukup berhasil. Dengan pengalamannya mengarahkan remake The Italian Job (2003) yang juga menampilkan banyak adegan balapan – serta dibintangi Theron dan Jason Statham yang turut hadir dalam film ini – Gray mampu mengeksekusi deretan adegan aksi dalam Fast and Furious 8 dengan baik. Kental dibungkus dengan tampilan efek visual, beberapa adegan film ini bahkan mampu menghadirkan momen-momen menegangkan bagi para penontonnya.
Tidak banyak hal yang dapat digali dari kualitas penceritaan yang digariskan Chris Morgan – yang juga merupakan penulis naskah Fast and Furious 7. Seperti seri sebelumnya, dinamika pengisahan arahan Morgan tidak banyak berubah. Tantangan yang diberikan kepada hubungan persahabatan yang terjalin antara karakter-karakternya masih terasa generik dan tidak berkembang dengan terlalu baik. Kehadiran karakter Chiper sebagai karakter antagonis utama – dan merupakan karakter antagonis wanita pertama dalam seri film ini – sekilas terlihat menarik pada awalnya. Namun, seiring dengan perjalanan penceritaan film, karakter Chiper tidak diberikan ruang pengisahan yang terlalu luas yang membuat karakternya kemudian juga menjadi terasa hambar. Arahan Gray yang mengedepankan kepentingan tampilan efek visual juga seringkali terasa menghalangi penceritaan film untuk mampu tampil berkisah dengan lebih kuat. Memang tidak ada yang mengharapkan kualitas cerita yang benar-benar prima dari sebuah film dalam seri The Fast and the Furious. Namun lemahnya pengisahan film ini jelas memberikan kontribusi yang besar terhadap munculnya banyak momen-momen membosankan dalam Fast and Furious 8.
Penampilan para jajaran pemeran film juga masih berada dalam kapasitas akting yang telah biasa mereka tampilkan dalam film-film sebelumnya. Diesel (dan Rodriguez) masih hadir dengan ekspresi wajah yang datar dan serupa dalam tiap adegan. Begitu pula dengan Bridges dan Gibson yang selalu siap sedia menjadi penyuplai humor dalam film ini dengan dialog-dialog singkat yang diberikan pada mereka. Theron tampil cukup lugas – meskipun setelah melihat penampilan garangnya lewat Mad Max: Fury Road (George Miller, 2015) dan The Huntsman: Winter’s War (Cedric Nicolas-Troyan, 2016) penampilannya sebagai Cipher dalam film ini menjadi terkesan terlalu biasa. Johnson dan Statham justru tampil cukup menonjol dengan chemistry mereka yang begitu hangat sekaligus sangat, sangat meyakinkan. Penampilan Helen Mirren dan Luke Evans juga mampu mencuri perhatian meskipun dalam komposisi penceritaan yang begitu singkat. Secara keseluruhan, Fast and Furious 8 masih akan mampu menghibur para penggemar lamanya sekaligus banyak penikmat film-film aksi dalam skala luas. Meskipun begitu, dengan stagnannya kualitas penulisan cerita film, seri film The Fast and the Furious jelas terasa cukup mengkhawatirkan di masa yang akan mendatang.





LINK DI JAMIN BISA KARNA SUDAH DI UJI/TES OLEH ADMIN
FILE SIZE= 381MB 
FORMAT MP4
LINK
Subtitle: hchdrip.thefateoffurious.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: donny_doublen

Monday, November 7, 2016

Ouija: Origin of Evil (2016) HDRip + SUB iNDO

Ouija: Origin of Evil
(2016)

Quality: HDRip

Released
2 November 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Horror | Thriller
Director
Mike Flanagan
Writers
Mike Flanagan, Jeff Howard
Starcast
Elizabeth Reaser, Lulu Wilson, Annalise Basso | See full cast & crew »
Rating
6.6/10
Review:
Bermain dengan hal-hal supernatural selalu tampak menjanjikan sesuatu yang “menyenangkan”, tidak heran dengan budget kecil film-film horror kerap berhasil meraih keuntungan finansial yang besar termasuk that dreadful ‘Ouija’ yang hadir dua tahun lalu. Budget kecil membuat rasa takut pada potensi merugi juga kecil, tidak heran film-film di genre horror kerap tampak seperti trial and error, putar materi klise dan klasik di mana karakter hantu melihat karakter manusia dan karakter manusia merasakan eksistensi karakter hantu di sekitarnya. Genre horror tidak sepenuhnya membutuhkan materi baru yang segar namun sosok tepat yang mampu mengolah materi klasik dan klise tadi menjadi sajian yang segar. Film ini berada di tangan sosok yang tepat. Ouija: Origin of Evil: an effectively creepy horror without being overly cheesy.
Alice Zander (Elizabeth Reaser) merupakan seorang single mother dengan dua orang putri, Lina (Annalise Basso) dan juga Doris (Lulu Wilson), dua sosok yang membantu Alice ketika ia sedang beraksi melakukan aksi penipuan berkedok fortune teller. Sayangnya usaha tersebut masih belum mampu untuk meringakan beban finansial yang sedang mereka hadapi, tagihan belum dibayar menandakan potensi penyitaan rumah yang mereka tempati semakin besar. Suatu ketika sedang berkunjung ke rumah temannya Lina diajak untuk bermain ouija dan dari sana ia menyarankan sang ibu untuk menggunakan papan tersebut untuk membuat bisnis mereka semakin menarik.
Celakanya usaha tersebut justru memanggil sosok asing yang tertarik untuk bermain dengan mereka. Ketika sedang melakukan setting pada mainan barunya itu Alice tanpa sadar telah memanggil roh yang bermukim di rumah mereka, bernama Marcus dan hadir lewat perantaraan Doris. Doris tidak tahu bahwa sang ayah telah tiada percaya bahwa situasi “unik” yang ia rasakan itu akibat arwah sang ayah, terus dilanda rasa penasaran untuk bermain Ouija. Bersama dengan Father Tom (Henry Thomas) Alice dan Lina perlahan yakin bahwa Doris kini berada di bawah kendali roh jahat.
Sinopsis di atas tadi terkesan standard dan mungkin akan terasa basi jika menilik hubungan sebab dan akibat yang ia tawarkan. Faktanya tidak ada materi yang benar-benar fresh from the oven di dalam cerita Ouija: Origin of Evil, tidak hanya materi yang terasa hangat saja namun juga tidak terdapat materi yang benar-benar segar dan baru. Formula Ouija: Origin of Evil tipikal film horror pada umumnya, karakter bertemu dengan masalah, lalu build-up dan kemudian bermain dengan situasi penuh rasa waspada dari “kehadiran” sosok “asing” di sekitar karakter. Ya, there or not there dengan diselingi beberapa fake-outs klasik, Mike Flanagan sepenuhnya berpegang teguh dengan formula klasik dari genre horror namun apa yang menyebabkan materi yang tidak segar tadi justru berhasil menyajikan presentasi horror yang terasa segar adalah karena Mike Flanagan sejak awal memilih bermain aman namun terkendali.
Mungkin terkesan kurang menantang namun hal tersebut yang justru membuat berbagai hal dan materi klasik genre horror di film ini bekerja dengan baik. Efektifitas adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Ouija: Origin of Evil secara singkat, hal tersebut eksis sejak awal hingga akhir. Karakter dan juga konflik berhasil dibentuk dengan cepat dan tepat, kita dapat merasakan kehadiran tekanan yang sedang dihadapi oleh Alice dan dua putrinya di dalam cerita, kemudian cara papan ouija masuk ke dalam rumah keluarga Zander itu juga terasa halus termasuk penggunaan kondisi di mana Doris yakin bahwa arwah tersebut merupakan sang ayah. Koneksi antar cerita dan juga karakter terbangun dengan baik sejak awal, kita juga bertemu dengan Mikey (Parker Mack) yang berhasil menjadi “boneka” yang efektif bagi Doris, dan setelah koneksi tadi sukses menjadi semacam “alarm” bagi penonton setelah itu Flanagan coba menghadirkan “keriuhan” yang telah dinanti.
Kata yang digunakan memang keriuhan namun mereka hadir tanpa kebisingan yang berlebihan. Bermain dengan keheningan, itu senjata utama yang Flanagan gunakan di sini, dan seperti disebutkan di awal tadi penonton yang telah merasa seolah menjadi bagian lain dari keluarga Zander terus merasa waspada karena kita tahu di sana ada hantu. Di paruh pertama semua terasa lowkey namun eerie mood yang dihasilkan terus tumbuh dengan baik, penonton dibuat menantikan kemunculan sosok asing itu dan ketika momen itu tiba Mike Flanagan (Absentia, Oculus, Hush, Before I Wake) sajikan dengan punchs yang manis, effectively creeping audiences out. Pola klasik yang digunakan berhasil dikendalikan dengan baik oleh Flanagan terutama pada cara ia bermain tarik dan ulur bersama penonton, membuat penonton perlahan merasa unnerving untuk kemudian memunculkan berbagai “kejutan” yang manis.
Hal lain yang terasa impresif dari eksekusi Flanagan di sini adalah ia tidak mencoba menggunakan berbagai kejutan tadi untuk menciptakan kesan menakutkan yang terasa overwhelm. Ouija: Origin of Evil tidak menawarkan sebuah petualangan layaknya rollercoaster dengan track dipenuhi naik dan turun yang mengerikan tapi dengan tetap tampak tenang the scares yang dihasilkan justru terasa kumulatif, terasa terus bergerak semakin besar. Kesan creepy yang dihasilkan Ouija: Origin of Evil secara perlahan terus menumpuk, meskipun memberi kesempatan bagi beberapa humor kecil untuk tampil itu tidak membuat ekspektasi penonton pada menantikan kemunculan berbagai “kejutan” menjadi turun. Hal tersebut disebabkan karena Flanagan berusaha untuk menjauhkan materi yang dapat menciptakan kesan random di dalam cerita, secara step by step ia bangun mood and scare sehingga kesan menakutkan ketika kejutan itu hadir terasa impactful.
Hal lain yang Flanagan lakukan dengan baik di sini adalah ia berhasil menciptakan sebuah kemasan dipenuhi dengan timing yang tepat dari kemunculan setiap elemen cerita. Di awal dia fokus pada menciptakan dasar bagi karakter dan juga konflik namun ketika itu telah usai dua hal tadi tidak lantas berada di satu ruangan dengan tugas utama untuk hanya menciptakan kehebohan yang mengejutkan penonton saja. Paruh kedua harus diakui terasa predictable namun kesan fun yang dihasilkan paruh pertama tidak luntur di bagian ini, dari karakter, konflik, hingga elemen teknis seperti score dan visual mereka berhasil dikombinasikan dengan baik oleh Flanagan sebagai editor untuk menakut-nakuti penontonnya. Teror dikemas dengan sangat efektif, dari twist and turns hingga hal sederhana seperti mempermainkan silence moments ketika that thing sedang mengintai karakter untuk perlahan mendekat dan mendekat.
Hal-hal semacam itu yang menjadi daya tarik dari film horror dan di sini ditampilkan Flanagan dengan baik meskipun di babak akhir pace terasa sedikit kendor dan tidak begitu kuat. Bersama dengan Jeff Howard screenplay yang dihasilkan memang tidak istimewa namun lebih dari mampu untuk menciptakan kesan padat, dari arena bermain bagi berbagai kejutan hingga pada hal yang sedikit lebih berat seperti tentang family. Di sisi lain terdapat api kecil yang terus membakar suspense, mempertahankan atmosfir menakutkan yang telah terbentuk dan tetap stay away dari usaha “memukul” penonton dengan berbagai kejutan yang cheap dan random. Dan itu semua dilengkapi dengan kinerja akting yang juga sangat efektif dari jajaran cast, dari Elizabeth Reaser sebagai “guardian”, kemudian Annalise Basso hingga Lulu Wilson yang tampil exceptionally good terlebih ketika ia bermain dengan senyum yang gentle namun creepy itu.
Overall, Ouija: Origin of Evil adalah film yang memuaskan. Ini merupakan kelanjutan dan juga prequel yang superior for that dreadful ‘Ouija’, dan di sisi lain menjadi bukti bahwa genre horror kembali mendapatkan satu talenta yang berhasil meninggalkan kesan dependable, yaitu Mike Flanagan. Ini adalah bukti bahwa materi yang klise dan basi pada industri film bukan masalah yang besar, materi klasik dan klise tetap memiliki potensi untuk menciptakan sebuah sajian yang segar jika diolah dengan baik dan benar. Mike Flanagan melakukan itu di sini, memiliki great sense pada eksekusi untuk membuat berbagai terror itu work dan menghasilkan sebuah effective and entertaining horror.
Sumber

FILESIZE: 273 MB
LINK

Subtitle: hd.ouijaorigin.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Zolren

Friday, September 30, 2016

Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

star-trek-beyond-2016.jpg
movieinfo.png
Released
22 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Justin Lin
Writers
Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit »
Starcast
Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif7.4/10

Review:

Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.

Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).

Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.

Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.

Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.

Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.

Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.

Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.

Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

banner-appwal.jpg
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4

UCERCLOUD

Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam

Saturday, September 24, 2016

ARQ (2016) WEBRip+Subtitle Indonesia

arq16.jpg
movieinfo.png
Released
16 September 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Sci-Fi | Thriller
Director
Tony Elliott
Writer
Tony Elliott
Starcast
Robbie Amell, Rachael Taylor, Shaun Benson | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.5/10

Sinopsis:

Terperangkap dalam sebuah lab dan terjebak pada putaran waktu, pasangan suami istri tak punya tujuan mencoba mengatur lingkaran waktu saat para penjahat bertopeng mendatangi mereka, dan dalam putaran waktu tertentu, mereka kedatangan robot yang juga menyerang mereka habis-habisan, dan semuanya itu terlihat dalam waktu mundur yang ada dalam pikiran Renton; ada sumber energi baru yang sepertinya bisa menyelamatkan umat manusia.

ARQ.jpg

vlcsnap-2016-09-17-00h06m56s938.png

vlcsnap-2016-09-17-00h07m29s497.png

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: web-arq-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: MoviePrazz

Monday, September 19, 2016

Interrogation (2016) BluRay + Subtitle Indonesia

interrogation.jpg
movieinfo.png
Released
20 September 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Thriller
Director
Stephen Reynolds
Writers
Michael Finch, Adam Rodin
Starcast
C.J. Perry, Adam Copeland, Julia Benson | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif4.5/10

Sinopsis:

INTERROGATION bercerita tentang sebuah ancaman serius yang tengah menghantui sebuah kota. Dimana ancaman tersebut berisikan sebuah peringatan bahaya yang akan menimpa seluruh masyarakat di kota itu jika permintaannya tidak dipenuhi. Kemudian karena berbahayanya ancaman tersebut, FBI selaku pihak keamanan tertinggi menurunkan dua orang ahlinya guna melakukan perundingan dan pencegahan.

Adalah seorang Interogator bernama Lucas Nolan dan rekannya yang merupakan seorang ahli IT. Dimana nantinya Lucas dan rekannya akan membujuk sang pelaku teror guna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mencegah adanya kerusakan yang mungkin terjadi. Meski telah terlatih, namun nyatanya upaya Lucas kali ini tak akan pernah mudah.

2Xz87rfR.jpeg

large-screenshot3.jpg

d25UMTp.png

banner-appwal.jpg

Download Film Interrogation (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 00 Menit - 00 Detik
Ukuran: 252 mb
SS:
intrgation16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_09_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]

Subtitle: br-intrgation-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:T. Emir Fauzy

Tuesday, August 16, 2016

Money Monster (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

money-monsterbr.jpg
movieinfo.png
Released
13 May 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English | Korean | Icelandic
Genres
Crime | Drama | Thriller
Director
Jodie Foster
Writers
Jamie Linden (screenplay), Alan DiFiore (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
George Clooney, Julia Roberts, Jack O'Connell | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.8/10

Review:

Di fitur layar lebar ketika tampil sebagai seorang aktris di depan kamera Jodie Foster merupakan salah satu ahli dalam hal berbicara kepada penonton melalui karakternya, namun ketika ia mencoba duduk di depan layar monitor sebagai sutradara fitur yang ia hasilkan biasa-biasa saja. Home for the Holidays, The Beaver, mereka tidak buruk namun sulit pula untuk dikatakan sebagai kemasan yang benar-benar kuat. Mampir sejenak ke layar televisi dengan menyutradarai Orange Is the New Black serta House of Cards kini Jodie Foster kembali mencoba untuk berbicara sebagai sutradara lewat Money Monster, berkisah tentang praktek bisnis di Wall Street yang ternyata bukan merupakan kemasan drama thriller kelas monster.

Lee Gates (George Clooney) adalah host “Money Monster”, sebuah program televisi yang mencoba memandu penontonnya mengamati dunia perdagangan saham yang berada di bawah kontrol direktur bernama Patty Fenn (Julia Roberts). Suatu ketika seorang pemuda bernama Kyle Budwell (Jack O'Connell) menginvasi Money Monster, membawa pistol dan memaksa Lee Gates untuk mengenakan rompi yang telah berisikan bahan peledak. Kyle kehilangan $ 60.000 pada saham IBIS Clear Capital yang telah disahkan oleh Lee Gates dan dicurigai terjadi akibat kesalahan sistem komputer. Kyle hanya ingin penjelasan tentang uangnya yang hilang tersebut, menghasilkan proses yang ikut melibatkan aparat penegak hukum serta Diane Lester (Caitriona Balfe), IBIS chief communications officer.

Bukankah ketika membaca sinopsis di atas tadi akan mengingatkan kamu pada beberapa film dengan konflik atau isu utama yang sama dan serupa? Ya, bahan materi Money Monster memang sangat familiar, ada dari mereka yang berhasil diolah jadi kemasan menarik tapi tidak sedikit pula yang berakhir buruk. Kombinasi yang Jodie Foster hasilkan di sini tidak buruk terutama pada sisi teknis di mana Jodie Foster tampak mulai lebih terampil dalam memainkan elemen teknis. Banyak gambar dan audio yang digunakan berhasil dikemas dengan efektif oleh Foster, dan di awal hal tersebut ikut mempengaruhi ekspektasi karena meskipun familiar namun bahan cerita film ini punya potensi yang besar untuk menjadi sebuah panggung drama thriller yang menyenangkan, ia bisa menjadi sebuah sindiran pada sisi gelap dunia usaha dan media korporasi. Sayangnya Money Monster tidak menampilkan modus utama yang jelas sehingga skenario jatuh di zona abu-abu.

Jodie Foster tampak berusaha keras untuk membuat agar pesan yang film ini bawa tampak penting, namun cara ia membentuk plot yang semakin jauh kamu melangkah tampak semakin menggelikan menyebabkan misi tersebut gagal dicapai. Cara Money Monster bermain memang selalu menarik hingga akhir tapi cara ia mencoba menjual beberapa isu seperti keserakahan, korupsi, hingga sikap apatis publik dan tanggung jawab media tidak pernah mampu mencapai level believable yang membuat penonton merasa karakter dan cerita di dalam film merupakan sesuatu yang nyata, kemudian merasa peduli pada eksistensi mereka di dalam cerita. Lee Gates, Patty Fenn, Kyle, dan karakter lainnya terasa seperti boneka yang bernyawa di sini, bukan manusia. Pada akhirnya sulit untuk merasa terlibat di dalam “pesta” tentang sisi jahat dari dunia keuangan ini tidak peduli seberapa sering Foster mencoba menghadirkan kejutan yang terasa oke.

Nah, itu alasan mengapa meskipun perlahan mulai menurun daya tariknya dan thrill yang ia berikan tidak pernah terasa maksimal di sisi lain Money Monster juga tidak pernah terasa membosankan, cara ia bermain terasa menarik berkat berbagai kejutan di dalam cerita. Memang tidak semuanya terasa oke namun hal tersebut at least mampu membuat penonton penasaran bagaimana semua masalah itu akan diselesaikan. Seandainya Jodie Foster mampu menjaga fokus cerita menjadi lebih kuat dari yang ia tampilkan di sini bukan tidak mungkin dua minus tadi dapat teratasi dengan mudah. Ya, pergeseran nada cerita yang berat bukan menjadi masalah tapi fokus utama yang tidak kuat selalu berhasil mengganggu. Money Monster kehilangan fokus dengan sangat cepat, alih-alih mengeksplorasi potensi terkait dunia keuangan yang ia punya film ini justru terperangkap dalam rencana sandera Kyle, dan perlahan tampak seperti khotbah tentang bagaimana sengsaranya rakyat kecil akibat pihak-pihak yang memiliki kuasa lebih besar.

Bagaimana dengan kinerja cast? Mereka tampil oke tapi berada di bawah standar yang masing-masing mereka miliki. George Clooney berhasil membuat Lee Gates tampil sebagai pria bergaya sombong namun kurang mampu menarik penonton untuk merasa relatable dengannya. Julia Roberts berhasil menampilkan Patty Fenn sebagai wanita yang tenang dan gigih namun peran dan daya tarik Patty di dalam cerita kurang mampu tampil menggigit. Kyle sebenarnya punya karakteristik yang dapat dilahap Jack O'Connell dengan sangat mudah, namun sebagai korban di dalam cerita ia kurang mampu menarik simpati penonton terhadap permasalahannya. Caitriona Balfe berhasil mencuri perhatian, bintang Outlander ini berhasil menjadi bagian dari “proses” di konflik utama dalam kapasitas yang terasa pas. Menariknya meskipun membawa konflik yang serius Money Monster kerap berusaha menyisipkan komedi, dan itu kurang klik karena sejak awal tujuannya bukan untuk menjadi sebuah drama thriller dengan komedi satir.

Datang dengan misi menjadi sebuah crime thriller tentang sisi gelap praktek bisnis di Wall Street, Money Monster jatuh menjadi sebuah drama dengan rasa dongeng, tidak mampu mengindentifikasi korupsi di dunia keuangan dengan impresi yang "nyata". Sejak awal hingga akhir Jodie Foster memang mampu menampilkan cara bermain yang menarik sehingga Money Monster tidak pernah terasa monoton, namun sebagai sebuah perpaduan thriller dan crime film ini miskin thrill dan sensasi, menggunakan pendekatan langsung yang sayangnya tampil goyah dengan fokus yang lemah sehingga mengakibatkan segala upaya yang ia lakukan terasa seperti sebuah panggung sandiwara di dunia fantasi. Segmented.
Sumber

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

banner-appwal.jpg

Download Film Money Monster (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 39 Detik
Ukuran: 273 mb
SS:
moneymnst16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_08_1

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: br-moneymonster-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:Ibra_Official

Download Film Money Money Monster (2016) BluRay Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 185 mb
SS:
moneymnst16_BRrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/0aikc95nnsai
TF: http://www.tusfiles.net/olrdkdm52id2
UF: http://sht.io/ji49
UI: http://sht.io/ji4a
SF: http://sht.io/ji4b
UP: http://uppit.com/5nsuq9qai8gm

Subtitle: br-moneymonster-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:Ibra_Official

Friday, July 22, 2016

Batman: The Killing Joke (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

brbatmanthe-killing-joke.jpg
movieinfo.png
Released
25 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Animation | Action | Crime | Drama | Thriller
Director
Sam Liu
Writers
Bob Kane (character created by: Batman), Bill Finger (character created by: Batman) | 3 more credits »
Starcast
Mark Hamill, Kari Wahlgren, Tara Strong | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif8.3/10

Sinopsis:

Banyak yang menilai satu-satunya komik Batman terbaik yang pernah ditulis adalah Batman: The Killing Joke. Kini, para penggemar komik bakal bergembira. Pasalnya kisah asal usul sang penjahat itu diadaptasi menjadi sebuah film animasi.

BATMAN: THE KILLING JOKE bercerita tentang perseteruan antara sang manusia kelelawar, Batman dan musuh abadinya Joker. Batman kini tengah melakukan pengejaran terhadap Joker. Sementara itu, Joker bertindak lebih gila dengan menyerang keluarga Gordon yang notabene adalah keluarga dari Batgirl.

Joker menunjukkan titik terendah dalam kehidupan seseorang bisa membuatnya menjadi gila. Joker pun juga ingin menunjukkan bagaimana proses dirinya menjadi gila.

1466116988-BTKJ103583.jpg

Screen-Shot-2016-04-08-at-12.05.43-PM.pn

batman-the-killing-joke-first-image-reve

banner-appwal.jpg

Download Film Batman: The Killing Joke (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 16 Menit - 39 Detik
Ukuran: 228 mb
SS:
batmnkllingjk16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Subtitle: ...wait | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:

Download Film Judul (Tahun) Kualitas Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x
Ukuran: 143 mb
SS:
batmnkllingjk16_BRrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/xt8ms442hofb
TF: http://www.tusfiles.net/xlmymyvvc7xf
UF: http://sht.io/ivi5
UI: http://sht.io/ivi6
SF: http://sht.io/ivi7
UP: http://uppit.com/d11kkz2hehzj


Subtitle: ...wait | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: