I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Sci Fi Movies. Show all posts
Showing posts with label Sci Fi Movies. Show all posts

Monday, April 23, 2018

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Image result

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DeKnight bersama dengan T.S. Nowlin (Maze Runner: The Death Cure, 2017), Emily Carmichael, dan Kira Snyder, jalan cerita Pacific Rim Uprising mengambil latar belakang waktu pengisahan sepuluh tahun semenjak terjadinya Battle of the Breach yang dikisahkan di Pacific Rim. Dikisahkan, Jake Pentecost (John Boyega) – yang merupakan putera dari General Stacker Pentecost (Idris Elba) yang telah meninggal dunia – dipaksa oleh kakak angkatnya, Mako Mori (Rinko Kikuchi), untuk kembali bertugas pada Pan-Pacific Defence Corps sebagai seorang pelatih bagi kadet-kadet muda kesatuan tersebut. Bukan sebuah persoalan mudah. Meskipun memiliki ayah yang telah dianggap sebagai sosok pahlawan bagi kebanyakan manusia di muka Bumi, Jake Pentecost memilih untuk menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Walau menerima “paksaan” sang kakak angkat, Jake Pentecost menjalankan tugasnya dengan malas-malasan. Sikap tersebut bahkan semakin menjadi-jadi setelah Jake Pentecost kembali bertemu dengan saingan terberatnya selama menjadi kadet muda terdahulu, Nate Lambert (Scott Eastwood). Namun, setelah kemunculan sebuah robot asing yang menimbulkan kekacauan besar, Jake Pentecost sadar bahwa kemampuannya diperlukan untuk berjuang dan memperbaiki keadaan.

Genre:  Action, Adventure, Fantasy, Science Fiction



Friday, June 9, 2017

WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO




Released
2 June 2017 (USA)

Country
USA | China | Hong Kong

Language
English | German

Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War

Director
Patty Jenkins

Writers
Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits »

Starcast
Gal GadotChris PineRobin Wright | See full cast & crew »

Rating
Wonder Woman (2017) on IMDb
Review:
Cukup mengherankan untuk melihat baik DC Films maupun Marvel Studios (atau rumah produksi Hollywood lainnya) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya menggarap sebuah film pahlawan super dengan sosok karakter wanita berada di barisan terdepan. Terlebih, film-film bertema pahlawan super tersebut saat ini sedang begitu digemari oleh banyak penikmat film sehingga mampu mendatangkan jutaan penonton – khususnya para penonton wanita. Marvel Studios sebenarnya memiliki kesempatan tersebut ketika mereka memperkenalkan karakter Black Widow yang diperankan Scarlett Johansson pada Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010) dan The Avengers (Joss Whedon, 2012) yang akhirnya kemudian begitu mencuri perhatian. Entah karena masih kurang percaya diri atau merasa karakter Black Widow belum terlalu menjual, ide pembuatan film solo untuk Black Widow akhirnya terkubur dalam hingga saat ini. Johansson sendiri kemudian mampu membuktikan nilai jualnya ketika ia membintangi Lucy (Luc Besson, 2014), Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014), dan Ghost in the Shell (Rupert Sanders, 2017) yang menempatkannya sebagai semacam sosok pahlawan super wanita sekaligus berhasil meraih kesuksesan secara komersial ketika masa perilisannya.
Well… Marvel Studios had their chances and ruined it. Pada tahun 2010, studio pesaingnya, DC Films – yang film-film pahlawan supernya selama ini seringkali menjadi bulan-bulanan para kritikus film dunia selepas trilogi The Dark Knight (2005 – 2012) arahan Christopher Nolan – mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi adaptasi film layar lebar dari Wonder Woman. Setelah mengumumkan bahwa Patty Jenkins (Monster, 2003) akan duduk di kursi penyutradaraan dan Gal Gadot (Fast and Furious 6, 2013) akan berperan sebagai karakter ikonik Diana Prince/Wonder Woman, DC Films kemudian secara resmi memulai proses produksi film di tahun 2015. Reputasi film-film pahlawan super milik DC Films sempat membayangi sekaligus memberikan keraguan pada Wonder Woman. Namun, dengan naskah cerita yang solid dari Allan Heinberg, penampilan yang begitu mengikat dari Gadot sekaligus arahan yang sangat kuat dari Jenkins, Wonder Woman mampu menentang segala ekspektasi terhadapnya. Tidak hanya menjadi film terbaik DC Films semenjak The Dark Knight (Nolan, 2008), Wonder Woman adalah salah satu film pahlawan super terbaik yang pernah dirilis Hollywood hingga saat ini.
Dibuka dengan cuplikan adegan yang sempat muncul dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (Zack Snyder, 2016) – dimana DC Films menghadirkan karakter Diana Prince/Wonder Woman untuk pertama kali, Jenkins memulai Wonder Woman dengan mengajak penonton berkenalan dengan asal usul sang wanita ajaib tersebut. Merupakan puteri dari penguasa kepulauan Themyscira yang merupakan tempat tinggal bagi kaum Amazon, Queen Hippolyta (Connie Nielsen), perkenalan Diana (Gadot) dengan seorang kapten Angkatan Darat Amerika Serikat, Steve Trevor (Chris Pine), kemudian membawanya bertualang jauh dari tanah kelahirannya. Dari informasi yang diberikan Steve Trevor, Diana mengetahui bahwa dunia sedang menghadapi perang besar yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Merasa bahwa peperangan tersebut disebabkan oleh Ares sang Dewa Perang, dan sebagai kaum Amazon yang bertugas untuk menundukkan Ares, Diana lantas bergabung dengan Steve Trevor dan pasukannya demi menghentikan peperangan.
Penampilan Gadot merupakan kunci mengapa karakter Diana Prince/Wonder Woman tampil begitu memikat. Seperti halnya Hugh Jackman yang memerankan James Howlett/Logan/Wolverine atau Robert Downey, Jr. yang memerankan Tony Stark/Iron Man atau Chris Evans yang memerankan Steve Rogers/Captain America, Gadot jelas terlahir untuk memerankan Diana Prince/Wonder Woman. Tidak seperti Black Widow yang tampil seduktif, Diana Prince/Wonder Woman adalah sosok pahlawan super dengan kepribadian yang terasa begitu lugu – mungkin dapat dideskripsikan sebagai versi wanita dari Steve Rogers/Captain America. Gadot mampu merepresentasikan gambaran tersebut dengan kuat. Meskipun dengan penampilan fisik yang sempurna – dan sentuhan lip gloss yang setiap melapisi bibirnya, kharisma Gadot mampu menjadikan karakter yang ia perankan terasa masih begitu membumi, hangat, dan mudah didekati siapa saja. Deskripsi penampilan yang jelas membuat baik Gadot maupun Diana Prince/Wonder Woman akan sangat mudah untuk disukai atau dicintai atau bahkan diidolai oleh siapa saja.
Tentu saja, penampilan Gadot juga merupakan hasil dari pengarahan yang sangat mengagumkan dari Jenkins. Merupakan film kedua Jenkins setelah Monster yang berhasil memenangkan Charlize Theron sebuah Academy Award, Wonder Woman hadir dengan kekuatan penceritaan dan teknikal layaknya film-film bertema sama arahan para sutradara pria namun dengan sentuhan sensitivitas seorang wanita. Kelebihan tersebut begitu terasa pada kemampuan Jenkins untuk menonjolkan kepribadian setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita dan membuat kehadiran mereka terasa begitu esensial, bahkan bagi karakter-karakter dengan jalinan kisah yang minimalis. Hal ini yang membuat pertarungan akhir yang dihadapi Diana Prince/Wonder Woman terasa lebih sebagai sebuah pertarungan ideologis antara dua karakter daripada sebagai sebuah pertarungan untuk menggelorakan penggunaan tata efek visual yang melelahkan seperti yang terjadi dalam adegan pertarungan final pada Batman v Superman: Dawn of Justice.
Perjalanan pengisahan Wonder Woman sendiri bukannya hadir tanpa permasalahan. Dengan karakter Diana Prince/Wonder Woman yang begitu mempesona, karakter-karakter antagonis dalam film ini seringkali terasa kurang begitu memorable. Begitu pula dengan karakter-karakter pendukung yang hadir di sekitaran Diana Prince/Wonder Woman maupun Steve Trevor. Paruh kedua dan ketiga pengisahan film juga memiliki beberapa masalah. Setelah deretan pengenalan karakter dan konflik pada paruh pertama, paruh kedua terasa sedikit hambar dalam pengelolaan ceritanya – meskipun mampu menggali kedalaman hubungan karakter Diana Prince/Wonder Woman dengan Steve Rogers dengan baik. Paruh ketiga yang berisi penyelesaian deretan konflik yang telah dikembangkan pada paruh-paruh pengisahan sebelumnya juga sempat terasa goyah pada beberapa bagian. Meskipun begitu, kelemahan-kelemahan minor tersebut untungnya tidak akan mengurangi kualitas pengisahan Wonder Woman secara keseluruhan yang mampu diproduksi dengan apik.
Berbicara mengenai departemen akting, penampilan Pine sebagai Steve Trevor mampu mendampingi penampilan Gadot dengan baik. Chemistry­-nya yang sangat hangat dengan Gadot membuat hubungan mereka terlihat begitu manis. Chemistry itu pula yang kemudian berhasil menyumbangkan beberapa momen emosional dalam presentasi cerita Wonder Woman. Selain Pine, penampilan-penampilan pendukung dalam film ini hadir dalam kualitas yang solid. Mulai penampilan dari Nielsen dan Robin Wright sebagai dua sosok wanita terdekat bagi karakter Diana Prince/Wonder Woman, David Thewlis, David Huston, Elena Anaya hingga Lucy Davis yang kerap kali berhasil mencuri perhatian. Kualitas penampilan departemen akting yang unggul tersebut yang kemudian berhasil semakin membuat Wonder Woman hadir begitu istimewa. Sebuah pencapaian yang jelas memberikan standar baru (yang cukup tinggi) bagi film-film pahlawan super wanita di masa yang akan datang. An instant classic!

LINK DIJAMIN BISA KARNA SUDAH DIUJI OLEH ADMIN 
FILE SIZE= 348MB
FORMATMP4
LINK
Subtitle: hdts.wonderwoman.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: unickunru

Friday, November 4, 2016

Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo

Hasil gambar untuk doctor strange 
Sinopsis Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.

Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.

Review Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.

Released
26 October 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi
Director
Scott Derrickson
Writers
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit »
Starcast
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew »
Rating
8.0/10

FILE SIZE : 287 MB
MP4
LINK
 [USERCLOUD] 

Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia

Friday, September 30, 2016

Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

star-trek-beyond-2016.jpg
movieinfo.png
Released
22 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Justin Lin
Writers
Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit »
Starcast
Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif7.4/10

Review:

Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.

Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).

Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.

Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.

Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.

Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.

Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.

Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.

Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

banner-appwal.jpg
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4

UCERCLOUD

Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam

Saturday, September 24, 2016

ARQ (2016) WEBRip+Subtitle Indonesia

arq16.jpg
movieinfo.png
Released
16 September 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Sci-Fi | Thriller
Director
Tony Elliott
Writer
Tony Elliott
Starcast
Robbie Amell, Rachael Taylor, Shaun Benson | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.5/10

Sinopsis:

Terperangkap dalam sebuah lab dan terjebak pada putaran waktu, pasangan suami istri tak punya tujuan mencoba mengatur lingkaran waktu saat para penjahat bertopeng mendatangi mereka, dan dalam putaran waktu tertentu, mereka kedatangan robot yang juga menyerang mereka habis-habisan, dan semuanya itu terlihat dalam waktu mundur yang ada dalam pikiran Renton; ada sumber energi baru yang sepertinya bisa menyelamatkan umat manusia.

ARQ.jpg

vlcsnap-2016-09-17-00h06m56s938.png

vlcsnap-2016-09-17-00h07m29s497.png

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: web-arq-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: MoviePrazz

Wednesday, September 7, 2016

Maximum Ride [2016] WEB RiP

Menceritakan tentang petualangan 6 orang anak yang memiliki 2% DNA Burung Mereka yaitu; Max{14tahun} Fang{14tahun} Iggy{14tahun} Nudge{11tahun}Gazzy{18tahun}Dan Angel{6tahun. Mereka berenam merupakan maunusia HYBRID,dan memiliki kemampuan terbang. Mau tau bagaimana Petualang mereka silakan DOWNLOAD DAN TONTON DI HP M!!!!

[SOLIDFILES]

Saturday, July 30, 2016

Transformers: Age of Extinction (2014) BluRay+Subtitle Indonesia

bluray-transformers-age-o.jpg
zvbzx21.png
Released
CountryUSA | China
Language
English
Genre
Director
Michael Bay
Writer
Ehren Kruger
StarcastMark Wahlberg, Nicola Peltz, Jack Reynor | See full cast and crew »
Rating
imdb_icon.gif6.2/10

Ratings: 6,2/10 from 97.262 users   Metascore: 32/100
Reviews: 644 user | 286 critic | 37 from Metacritic.com


Review:

Meskipun tanpa kehadiran Shia LaBeouf, Josh Duhamel, Tyrese Gibson dan Rosie Huntington-Whiteley, seri terbaru dari adaptasi mainan laris Hasbro ini tampaknya masih tidak banyak berubah, semuanya karena sang “dalang” lama masih setia berada di belakang kamera, kembali menghadirkan kehancuran dan keributan yang tidak jauh-jauh dari pendahulunya.

Setelah sempat mengatakan emoh menukangi seri-seri masa depan Transformers pasca Dark of The Moon (Sebelumnya Revange of The Fallen juga), Micahel Bay kembali menjilat ludahnya sendiri. Ya, sepertinya susah buat Bay untuk menahan godaan besar ini sekali lagi, meskipun instalemen ke-empat yang diberi tajuk Age of Extinction ini diproyeksikan sebagai era baru sekaligus reboot halus buat kisah Optimus Prime dan teman-teman Autobots-nya, sekali lagi sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di Age of Extinction.

Ceritanya sendiri bersetting empat tahun setelah insiden pertempuran besar Autobots dan Decepticons di Chicago. Setelah itu semuanya tidak lagi sama, khususnya bagi para alien robot yang kini tidak bisa sembarangan lagi muncul ketika pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Harlod Attinger (Kelsey Grammer) memberlakukan aturan “Cemetery Wind” untuk memburu tidak hanya Decepticons namun juga geng Autobots yang tersisa dan membinasakan mereka untuk selamanya dengan bantuan alien pemburu Transfomers, Lockdown.

Sementara di tempat lain, di pedalaman Texas ada Optimus Prime bersembunyi dengan tenang, tetapi itu tidak lama ketika ilmuwan robot amatir yang juga seorang single father, Cade Yeager (Mark Whalberg) yang tinggal bersama putri tunggalnya, Tessa (Nicola Peltz) menemukan dirinya tanpa sengaja dan memulai segala kekacauan ini.

Dengan lebel “awal baru” buat para robot luar angkasa, seperti yang tertulis di atas sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di sini kecuali jajaran cast manusianya yang dirombak habis dan hanya meninggalkan sang kapten Optimus Prime (masih disuarakan Peter Cullen) dan tangan kanan setianya, si kuning Bumblebee di jajaran para alien robot.

Tentu saja sebagai penonton yang sudah mengecap semua serinya pasti tidak berharap banyak ada sesuatu yang istimewa di Age of Extinction dan memang kenyataan seperti itu. Dengan durasi 165 menit, Age of Extinction menjadi terasa sangat lama, paling lama dibandingkan seri-seri pendahulunya. Subplot percintaanya digantikan dengan hubungan ayah-anak tidak memberi sesuatu yang benar-benar berarti di naskahnya yang masih digarap Ehren Kruger, kualitasnya masih sama dangkalnya, masih sama membosankannya dengan segudang plot hole menganggu.

Dan tidak lupa, selalu ada komedi di sela-sela peperangan para roboat yang untung saja kali ini tidak sampai senorak Dark of The Moon yang seperti ingin menjadi film komedi ketimbang aksi. Tentu saja porsi aksinya tetap didapuk untuk menjadi daya pikat nomor satu. Bay kembali membawa berton-ton bahan peledak yang sudah disiapkan untuk menghadirkan momen-momen aksi spektakuler. Meskipun kali ini kehancuran Chicago tidak sampai separah Dark of The Moon, sekuen demi sekuen pertarungan yang melibatkan para Autobots dan robot-robot muktahir ciptaan Ilmuwan sombong KSI, Joshua Joyce (Stanly Tucci) masih digarap fantastis bersama efek-efek CGI yang sudah di-upgrade lebih canggih dan Hong Kong mendapatkan ‘kehormatan’ untuk diacak-acak Michael Bay bersama bintangnya yang tengah bersinar, Li Bingbing yang didapuk menjadi Su Yueming untuk mengaet penonton negeri tirai bambu yang saat ini sudah mejadi potensi besar box-office luar Amerika.

Tetapi kalau mau jujur aksi-aksi yang terjadi di Age of Extinction sebenarnya sama membosankannya dengan narasinya, tidak ada sesuatu yang memorable, semuanya masih sama berisiknya seperti yang pernah dihadirkan Bay sebelumnya, dan kali ini terasa terlalu lama. Bagian terbaik Age of Extinction dipegang oleh kehadiran para Dinobot yang keren sayang kemunculan para Legendary Knight itu terlalu sebentar. Lalu juga kehadiran Lockdown yang tangguh memberi keasikan teersendiri.
Sumber,

Transformers+Age+of+Extinction+(2014)+im



Transformers-4-Age-of-Extinction-Grimloc





Prekuel
Transformers (2007)
Transformers: Revenge of the Fallen (2009)
  (2011)

Download Film Transformers: Age of Extinction (2014) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 45 Menit - 07 Detik
Ukuran: 387  mb
SS:
Transformers_Age_of_Extinction_2014_Blu_


CLICL LINK
[USERCLOUD]
[TUSFILES]

Subtitle: br-tfagex-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki




Friday, July 22, 2016

Ghostbusters (2016) BLUERAY + Subtitle Indonesia

ghostbusters-ver6.jpg
movieinfo.png
Released
15 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Comedy | Fantasy | Sci-Fi
Director
Paul Feig
Writers
Katie Dippold, Paul Feig | 3 more credits »
Starcast
Melissa McCarthy, Kristen Wiig, Kate McKinnon | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.3/10

Review:

Rasa kaget yang begitu besar muncul ketika melihat gelombang “menolak” yang hadir di trailer reboot Ghostbusters empat bulan yang lalu, hinggatelah mendapat 930.000+ dislike. Kita tahu betapa besar cinta yang diperoleh versi original Ghostbusters tapi apakah menolak secara frontal untuk sebuah “pembaharuan” yang bahkan kita belum tahu baik dan buruknya merupakan sebuah tindakan yang sehat? Memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekuel versi original, ‘Ghostbusters (2016)’ berhasil memberikan punch begitu kuat untuk kaum pesimistis tadi, a bigger and bustier re-imagining to the classic film. Not super legit but pleasantly solid.

Berawal dari usaha untuk menarik buku terkait fenomena paranormal yang pernah ia publikasikan dan kini mengancam reputasinya, Erin Gilbert (Kristen Wiig) bersedia untuk membantu sahabat lamanya Abby Yates (Melissa McCarthy) yang kini sedang melakukan investigasi paranormal bersama Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Investigasi tersebut ternyata membawa Erin Gilbert kembali tertarik pada dunia paranormal dan untuk melanjutkan penelitian bersama Abby dan Jillian mendirikan "Department of the Metaphysical Examination." Berawal dari pekerja subway Patty Tolan (Leslie Jones) yang melihat hantu di jalur kereta pertempuran di antara girls versus ghosts dimulai.

Kota New York sedang berada di bawah serangan para mayat hidup. Who you gonna call? Yeah, Ghostbusters! Menjadi target cemoohan lengkap dengan berbagai argumen hingga komentar miring dengan sikap politik dan membawa isu feminisme, Ghostbusters berhasil menjawab mereka semua dengan menyajikan sebuah supernatural comedy yang menyenangkan. Paul Feig (Bridesmaids, The Heat, Spy) cermat dan cerdik dalam meramu kembali cerita bersama Katie Dippold, semua rasa cemas calon penonton setelah menyaksikan trailer hilang ketika Abby dan tiga sahabatnya itu mulai beraksi. Mengapa? Karena ‘Ghostbusters’ tidak hanya terasa seperti sekedar reboot belaka, sebuah komedi yang berhasil tampil lucu dalam gerak cepat namun memiliki hati yang menarik terkait beberapa topik menarik seperti persahabatan, namun ini juga terasa seperti sebuah re-imagining dengan sentuhan modifikasi yang manis dan tepat guna.

Sekali lagi, versi original Ghostbusters merupakan sebuah film klasik yang “manis” tapi ketika menyaksikan film ini versi original tersebut jarang tampil "mencuri" atensi di pikiran penonton secara berlebihan. Bagaimana bisa? Karena film ini tidak mencoba menyaingi bahkan mengalahkan versi originalnya. Ini seperti sebuah penghormatan kepada versi original dengan menggunakan empat karakter wanita. Sejak berkembang dari sinopsis kita masuk kedalam sebuah “dunia” baru pertempuran manusia melawan hantu, banyak menghadirkan referensi namun Paul Feig membawa ini untuk berjalan di petualangan mereka sendiri, menghadapi ancaman supranatural dengan carefree manner yang menarik untuk diikuti. Komedi memang terhitung sering mencuri posisi terdepan dari elemen supranatural tapi dinamika dan pesona cerita serta karakter terasa stabil, banter mereka cukup asyik dan kamu seolah menjadi anggota kelima di dalam tim.

Hasilnya topik utama terkait persahabatan jadi terasa impresif. Tentu saja banyak hantu di sana sini tapi fokus penonton terus terpaku pada persahabatan empat karakter utama yang terasa memikat, tanpa drama berlebihan dan lebih mengandalkan humor. Para hantu juga tidak kalah oke dibandingkan karakter manusia, itu mengapa pertempuran ini terasa seimbang. Visual efek berhasil menciptakan fantasi yang manis, para hantu tampil dengan esensi yang pas dengan tujuan yang ingin dicapai film ini, mampu mengintimidasi tapi tidak merusak usaha dari komedi. Special note juga berasal dari visual. Secara mengejutkan Ghostbusters ternyata juga merupakan sajian visual experience, kesan “kaya” yang dimiliki visual Ghostbusters terasa cool dan menyenangkan, visual juga digunakan oleh Paul Feig untuk menambah kedalaman nada cerita serta membantu narasi bercerita. Disarankan untuk menonton film ini di format 3D atau versi IMAX 3D, it’s one of the best 3D film.

Lalu apa kekurangan Ghostbusters? Film ini terasa begitu mengikat sejak awal hingga akhir tapi ia juga tidak luput dari beberapa minus yang sebenarnya tidak semua dari mereka mampu merusak kenikmatan yang ia tampilkan. Energi Ghostbusters terasa oke tapi sebelum masuk ke paruh kedua durasi harus diakui naskah di beberapa bagian terasa goyah. Dengan begitu mengandalkan karakter untuk meraih atensi penonton penting pula bagi penonton untuk merasa “dekat” dengan karakter, jika tidak maka cengkeraman dari petualangan mereka akan terasa biasa bahkan terasa lemah. Karakter hantu terasa memikat tapi karakter antagonis manusia terasa, well, kurang menggigit. Dampaknya cukup signifikan karena taruhan dari pertempuran antara girls versus ghosts ini tidak pernah mencapai titik maksimal meskipun hal tersebut tertutupi dengan cukup rapi oleh energi komik dari empat karakter utama.

Dasar dari karakter masih bersandar pada versi originalnya namun ditampilkan dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya “manja.” Kristen Wiig berhasil menampilkan "kejengkelan" yang dimiliki Erin Gilbert dengan baik, Melissa McCarthy mampu membentuk Abby Yates menjadi karakter agresif yang menarik, sedangkan Leslie Jones terasa seperti karakter Anger di Inside Out. Sebagai sebuah tim ensemble mereka terasa tangguh tapi ada satu karakter yang berhasil tampil sedikit lebih menonjol. Dia adalah Jillian Holtzmann, diperankan dengan sangat baik oleh Kate McKinnon. Jillian Holtzmann merupakan karakter yang unik dan mampu konsisten mencuri perhatian, ia seperti punya energi nakal dan liar yang membuat penonton merasa apa yang ia lakukan tidak hanya lucu tapi juga keren. Oh, Chris Hemsworth! Memberikan kinerja yang terasa santai Thor punya momen yang mampu ia manfaatkan dengan baik.

Sejak awal Ghostbusters tidak mencoba menyaingi versi original, dengan hormat meminjam format untuk membangun “dunia” baru bagi pertempuran wanita melawan hantu. Paul Feig membentuk spirit dan formula lengkap dengan “kebisingan” dari versi original menjadi sebuah petualangan lucu yang tidak lupa untuk tampil mengintimidasi. Berayun penuh variasi dengan percaya diri tinggi, Ghostbusters memang tidak superb namun dengan visual yang memikat serta cerita dan karakter yang konsisten terasa menarik ini berhasil menjadi kombinasi komedi dan fantasi yang menyenangkan. A pleasantly solid fantasy comedy, it’s a pleasure hanging out with these characters.
Sumber

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

banner-appwal.jpg

Download Film Ghostbusters (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 55 Menit - 27 Detik
Ukuran: 305 mb
SS:
ghsbstr16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_2016_07_2

Download Single Link:
download-button.gif
USERCLOUD

Subtitle: brext-ghssbstr-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng






Thursday, June 30, 2016

The Divergent Series: Allegiant (2016) Part 1 BluRay+Subtitle Indonesia

allegiant16br.jpg
movieinfo.png
Released
18 March 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Adventure | Mystery | Sci-Fi | Thriller
Director
Robert Schwentke
Writers
Noah Oppenheim (screenplay), Adam Cooper (screenplay) | 2 more credits »
Starcast
Shailene Woodley, Theo James, Jeff Daniels | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.0/10

Review:

Ketika muncul dua tahun lalu film Divergent mengusung misi untuk memanfaatkan “panas” dari adaptasi novel young adult ke layar lebar, namun alih-alih berdiri tegak dan bersanding bersama The Hunger Games kala itu yang dialami oleh Divergent justru menyedihkan. Dengan keunikan cerita yang ia miliki Divergent menjadi start yang terlalu lembut, Insurgent meneruskannya dengan eksekusi yang canggung miskin urgensi dan energi, dan film pertama dari dua babak adaptasi buku terakhir, The Divergent Series: Allegiant, seperti sebuah bendera putih tanda menyerah. Seperti sebuah ucapan Four kepada Tris, “We need to leave, RIGHT NOW!”

Masyarakat Chicago punya kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik setelah muncul "tawaran" untuk dapat melintasi dinding yang selama ini memenjarakan mereka. Namun Evelyn (Naomi Watts) menolak hal tersebut yang kemudian menyebabkan kekacauan meledak setelah ia berniat mengeksekusi mantan pemimpin kota dan militer, Johanna (Octavia Spencer). Tris (Shailene Woodley) bersama Four (Theo James), Christina (Zoe Kravitz), Peter (Miles Teller), dan Caleb (Ansel Elgort) memutuskan untuk memilih untuk melarikan diri dari Chicago, masuk ke dalam sebuah gurun dan bertemu dengan Biro Kesejahteraan Genetik di bawah pimpinan David (Jeff Daniels), sosok yang juga memberikan kejutan bagi Tris dan teman-temannya terkait fakta sesungguhnya di balik eksistensi masyarakat berbasis faksi di Chicago.

Berani tapi tidak bertanggung jawab adalah kalimat paling tepat untuk film ini, ia mencoba memberikan sesuatu yang berbeda tapi tidak dibentuk dengan serius. Kesan pertama yang dirasakan ketika Allegiant berakhir adalah ini seperti ajang ujicoba untuk menciptakan “ledakan” yang di dua film awal terasa sangat kurang menggigit. Bagus memang usaha tersebut tapi ujicoba itu tampil dalam wujud asal jadi, sejak sinopsis semua tempil dengan kesan terburu-buru. Kamu bisa melihat usaha dari Robert Schwentke untuk menjaga laju dari konflik yang telah terbentuk di Insurgent, kamu juga akan menemukan beberapa “elemen” baru di sektor cerita, dua hal yang pada dasarnya merupakan hal positif. Lalu mengapa itu berakhir menjadi hal negatif? Satu alasan yang paling mengganggu adalah Allegiant justru “mengubah” arah dan image Divergent.

Novel Allegiant sebenarnya punya materi yang menarik, itu pula alasan mengapa niat untuk melempar bendera putih pada series ini tidak terwujud apalagi dengan masuknya Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower) sebagai penulis screenplay, yang at least membuka peluang pada kisah cinta antara Tris dan Four yang lesu itu untuk berubah arah. Nah, yang terasa aneh adalah keputusan Allegiant mengubah arah cerita yang secara langsung telah melukai usaha dua film terdahulu, usaha mereka membangun dunia dystopia lengkap dengan semua sistem “kelompok” sosial itu. Mayoritas ditinggalkan, pergeseran yang drastis hadir dan konflik yang sebelumnya telah terbentuk walaupun tidak kuat itu ikut mengalami perubahan dinamika dari pusat hingga ke sekelilingnya. Dampaknya? Allegiant seperti mencoba untuk memulai sesuatu yang baru.

Memberikan modifikasi pada cerita bukan hal yang tabu memang bagi sebuah film adaptasi, beberapa sentuhan kecil dapat dicoba untuk menutup sisi lemah yang dimiliki sumber bahannya. Allegiant melakukan itu tapi tidak dengan sentuhan kecil, modifikasi meninggalkan penonton yang membaca buku dengan perasaan aneh karena begitu banyak hal baru yang benar-benar berbeda. Oh, penonton non-reader juga akan mengalami hal serupa karena bukan hanya di plot namun pengembangan karakter memperoleh dampak negatif pula dari ulah Allegiant yang tidak memajukan apa yang telah dihasilkan oleh Insurgent dan gagal menciptakan semangat baru di dunia baru. Ya, memang cerita dan dunia baru mengalami perkembangan namun semangat cerita masih sama, usaha Allegiant untuk berubah sehingga dapat menghasilkan “ledakan” kembali gagal tercapai.

Terdapat banyak aturan baru di Allegiant, ini bukan sekedar boss lama mati lalu boss baru muncul, terdapat lokasi dan ide baru yang harus dibangun dan dijelaskan termasuk intrik baru di dalam konflik. Dua tugas tadi tidak berhasil ditangani dengan baik, mereka jatuh datar termasuk di dalamnya hal lama seperti kisah cinta antara Tris dan Four yang semakin melelahkan. Seperti sadar tidak berhasil membangun materi baru dengan meyakinkan Allegiant mencoba menyajikan “kebisingan” agar cerita tidak terasa hening dengan menggunakan elemen action sequences, untung saja kuantitas elemen action yang tampil efektif terasa cukup oke walaupun tidak sedikit pula yang terasa canggung. Kinerja cast juga kurang maksimal, mereka aktor dan aktris berbakat namun seolah ada rasa bingung dan tidak yakin pada penyampaian emosi yang mereka lakukan.

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh The Divergent Series: Allegiant untuk membawa cerita dan karakter menuju arah yang lebih baik, tapi sayangnya tindakan berani untuk tampil beda ternyata tidak dibentuk dengan hasil yang bertanggung jawab. Tidak perlu menunggu sampai Ascendant sebenarnya karena film ini bisa menjadi penutup series tapi sepertinya masih banyak hal baru yang ingin series ini sampaikan walaupun telah "meninggalkan" faksi yang jadi pesona utamanya, berputar-putar dengan romansa miskin pesona, dan yang paling menjengkelkan Allegiant tidak hanya mengaburkan “dunia” Tris dan teman-temannya namun juga telah membuat tujuan awal series ini menjadi tidak jelas. Divergent series seharusnya menjadi kisah tentang sekelompok anak muda yang “berbeda” dan memiliki semangat tinggi serta tidak takut berjuang untuk menciptakan perubahan, tapi Allegiant mengubah itu menjadi sekelompok anak ayam yang kehilangan induk mereka.
Sumber

The%2BDivergent%2BSeries%2BAllegiant%2B%

The%2BDivergent%2BSeries%2BAllegiant%2B%

The%2BDivergent%2BSeries%2BAllegiant%2B%
banner-appwal.jpg

Download Film The Divergent Series: Allegiant (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 00 Menit - 33 Detik
Ukuran: 348 mb
SS:
algiant16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_06_30_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Subtitle: br-algiant-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki

Download Film The Divergent Series: Allegiant (2016) BluRay Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 227 mb
SS:
algiant16_BRrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: uploading...
TF: uploading...
UF: uploading...
UI: uploading...
SF: uploading...
UP: uploading...


Subtitle: br-algiant-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki

Saturday, June 11, 2016

Cell (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

cell-2016.jpg
movieinfo.png
Released
10 June 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Horror | Sci-Fi | Thriller
Director
Tod Williams
Writers
Adam Alleca (screenplay), Stephen King (based on the novel by) | 1 more credit »
Starcast
Owen Teague, Samuel L. Jackson, John Cusack | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.6/10

Sinopsis:

CELL bercerita tentang sebuah sinyal misterius yang tiba-tiba mengubah setiap orang menjadi brutal dan tidak terkendali. Di tengah pesatnya indrusti telepon genggam, hampir setiap orang memiliki alat komunikasi tersebut. Tak terkecuali seorang pria bernama Clay Riddell. Clay adalah seorang artis yang dituntut untuk selalu bisa dihubungi kapanpun.

Hingga suatu hari, Clay mendapati bahwa sinyal yang selama ini digunakan berubah secara misterius. Segera sinyal tersebut mengubah setiap orang menjadi sosok pembunuh yang haus akan darah. Pembunuhan besar-besaran pun segera terjadi di tempat tinggalnya.

Namun tidak semua orang berubah, salah satunya adalah Clay. Kini Clay dan beberapa orang yang tidak berubah harus berusaha menyelamatkan diri mereka dari para pembunuh tersebut. Disisi lain, Clay juga harus menyelamatkan anaknya.

cell-3-e1452689904389.png

image.jpg

93b2acd5ed1f393f11754e992f512dd4af9e2595

banner-appwal.jpg

Download Film Cell (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 03 Detik
Ukuran: 283 mb
SS:
cell16_DLrmcmv_mp4_thumbs_2016_06_11_09_

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/iww4psq6934c
TF: http://www.tusfiles.net/q6b2j5bny6yi
UF: http://sht.io/hjal
UI: http://sht.io/hjam
SF: http://sht.io/hjao
UP: uploading...

Subtitle: dl-cell-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:EveryAgent

Download Film Cell (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 184 mb
SS:
cell16_DLrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/843fyb3hue1z
TF: http://www.tusfiles.net/1u2ltoqr3e8v
UF: http://sht.io/hjas
UI: http://sht.io/hjat
SF: http://sht.io/hjau
UP: http://uppit.com/4xyyxle5kxcv


Subtitle: dl-cell-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:EveryAgent