This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Monday, April 23, 2018
Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Friday, June 9, 2017
WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO

Released | 2 June 2017 (USA) |
Country | USA | China | Hong Kong |
Language | English | German |
Genres | Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War |
Director | Patty Jenkins |
Writers | Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits » |
Starcast | Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright | See full cast & crew » |
Rating |
Friday, November 4, 2016
Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo
Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.
Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.
Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.
Released
|
26 October 2016 (Indonesia) |
| Country | USA |
Language
|
English |
Genres
|
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi |
Director
|
Scott Derrickson |
Writers
|
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit » |
Starcast
|
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew » |
| Rating |
Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia
Friday, September 30, 2016
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia
Released | 22 July 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genres | Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller |
Director | Justin Lin |
Writers | Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit » |
Starcast | Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.
Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).
Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.
Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.
Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.
Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.
Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.
Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.
Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.
Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber



Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4
UCERCLOUD
Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam
Saturday, September 24, 2016
ARQ (2016) WEBRip+Subtitle Indonesia
Released | 16 September 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genres | Sci-Fi | Thriller |
Director | Tony Elliott |
Writer | Tony Elliott |
Starcast | Robbie Amell, Rachael Taylor, Shaun Benson | See full cast & crew » |
| Rating |
Sinopsis:
Terperangkap dalam sebuah lab dan terjebak pada putaran waktu, pasangan suami istri tak punya tujuan mencoba mengatur lingkaran waktu saat para penjahat bertopeng mendatangi mereka, dan dalam putaran waktu tertentu, mereka kedatangan robot yang juga menyerang mereka habis-habisan, dan semuanya itu terlihat dalam waktu mundur yang ada dalam pikiran Renton; ada sumber energi baru yang sepertinya bisa menyelamatkan umat manusia.
LINK
UCERCLOUD
Subtitle: web-arq-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: MoviePrazz
Wednesday, September 7, 2016
Maximum Ride [2016] WEB RiP
Menceritakan tentang petualangan 6 orang anak yang memiliki 2% DNA Burung Mereka yaitu; Max{14tahun} Fang{14tahun} Iggy{14tahun} Nudge{11tahun}Gazzy{18tahun}Dan Angel{6tahun. Mereka berenam merupakan maunusia HYBRID,dan memiliki kemampuan terbang. Mau tau bagaimana Petualang mereka silakan DOWNLOAD DAN TONTON DI HP M!!!!
[SOLIDFILES]
Saturday, July 30, 2016
Transformers: Age of Extinction (2014) BluRay+Subtitle Indonesia
Released | |
| Country | USA | China |
Language | English |
Genre | |
Director | Michael Bay |
Writer | Ehren Kruger |
| Starcast | Mark Wahlberg, Nicola Peltz, Jack Reynor | See full cast and crew » |
| Rating | Ratings: 6,2/10 from 97.262 users Metascore: 32/100 Reviews: 644 user | 286 critic | 37 from Metacritic.com |
Review:
Meskipun tanpa kehadiran Shia LaBeouf, Josh Duhamel, Tyrese Gibson dan Rosie Huntington-Whiteley, seri terbaru dari adaptasi mainan laris Hasbro ini tampaknya masih tidak banyak berubah, semuanya karena sang “dalang” lama masih setia berada di belakang kamera, kembali menghadirkan kehancuran dan keributan yang tidak jauh-jauh dari pendahulunya.
Setelah sempat mengatakan emoh menukangi seri-seri masa depan Transformers pasca Dark of The Moon (Sebelumnya Revange of The Fallen juga), Micahel Bay kembali menjilat ludahnya sendiri. Ya, sepertinya susah buat Bay untuk menahan godaan besar ini sekali lagi, meskipun instalemen ke-empat yang diberi tajuk Age of Extinction ini diproyeksikan sebagai era baru sekaligus reboot halus buat kisah Optimus Prime dan teman-teman Autobots-nya, sekali lagi sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di Age of Extinction.
Ceritanya sendiri bersetting empat tahun setelah insiden pertempuran besar Autobots dan Decepticons di Chicago. Setelah itu semuanya tidak lagi sama, khususnya bagi para alien robot yang kini tidak bisa sembarangan lagi muncul ketika pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Harlod Attinger (Kelsey Grammer) memberlakukan aturan “Cemetery Wind” untuk memburu tidak hanya Decepticons namun juga geng Autobots yang tersisa dan membinasakan mereka untuk selamanya dengan bantuan alien pemburu Transfomers, Lockdown.
Sementara di tempat lain, di pedalaman Texas ada Optimus Prime bersembunyi dengan tenang, tetapi itu tidak lama ketika ilmuwan robot amatir yang juga seorang single father, Cade Yeager (Mark Whalberg) yang tinggal bersama putri tunggalnya, Tessa (Nicola Peltz) menemukan dirinya tanpa sengaja dan memulai segala kekacauan ini.
Dengan lebel “awal baru” buat para robot luar angkasa, seperti yang tertulis di atas sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di sini kecuali jajaran cast manusianya yang dirombak habis dan hanya meninggalkan sang kapten Optimus Prime (masih disuarakan Peter Cullen) dan tangan kanan setianya, si kuning Bumblebee di jajaran para alien robot.
Tentu saja sebagai penonton yang sudah mengecap semua serinya pasti tidak berharap banyak ada sesuatu yang istimewa di Age of Extinction dan memang kenyataan seperti itu. Dengan durasi 165 menit, Age of Extinction menjadi terasa sangat lama, paling lama dibandingkan seri-seri pendahulunya. Subplot percintaanya digantikan dengan hubungan ayah-anak tidak memberi sesuatu yang benar-benar berarti di naskahnya yang masih digarap Ehren Kruger, kualitasnya masih sama dangkalnya, masih sama membosankannya dengan segudang plot hole menganggu.
Dan tidak lupa, selalu ada komedi di sela-sela peperangan para roboat yang untung saja kali ini tidak sampai senorak Dark of The Moon yang seperti ingin menjadi film komedi ketimbang aksi. Tentu saja porsi aksinya tetap didapuk untuk menjadi daya pikat nomor satu. Bay kembali membawa berton-ton bahan peledak yang sudah disiapkan untuk menghadirkan momen-momen aksi spektakuler. Meskipun kali ini kehancuran Chicago tidak sampai separah Dark of The Moon, sekuen demi sekuen pertarungan yang melibatkan para Autobots dan robot-robot muktahir ciptaan Ilmuwan sombong KSI, Joshua Joyce (Stanly Tucci) masih digarap fantastis bersama efek-efek CGI yang sudah di-upgrade lebih canggih dan Hong Kong mendapatkan ‘kehormatan’ untuk diacak-acak Michael Bay bersama bintangnya yang tengah bersinar, Li Bingbing yang didapuk menjadi Su Yueming untuk mengaet penonton negeri tirai bambu yang saat ini sudah mejadi potensi besar box-office luar Amerika.
Tetapi kalau mau jujur aksi-aksi yang terjadi di Age of Extinction sebenarnya sama membosankannya dengan narasinya, tidak ada sesuatu yang memorable, semuanya masih sama berisiknya seperti yang pernah dihadirkan Bay sebelumnya, dan kali ini terasa terlalu lama. Bagian terbaik Age of Extinction dipegang oleh kehadiran para Dinobot yang keren sayang kemunculan para Legendary Knight itu terlalu sebentar. Lalu juga kehadiran Lockdown yang tangguh memberi keasikan teersendiri.
Sumber,
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 45 Menit - 07 Detik
Ukuran: 387 mb
SS:
CLICL LINK
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
Subtitle: br-tfagex-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki
Friday, July 22, 2016
Ghostbusters (2016) BLUERAY + Subtitle Indonesia
Released | 15 July 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genres | Comedy | Fantasy | Sci-Fi |
Director | Paul Feig |
Writers | Katie Dippold, Paul Feig | 3 more credits » |
Starcast | Melissa McCarthy, Kristen Wiig, Kate McKinnon | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Rasa kaget yang begitu besar muncul ketika melihat gelombang “menolak” yang hadir di trailer reboot Ghostbusters empat bulan yang lalu, hinggatelah mendapat 930.000+ dislike. Kita tahu betapa besar cinta yang diperoleh versi original Ghostbusters tapi apakah menolak secara frontal untuk sebuah “pembaharuan” yang bahkan kita belum tahu baik dan buruknya merupakan sebuah tindakan yang sehat? Memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekuel versi original, ‘Ghostbusters (2016)’ berhasil memberikan punch begitu kuat untuk kaum pesimistis tadi, a bigger and bustier re-imagining to the classic film. Not super legit but pleasantly solid.
Berawal dari usaha untuk menarik buku terkait fenomena paranormal yang pernah ia publikasikan dan kini mengancam reputasinya, Erin Gilbert (Kristen Wiig) bersedia untuk membantu sahabat lamanya Abby Yates (Melissa McCarthy) yang kini sedang melakukan investigasi paranormal bersama Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Investigasi tersebut ternyata membawa Erin Gilbert kembali tertarik pada dunia paranormal dan untuk melanjutkan penelitian bersama Abby dan Jillian mendirikan "Department of the Metaphysical Examination." Berawal dari pekerja subway Patty Tolan (Leslie Jones) yang melihat hantu di jalur kereta pertempuran di antara girls versus ghosts dimulai.
Kota New York sedang berada di bawah serangan para mayat hidup. Who you gonna call? Yeah, Ghostbusters! Menjadi target cemoohan lengkap dengan berbagai argumen hingga komentar miring dengan sikap politik dan membawa isu feminisme, Ghostbusters berhasil menjawab mereka semua dengan menyajikan sebuah supernatural comedy yang menyenangkan. Paul Feig (Bridesmaids, The Heat, Spy) cermat dan cerdik dalam meramu kembali cerita bersama Katie Dippold, semua rasa cemas calon penonton setelah menyaksikan trailer hilang ketika Abby dan tiga sahabatnya itu mulai beraksi. Mengapa? Karena ‘Ghostbusters’ tidak hanya terasa seperti sekedar reboot belaka, sebuah komedi yang berhasil tampil lucu dalam gerak cepat namun memiliki hati yang menarik terkait beberapa topik menarik seperti persahabatan, namun ini juga terasa seperti sebuah re-imagining dengan sentuhan modifikasi yang manis dan tepat guna.
Sekali lagi, versi original Ghostbusters merupakan sebuah film klasik yang “manis” tapi ketika menyaksikan film ini versi original tersebut jarang tampil "mencuri" atensi di pikiran penonton secara berlebihan. Bagaimana bisa? Karena film ini tidak mencoba menyaingi bahkan mengalahkan versi originalnya. Ini seperti sebuah penghormatan kepada versi original dengan menggunakan empat karakter wanita. Sejak berkembang dari sinopsis kita masuk kedalam sebuah “dunia” baru pertempuran manusia melawan hantu, banyak menghadirkan referensi namun Paul Feig membawa ini untuk berjalan di petualangan mereka sendiri, menghadapi ancaman supranatural dengan carefree manner yang menarik untuk diikuti. Komedi memang terhitung sering mencuri posisi terdepan dari elemen supranatural tapi dinamika dan pesona cerita serta karakter terasa stabil, banter mereka cukup asyik dan kamu seolah menjadi anggota kelima di dalam tim.
Hasilnya topik utama terkait persahabatan jadi terasa impresif. Tentu saja banyak hantu di sana sini tapi fokus penonton terus terpaku pada persahabatan empat karakter utama yang terasa memikat, tanpa drama berlebihan dan lebih mengandalkan humor. Para hantu juga tidak kalah oke dibandingkan karakter manusia, itu mengapa pertempuran ini terasa seimbang. Visual efek berhasil menciptakan fantasi yang manis, para hantu tampil dengan esensi yang pas dengan tujuan yang ingin dicapai film ini, mampu mengintimidasi tapi tidak merusak usaha dari komedi. Special note juga berasal dari visual. Secara mengejutkan Ghostbusters ternyata juga merupakan sajian visual experience, kesan “kaya” yang dimiliki visual Ghostbusters terasa cool dan menyenangkan, visual juga digunakan oleh Paul Feig untuk menambah kedalaman nada cerita serta membantu narasi bercerita. Disarankan untuk menonton film ini di format 3D atau versi IMAX 3D, it’s one of the best 3D film.
Lalu apa kekurangan Ghostbusters? Film ini terasa begitu mengikat sejak awal hingga akhir tapi ia juga tidak luput dari beberapa minus yang sebenarnya tidak semua dari mereka mampu merusak kenikmatan yang ia tampilkan. Energi Ghostbusters terasa oke tapi sebelum masuk ke paruh kedua durasi harus diakui naskah di beberapa bagian terasa goyah. Dengan begitu mengandalkan karakter untuk meraih atensi penonton penting pula bagi penonton untuk merasa “dekat” dengan karakter, jika tidak maka cengkeraman dari petualangan mereka akan terasa biasa bahkan terasa lemah. Karakter hantu terasa memikat tapi karakter antagonis manusia terasa, well, kurang menggigit. Dampaknya cukup signifikan karena taruhan dari pertempuran antara girls versus ghosts ini tidak pernah mencapai titik maksimal meskipun hal tersebut tertutupi dengan cukup rapi oleh energi komik dari empat karakter utama.
Dasar dari karakter masih bersandar pada versi originalnya namun ditampilkan dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya “manja.” Kristen Wiig berhasil menampilkan "kejengkelan" yang dimiliki Erin Gilbert dengan baik, Melissa McCarthy mampu membentuk Abby Yates menjadi karakter agresif yang menarik, sedangkan Leslie Jones terasa seperti karakter Anger di Inside Out. Sebagai sebuah tim ensemble mereka terasa tangguh tapi ada satu karakter yang berhasil tampil sedikit lebih menonjol. Dia adalah Jillian Holtzmann, diperankan dengan sangat baik oleh Kate McKinnon. Jillian Holtzmann merupakan karakter yang unik dan mampu konsisten mencuri perhatian, ia seperti punya energi nakal dan liar yang membuat penonton merasa apa yang ia lakukan tidak hanya lucu tapi juga keren. Oh, Chris Hemsworth! Memberikan kinerja yang terasa santai Thor punya momen yang mampu ia manfaatkan dengan baik.
Sejak awal Ghostbusters tidak mencoba menyaingi versi original, dengan hormat meminjam format untuk membangun “dunia” baru bagi pertempuran wanita melawan hantu. Paul Feig membentuk spirit dan formula lengkap dengan “kebisingan” dari versi original menjadi sebuah petualangan lucu yang tidak lupa untuk tampil mengintimidasi. Berayun penuh variasi dengan percaya diri tinggi, Ghostbusters memang tidak superb namun dengan visual yang memikat serta cerita dan karakter yang konsisten terasa menarik ini berhasil menjadi kombinasi komedi dan fantasi yang menyenangkan. A pleasantly solid fantasy comedy, it’s a pleasure hanging out with these characters.
Sumber



Download Film Ghostbusters (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 55 Menit - 27 Detik
Ukuran: 305 mb
SS:
Download Single Link:
USERCLOUD
Subtitle: brext-ghssbstr-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng
Thursday, June 30, 2016
The Divergent Series: Allegiant (2016) Part 1 BluRay+Subtitle Indonesia
Released | 18 March 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genre | Action | Adventure | Mystery | Sci-Fi | Thriller |
Director | Robert Schwentke |
Writers | Noah Oppenheim (screenplay), Adam Cooper (screenplay) | 2 more credits » |
Starcast | Shailene Woodley, Theo James, Jeff Daniels | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Ketika muncul dua tahun lalu film Divergent mengusung misi untuk memanfaatkan “panas” dari adaptasi novel young adult ke layar lebar, namun alih-alih berdiri tegak dan bersanding bersama The Hunger Games kala itu yang dialami oleh Divergent justru menyedihkan. Dengan keunikan cerita yang ia miliki Divergent menjadi start yang terlalu lembut, Insurgent meneruskannya dengan eksekusi yang canggung miskin urgensi dan energi, dan film pertama dari dua babak adaptasi buku terakhir, The Divergent Series: Allegiant, seperti sebuah bendera putih tanda menyerah. Seperti sebuah ucapan Four kepada Tris, “We need to leave, RIGHT NOW!”
Masyarakat Chicago punya kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik setelah muncul "tawaran" untuk dapat melintasi dinding yang selama ini memenjarakan mereka. Namun Evelyn (Naomi Watts) menolak hal tersebut yang kemudian menyebabkan kekacauan meledak setelah ia berniat mengeksekusi mantan pemimpin kota dan militer, Johanna (Octavia Spencer). Tris (Shailene Woodley) bersama Four (Theo James), Christina (Zoe Kravitz), Peter (Miles Teller), dan Caleb (Ansel Elgort) memutuskan untuk memilih untuk melarikan diri dari Chicago, masuk ke dalam sebuah gurun dan bertemu dengan Biro Kesejahteraan Genetik di bawah pimpinan David (Jeff Daniels), sosok yang juga memberikan kejutan bagi Tris dan teman-temannya terkait fakta sesungguhnya di balik eksistensi masyarakat berbasis faksi di Chicago.
Berani tapi tidak bertanggung jawab adalah kalimat paling tepat untuk film ini, ia mencoba memberikan sesuatu yang berbeda tapi tidak dibentuk dengan serius. Kesan pertama yang dirasakan ketika Allegiant berakhir adalah ini seperti ajang ujicoba untuk menciptakan “ledakan” yang di dua film awal terasa sangat kurang menggigit. Bagus memang usaha tersebut tapi ujicoba itu tampil dalam wujud asal jadi, sejak sinopsis semua tempil dengan kesan terburu-buru. Kamu bisa melihat usaha dari Robert Schwentke untuk menjaga laju dari konflik yang telah terbentuk di Insurgent, kamu juga akan menemukan beberapa “elemen” baru di sektor cerita, dua hal yang pada dasarnya merupakan hal positif. Lalu mengapa itu berakhir menjadi hal negatif? Satu alasan yang paling mengganggu adalah Allegiant justru “mengubah” arah dan image Divergent.
Novel Allegiant sebenarnya punya materi yang menarik, itu pula alasan mengapa niat untuk melempar bendera putih pada series ini tidak terwujud apalagi dengan masuknya Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower) sebagai penulis screenplay, yang at least membuka peluang pada kisah cinta antara Tris dan Four yang lesu itu untuk berubah arah. Nah, yang terasa aneh adalah keputusan Allegiant mengubah arah cerita yang secara langsung telah melukai usaha dua film terdahulu, usaha mereka membangun dunia dystopia lengkap dengan semua sistem “kelompok” sosial itu. Mayoritas ditinggalkan, pergeseran yang drastis hadir dan konflik yang sebelumnya telah terbentuk walaupun tidak kuat itu ikut mengalami perubahan dinamika dari pusat hingga ke sekelilingnya. Dampaknya? Allegiant seperti mencoba untuk memulai sesuatu yang baru.
Memberikan modifikasi pada cerita bukan hal yang tabu memang bagi sebuah film adaptasi, beberapa sentuhan kecil dapat dicoba untuk menutup sisi lemah yang dimiliki sumber bahannya. Allegiant melakukan itu tapi tidak dengan sentuhan kecil, modifikasi meninggalkan penonton yang membaca buku dengan perasaan aneh karena begitu banyak hal baru yang benar-benar berbeda. Oh, penonton non-reader juga akan mengalami hal serupa karena bukan hanya di plot namun pengembangan karakter memperoleh dampak negatif pula dari ulah Allegiant yang tidak memajukan apa yang telah dihasilkan oleh Insurgent dan gagal menciptakan semangat baru di dunia baru. Ya, memang cerita dan dunia baru mengalami perkembangan namun semangat cerita masih sama, usaha Allegiant untuk berubah sehingga dapat menghasilkan “ledakan” kembali gagal tercapai.
Terdapat banyak aturan baru di Allegiant, ini bukan sekedar boss lama mati lalu boss baru muncul, terdapat lokasi dan ide baru yang harus dibangun dan dijelaskan termasuk intrik baru di dalam konflik. Dua tugas tadi tidak berhasil ditangani dengan baik, mereka jatuh datar termasuk di dalamnya hal lama seperti kisah cinta antara Tris dan Four yang semakin melelahkan. Seperti sadar tidak berhasil membangun materi baru dengan meyakinkan Allegiant mencoba menyajikan “kebisingan” agar cerita tidak terasa hening dengan menggunakan elemen action sequences, untung saja kuantitas elemen action yang tampil efektif terasa cukup oke walaupun tidak sedikit pula yang terasa canggung. Kinerja cast juga kurang maksimal, mereka aktor dan aktris berbakat namun seolah ada rasa bingung dan tidak yakin pada penyampaian emosi yang mereka lakukan.
Banyak upaya yang telah dilakukan oleh The Divergent Series: Allegiant untuk membawa cerita dan karakter menuju arah yang lebih baik, tapi sayangnya tindakan berani untuk tampil beda ternyata tidak dibentuk dengan hasil yang bertanggung jawab. Tidak perlu menunggu sampai Ascendant sebenarnya karena film ini bisa menjadi penutup series tapi sepertinya masih banyak hal baru yang ingin series ini sampaikan walaupun telah "meninggalkan" faksi yang jadi pesona utamanya, berputar-putar dengan romansa miskin pesona, dan yang paling menjengkelkan Allegiant tidak hanya mengaburkan “dunia” Tris dan teman-temannya namun juga telah membuat tujuan awal series ini menjadi tidak jelas. Divergent series seharusnya menjadi kisah tentang sekelompok anak muda yang “berbeda” dan memiliki semangat tinggi serta tidak takut berjuang untuk menciptakan perubahan, tapi Allegiant mengubah itu menjadi sekelompok anak ayam yang kehilangan induk mereka.
Sumber



Download Film The Divergent Series: Allegiant (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 00 Menit - 33 Detik
Ukuran: 348 mb
SS:
Download Single Link:
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]
Subtitle: br-algiant-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 227 mb
SS:
Download Single Link:
UC: uploading...
TF: uploading...
UF: uploading...
UI: uploading...
SF: uploading...
UP: uploading...
Subtitle: br-algiant-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki
Saturday, June 11, 2016
Cell (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia
Released | 10 June 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genre | Horror | Sci-Fi | Thriller |
Director | Tod Williams |
Writers | Adam Alleca (screenplay), Stephen King (based on the novel by) | 1 more credit » |
Starcast | Owen Teague, Samuel L. Jackson, John Cusack | See full cast & crew » |
| Rating |
Sinopsis:
CELL bercerita tentang sebuah sinyal misterius yang tiba-tiba mengubah setiap orang menjadi brutal dan tidak terkendali. Di tengah pesatnya indrusti telepon genggam, hampir setiap orang memiliki alat komunikasi tersebut. Tak terkecuali seorang pria bernama Clay Riddell. Clay adalah seorang artis yang dituntut untuk selalu bisa dihubungi kapanpun.
Hingga suatu hari, Clay mendapati bahwa sinyal yang selama ini digunakan berubah secara misterius. Segera sinyal tersebut mengubah setiap orang menjadi sosok pembunuh yang haus akan darah. Pembunuhan besar-besaran pun segera terjadi di tempat tinggalnya.
Namun tidak semua orang berubah, salah satunya adalah Clay. Kini Clay dan beberapa orang yang tidak berubah harus berusaha menyelamatkan diri mereka dari para pembunuh tersebut. Disisi lain, Clay juga harus menyelamatkan anaknya.

Download Film Cell (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 03 Detik
Ukuran: 283 mb
SS:
Download Single Link:
UC: https://userscloud.com/iww4psq6934c
TF: http://www.tusfiles.net/q6b2j5bny6yi
UF: http://sht.io/hjal
UI: http://sht.io/hjam
SF: http://sht.io/hjao
UP: uploading...
Subtitle: dl-cell-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:EveryAgent
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 184 mb
SS:
Download Single Link:
UC: https://userscloud.com/843fyb3hue1z
TF: http://www.tusfiles.net/1u2ltoqr3e8v
UF: http://sht.io/hjas
UI: http://sht.io/hjat
SF: http://sht.io/hjau
UP: http://uppit.com/4xyyxle5kxcv
Subtitle: dl-cell-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:EveryAgent








