I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Family Movies. Show all posts
Showing posts with label Family Movies. Show all posts

Sunday, June 4, 2017

LEGO BATMAN MOVIE (2017) BLUERAY+ SUB INDO

THE LEGO BATMAN MOVIE
(2017)

Quality: BRRip


Released
10 February 2017 (USA)
CountryDenmark | USA
Language
English
Genres
Animation | Action | Adventure | Comedy | Family
Director
Chris McKay
Writers
Seth Grahame-Smith (screenplay), Chris McKenna (screenplay) | 8 more credits »
Starcast
Will ArnettMichael CeraRosario Dawson | See full cast & crew »
RatingThe LEGO Batman Movie (2017) on IMDb
7.5/1045,613 votes
Review:
The LEGO Movie arahan Phil Lord dan Christopher Miller muncul menjadi salah satu film animasi terbaik yang dirilis pada tahun 2014 lalu dengan tampilannya yang begitu berwana, naskah cerita yang diisi dialog serta karakter yang jenaka serta sebuah lagu tema yang berhasil menempel di kepala setiap penontonnya – sekaligus membuahkan nominasi Best Original Song pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Tahun ini, penonton mendapatkan sebuah subseri dari The LEGO Movie yang dibintangi oleh salah satu karakter pahlawan super yang sempat muncul di film tersebut, Batman. Diarahkan oleh Chris McKay – yang sebelumnya bertugas sebagai salah satu penata gambar pada The LEGO Movie, The LEGO Batman Movie menjanjikan pengalaman yang sama menyenangkannya dengan film pertama seri ini sekaligus kehadiran Batman serta rekan-rekan protagonis dan antagonisnya dalam nada penceritaan yang jauh dari kesan kelam seperti yang sering dibawakan film-film Batman selama ini. Because… Why so serious, right?
Tiga tahun semenjak menyelamatkan The LEGO Universe seperti yang dikisahkan pada The LEGO Movie, Batman (Will Arnett) terus mengisi kesehariannya dengan melawan kejahatan di Gotham City. Namun, Batman kemudian merasa keberadaan dirinya menjadi tidak berarti ketika Komisaris Besar Kepolisian yang baru, Barbara Gordon (Rosario Dawson), menginginkan agar kepolisian dan masyarakat Gotham City untuk tidak terlalu bergantung pada keberadaan Batman dalam menjaga keamanan kota. Sementara itu, Joker (Zach Galifianakis) sedang menyusun rencana untuk membalaskan dendamnya kepada Batman. Dengan mengumpulkan deretan penjahat legendaris seperti Harley Quinn (Jenny Slate), Riddler (Conan O’Brien), Bane (Doug Benson), Catwoman (Zoë Kravitz) hingga Lord Voldemort dari seri film Harry Potter (Eddie Izzard) dan Sauron dari trilogi The Lord of the Rings (Jemaine Clement), Joker mulai mengambil alih dan menghancurkan Gotham City. Merasa dirinya terpanggil kembali dan dibutuhkan, Batman kemudian mengumpulkan pasukannya dan mulai menjalankan aksi untuk menyelamatkan Gotham City.
Seperti halnya The LEGO Movie, naskah cerita yang digarap Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern dan John Whittington masih mengutamakan plot kisah mengenai pentingnya kebersamaan dan kerjasama antara satu dengan yang lain. Maskipun masih menawarkan jalan pengisahan yang diisi dengan dialog-dialog yang sukses tampil menghibur, keberadaan banyaknya karakter dalam jalan cerita The LEGO Batman Movie memang cukup memberikan beban tersendiri dalam mengikuti kisahnya. Paruh pertama film, khususnya, terasa berjalan dengan tempo yang sedikit lamban akibat usaha untuk memperkenalkan deretan karakter-karakternya. Beruntung, secara perlahan, The LEGO Batman Movie kemudian berhasil meningkatkan pacuan penceritaan dan akhirnya tampil dengan ritme pengisahan yang tepat untuk dinikmati, baik sebagai sebuah komedi maupun sebagai sebuah film pahlawan super.
Dari departemen produksi, warna-warna terang dan bernuansa cerah, yang jelas tidak akan didapatkan penonton dari film-film Batman manapun, juga masih mengisi film sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Tatanan musik garapan Lorne Balfe juga memberikan atmosfer pengiring yang tepat bagi setiap adegan The LEGO Batman Movie – memberikan sajian ketegangan a la film-film pahlawan super di banyak adegan aksi dan, secara mengejutkan, mampu memberikan elemen emosional ketika naskah cerita film ini memberikan pengisahan yang menyentuh. Penataan gambar film ini juga diperlakukan seperti layaknya sebuah film pahlawan super. Memberikan pengalaman menyaksikan sebuah film animasi yang cukup menyegarkan.
Namun, poin kesuksesan terbesar dari naskah cerita The LEGO Batman Movie adalah kemampuan para penulis naskahnya untuk memasukkan berbagai referensi tentang Batman – baik dari komik, serial televisi hingga seri film Batman – secara cerdas ke dalam rangkaian konflik maupun dialog yang disajikan dalam film ini. Para pembuat The LEGO Batman Movie jelas merupakan kumpulan para penggemar berat Batman. Bersama, mereka menggali secara mendalam berbagai informasi tentang pahlawan super tersebut dan menyajikannya dengan sentuhan hiburan yang kuat. Begitu banyaknya referensi tentang Batman, The LEGO Batman Movie dipastikan akan dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi para penontonnya ketika mereka menyaksikan film ini untuk kedua atau ketiga (atau keempat atau kelima atau keenam dan seterusnya…) kalinya. Mereka yang bukan penggemar Batman rasanya juga tidak lantas akan merasa dialienasi oleh kuatnya referensi budaya Batman dalam naskah cerita film ini. Ada begitu banyak unsur hiburan yang sukses disajikan di sepanjang 104 menit durasi perjalanan film ini.
The LEGO Batman Movie juga diperkuat oleh barisan pengisi suara yang mampu menjadikan karakter-karakter mereka bagitu hidup dan menarik untuk diikuti kisahnya. Sebagai Batman, vokal Arnett tampil sangat meyakinkan. Karakternya yang digambarkan sebagai versi parodi dari sosok Bruce Wayne/Batman yang eksentrik dan penyendiri mampu disajikan dengan sempurna. Galifianakis juga cukup memikat perhatian sebagai Joker, seperti halnya Michael Cera yang menjadikan Robin sebagai sosok yang cute atau Ralph Fiennes yang menjadikan karakter pendamping setia Bruce Wayne/Batman, Alfred Pennyworth, tampil dengan karakterisasi yang lebih luas dari yang biasa ditampilkan dalam film-film Batman lainnya. Kesuksesan penggarapan kualitas secara keseluruhan The LEGO Batman Movie tersebut dengan mudah menjadikan film ini sebagai film Batman terbaik sejak The Dark Knight (Christopher Nolan, 2008). Dan dengan komposisi komedi yang cerdas, The LEGO Batman Movie jelas juga menjadi film Batman paling menghibur di sepanjang sejarah adaptasi film dari komik buatan DC Comics tersebut.



+

Link di jamin aktif karna sudah di tes oleh ADMIN 

FILE SIZE= 328MB
FORMAT MP4


LINK
UCERCLOUD



Subtitle: br.thelegobatmanmv.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: Agent Nas







Friday, November 18, 2016

Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO


Released
14 September 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
David Lowery
Writers
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew »
Rating
7.2/10
Review:
Disney belum berhenti untuk bercerita tentang believing in wonder di tahun ini. Di awal tahun kita sudah bertemu dengan ‘Zootopia’ bersama seekor kelinci yang berjuang meraih mimpinya, yang kemudian disusul oleh ‘The Jungle Book’ dan ‘Finding Dory’. Kini ‘Pete’s Dragon’ hadir mencoba meneruskan pencapaian tadi, sebuah redesign yang sehat pada a tale of a magic tentang kisah persahabatan antara seorang manusia dengan seekor naga dengan kombinasi heart, semangat, dan visual yang menyenangkan. It’s ‘The Good Dinosaur’ meets ‘The Jungle Book’ with good heart and magic.
Grace Meacham (Bryce Dallas Howard), seorang penjaga hutan, tidak percaya dengan cerita sang ayah, Mr. Meacham (Robert Redford), tentang naga yang hidup di dalam hutan, sampai ketika ia bertemu dengan Pete (Oakes Fegley). Remaja berusia 10 tahun itu mengatakan selama ini ia diasuh dan dilindungi oleh seekor naga hijau bernama Elliot. Pete yang selama ini bersembuyi dari interaksi sosial dengan manusia lain keluar dari hutan untuk meminta bantuan dari Grace. Hutan tempat ia dan Elliot selama ini tinggal sedang terancam aksi dari para penebang hutan yang dipimpin pria bernama Gavin (Karl Urban).
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber

FILE SIZE : 308 MB
MP4
LINK

Friday, November 11, 2016

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO



Released
30 September 2016 (Indonesia)
Country USA | UK | Belgium
Language
English
Genres
Adventure | Drama | Family | Fantasy
Director
Tim Burton
Writers
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay)
Starcast
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew »
Rating
7.1/10
Review:
Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.
Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) memiliki ikatan yang erat dengan kakeknya Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp), sosok yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur tentang sebuah rumah berisikan anak-anak yang memiliki kekuatan unik di bawah pimpinan wanita bernama Miss Alma LeFay Peregrine (Eva Green). Suatu ketika musibah menimpa Abe dan kemudian meninggalkan Jake dalam kondisi sepi serta terus dirundung mimpi buruk, dipaksa untuk bertemu psikiater bernama Dr. Golan (Allison Janney) untuk dapat mengatasi kesedihannya. Tapi suatu ketika berawal dari sebuah postcards rasa ingin tahu Jake terhadap kebenaran dari dongeng yang selalu Abe ceritakan itu menjadi besar, bersama sang ayah Franklin (Chris O’Dowd) dia kemudian menuju Wales berharap dapat menemukan rumah Miss Peregrine.
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber
 

FILE SIZE : 343 MB
MP4
LINK

Saturday, October 22, 2016

Nine Lives (2016) BluRay


Released
5 August 2016 (USA)
Country France | China
Language
English
Genres
Comedy | Family | Fantasy
Director
Barry Sonnenfeld
Writers
Gwyn Lurie, Matt Allen | 3 more credits »
Starcast
Kevin Spacey, Jennifer Garner, Robbie Amell | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 4.6/10

Sinopsis:
Film NINE LIVES bercerita tentang seorang pengusaha yang gila kerja. Hari-harinya selalu diisi dengan bekerja dan terus bekerja. Baginya tak ada hari yang tak diisi dengan bekerja. Hal tersebut lantas membuat dirinya menjadi memiliki jarak dengan keluarganya sendiri. Walaupun begitu, ia tetap menikmati pekerjaannya tersebut.
Hingga suatu hari, pria tersebut mengalami sebuah kecelakaan yang tak sengaja mengakibatkan dirinya berada dalam tubuh seekor kucing rumah milik keluarganya. Kini ia tak bisa lagi bekerja seperti dahulu, dan hidup layaknya seekor kucing. Selagi ia berada dalam tubuh seekor kucing, ia belajar mengenai menghabiskan waktu dengan keluargnya.








FILE SIZE : 253MB


Friday, October 21, 2016

Robinson Crusoe (2016) BluRay

Hasil gambar untuk ROBIN COURSE WILD LIFE 2016
 
Released
 9 September 2016 (USA)
Country Belgium | France
Language
English | French | German
Genres
Animation | Adventure | Comedy | Family
Directors
Vincent Kesteloot, Ben Stassen
Writer
Domonic Paris
Starcast
Matthias Schweighöfer, Kaya Yanar, Ilka Bessin | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 5.3/10

ROBINSON CRUSOE (The Wild Life) bercerita tentang Tuesday, seekor burung kakaktua yang tinggal bersama dengan hewan lainnya. Tuesday memiliki cita-cita untuk menjelajahi dunia. Pasca diterpa badai kencang, Tuesday dan temannya menemukan sosok asing di pantai, Robinson Crusoe. Tuesday segera melihat Crusoe sebagai tiket keluar dari pulau itu untuk menjelajah ke daratan lain. Sebaliknya, kunci keselamatan Crusoe ada di tangan Tuesday dan kawan-kawan.
Awalnya tidak mudah, namun perlahan hidup mereka berjalan dengan harmonis sampai kemunculan dua kucing liar yang ingin menguasai pulau. Pertempuran pun terjadi melawan para kucing, sampai akhirnya Crusoe dan para hewan menemukan kekuatan sesungguhnya dari persahabatan.
 

FILE SIZE; 256MB


Subtitle: br.robnsoncrsoe.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: De_PLaYBoX

Sunday, August 14, 2016

Ratchet & Clank (2016) BluRay + Subtitle Indonesia

ratchet-clank.jpg
movieinfo.png
Released
29 April 2016 (USA)
CountryHong Kong | Canada | USA
Language
English
Genres
Animation | Action | Adventure | Comedy | Family
Directors
Kevin Munroe, Jericca Cleland
Writers
T.J. Fixman, Kevin Munroe | 1 more credit »
Starcast
James Arnold Taylor, David Kaye, Jim Ward | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.0/10

Sinopsis:

Ratchet & Clank (2016) adalah film CG-animasi yang berbasis dari icon video game PlayStation. Mengisahkan tentang Dua pahlawan yang tidak mungkin berjuang untuk menghentikan kejahatan alien bernama Chairman Drek. Keduanya tersandung dengan senjata berbahaya yang mampu menghancurkan seluruh planet di Solana Galaxy.

Clank adalah robot berukuran pint-sized, Ratchet adalah makhluk yang terakhir dari jenisnya, seorang "lombax" pemberani yang tumbuh sendirian di sebuah planet terpencil tanpa punya keluarga sendiri.

Mereka harus bergabung dengan tim pahlawan colorful yang disebut The Galactic Rangers untuk menyelamatkan galaksi. Sepanjang jalan, mereka akan belajar tentang kepahlawanan, persahabatan, dan pentingnya menemukan identitas sendiri.

ratchet__clank_ps4_movie_1.jpg

Ratchet-and-Clank-Film.jpg

kep1.jpg

banner-appwal.jpg

Download Film Ratchet & Clank (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 34 Menit - 07 Detik
Ukuran: 284 mb
SS:
ratchtandclnk16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: br-ratchtandclnk-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:ZhaoYun



Friday, July 22, 2016

Alice Through the Looking Glass (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

alicebrthrough-the-lookin.jpg
movieinfo.png
Released
27 May 2016 (USA)
CountryUSA | UK
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
James Bobin
Writers
Linda Woolverton (screenplay), Lewis Carroll (books)
Starcast
Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.3/10

Review:

Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.

Ketika kembali ke London Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) mendapati bahwa mantan tunangannya telah mengendalikan properti keluarganya. Bingung dan marah, Alice kembali ke Underland melalui sebuah cermin. Alice mendapat berita bahwa kehidupan Mad Hatter (Johnny Depp) terancam “mati”, ia terus berkabung karena percaya bahwa keluarganya masih hidup. Princess Mirana (Anne Hathaway), The White Queen, menugaskan Alice menemui Time (Sacha Baron Cohen), raja pengendali waktu di Underland, untuk meminta izin menggunakan Chronosphere dan melakukan perjalan waktu. Tugas Alice ternyata tidak mudah, Iracebeth of Crims (Helena Bonham Carter), The Red Queen, juga menginginkan Chronosphere untuk melakukan rencana jahatnya.

Tidak disutradarai oleh Tim Burton ternyata tidak membuat petualangan Alice berubah arah. Misi utama film ini ternyata masih sama seperti Alice in Wonderland, menciptakan petualangan fantasi penuh warna-warni yang sama gilanya, dan meskipun memakai template serupa dalam hal visual di tangan James Bobin Alice Through the Looking Glass sukses melaksanakan niatnya itu. Terasa lebih terang dengan kesan gelap yang sedikit berkurang, pemanfaatan visual di film ini terasa menarik sejak sinopsis yang standar itu hingga ketika ia berakhir dengan cara yang juga standar. Alice Through the Looking Glass punya estetika ala Tim Burton di sektor visual, seolah memaksa penonton terus berteman dengan gambar-gambar eye-popping, kostum yang mewah, production design dan sinematografi juga oke, dikemas over-the-top dan setia pada “aturan dasar” milik Tim Burton.

Satu paragraf tadi cukup untuk mewakili nilai positif film ini. Ya, hanya visual yang tampil oke di Alice Through the Looking Glass, sisanya kembali tampil sama seperti film pertama, terasa underwhelming. Alice in Wonderland (2010) bukan kemasan yang luar biasa, ada kekurangan yang ia tinggalkan namun sayangnya tidak coba diperbaiki oleh film ini. Alasan utama Alice Through the Looking Glass tidak mampu konsisten tampil memikat adalah cerita yang ia punya terasa cukup hambar, dan sumber masalahnya masih sama yaitu narasi. Tidak mengharapkan sesuatu yang benar-benar kompleks tapi setidaknya narasi harus mampu menciptakan dan menjaga rasa menarik dari masalah di dalam cerita. James Bobin kurang berhasil mengolah naskah yang ditulis oleh Linda Woolverton, masih membangun narasi dengan cara konvensional untuk membentuk sebuah fantasi berkilau yang juga mencoba membawa berbagai isu substantif yang akhirnya terbengkalai tanpa penjelasan.

Alice Through the Looking Glass terus terasa goyah karena ia mencoba melanjutkan dan mengeksploitasi dasar rapuh dari film pertama dan tidak mampu memperbaikinya. Seandainya Alice Through the Looking Glass punya narasi yang lebih kohesif ia akan dengan mudah berakhir di level yang lebih baik. Mengapa? Karena jika berpadu dengan baik alur cerita akan mengikat penonton sehingga mereka konsisten tertarik untuk mengamati lebih lanjut karakter dan masalah di dalam cerita seperti kemerdekaan dan emansipasi. Koneksi yang baik antara karakter, cerita, dan penonton tidak dimiliki film ini sehingga penonton perlahan kehilangan rasa peduli pada karakter dan cerita. Terasa aneh ketika ada momen di mana rasa simpati pada karakter antagonis lebih besar ketimbang karakter protagonist, melengkapi minus utama di mana konflik tidak menampilkan sebuah konsekuensi yang menarik.

Hal serupa terjadi pada kinerja cast, mereka kurang menarik. Terasa menyedihkan bakat seperti Mia Wasikowska harus tenggelam di dalam hiruk pikuk CGI di sekelilingnya. Mia Wasikowska mampu menampilkan sisi berani Alice tapi pesonanya tidak maksimal dan terus terdegradasi. Itu juga dialami oleh pemeran pendukung seperti Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, dan Sacha Baron Cohen, masing-masing punya momen tapi pesona karakter mereka tidak begitu kuat walaupun beberapa humor berhasil mereka sampaikan dengan cukup oke. Oh, Johnny Depp? Karakter The Mad Hatter yang sedang dalam kondisi berduka membuat Depp seperti terbatasi keleluasaannya. Ia berulang kali berusaha menampilkan ekspresi sedih dan pengharapan tapi kurang berhasil tersampaikan karena terbentur kesan eksentrik dan antic yang ia miliki.

Dengan fantasi sebagai jualan utama usaha Alice Through the Looking Glass untuk menciptakan dunia fantasi yang imajinatif patut diapresiasi terutama sektor visual yang kembali tampil memikat dengan segala eksekusi over-the-top yang mewah dan eye-popping. Namun sayangnya semua kemilau dari visual tadi membuat Alice Through the Looking Glass terasa berat sebelah, visual oke namun cerita tidak oke, hal yang salah di mana keduanya harus berkombinasi dengan baik untuk menciptakan sebuah fantasi yang menarik. Akibat kombinasi visual bersama cerita dan narasi yang kurang kuat film ini terasa underwhelming, Alice Through the Looking Glass berakhir sebagai petualangan fantasi yang kaku dan tasteless. Kualitas visual worth the price of admission, tapi waktu? For me, nope. Segmented.
Sumber

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: br-alicelkinglass-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng
buzzcity

Thursday, July 21, 2016

The Secret Life of Pets (2016) HDTS + Subtitle Indonesia

secret-life-of-pets-movie.jpg
movieinfo.png
Released
8 July 2016 (USA)
CountryJapan | USA
Language
English
Genres
Animation | Comedy | Family
Directors
Yarrow Cheney, Chris Renaud
Writers
Cinco Paul, Ken Daurio | 2 more credits »
Starcast
Louis C.K., Eric Stonestreet, Kevin Hart | See full cast & crew »
Ratingimdb-icon.gif6.8/10

Sinopsis:
Ini mungkin akan terasa aneh tapi jika kamu memiliki hewan peliharaan pernahkan terlintas di pikiranmu apa yang mereka lakukan ketika kamu meninggalkannya untuk pergi bekerja. Jika ia seekor anjing apakah ketika tidak ada manusia di sekitarnya ia akan berbicara bahasa hewan dengan kucing tetangga atau tikus yang bersembunyi di bawah tempat tidurmu? Apakah ia hanya duduk di ruang tamu menunggu kamu pulang atau justru bergembira dengan dengan musik rock, menonton televisi, hingga memeriksa isi kulkas? Konsep tersebut digunakan oleh The Secret Life of Pets, karya studio animasi yang telah menghadirkan Despicable Me, The Lorax, dan Minions, sebuah animasi keluarga yang mencoba mengangkat ide kehidupan rahasia dari hewan peliharaan dengan rasa Looney Tunes. It’s cute but charmless animation.

Anjing jenis Jack Russell Terrier benama Max (Louis CK) merasa kesal ketika kehidupan sehari-hari yang ia isi bersama Chloe (Lake Bell), Mel (Bobby Moynihan), dan Buddy (Hannibal Buress) suatu ketika “diganggu” oleh Duke (Eric Stonestreet). Duke merupakan anjing ukuran besar yang diadopsi oleh pemilik Max, Katie (Ellie Kemper). Lawan menjadi kawan, Max dan Duke memutuskan untuk menyelinap keluar apartemen, tapi celakanya mereka tersesat di New York. Selain bertemu dengan hewan baru seperti Tiberius (Albert Brooks) dan Gidget (Jenny Slate) mereka juga harus berurusan dengan Ozone (Steve Coogan), anggota gang kucing, dan Snowball (Kevin Hart), kelinci yang memaksa Mac dan Duke untuk menjadi bawahannya.

Salah satu hal menyenangkan dari The Secret Life of Pets adalah mendapati fakta bahwa Illumination Entertainment masih mencoba untuk menghadirkan hiburan animasi yang ringan dan tampil ringkas. Sama seperti karya-karya yang pernah mereka hasilkan sebelumnya The Secret Life of Pets mengandung sisi positif dan sisi negatif dari produk Illumination Entertainment. Set-up The Secret Life of Pets standard dan familiar dan di sini dua sutradara Chris Renaud dan Yarrow Cheney serta tim penulis naskah seperti kompak bahwa film ini no need a good story, mereka dengan berani mengandalkan karakter untuk mencuri dan mengikat perhatian penonton. Anehnya itu berhasil di bagian awal, menggunakan pola dasar petualangan animasi for kids materi substansial di narasi film ini nihil tapi dengan karakter yang ekpresif dan memikat mata serta sesekali lelucon yang cukup oke.

Ya, di bagian awal, tapi setelah dibuka dengan sangat baik di 10 menit pertamanya The Secret Life of Pets perlahan jatuh menjadi sebuah petualangan yang just good enough, di beberapa titik bahkan sedikit lebih rendah dari itu. Tentu tidak layak mengharapkan cerita dengan something "thoughtful" yang kuat pada film-film dari Illumination Entertainment tapi keputusan yang seolah menaruh cerita di pinggir dan kemudian have fun dengan karakter menghasilkan boomerang bagi The Secret Life of Pets. Sulit untuk merasa apa yang Max, Duke, dan karakter lain lakukan sepanjang 81 menit durasi sisa sebagai sesuatu yang konsisten menarik, pertunjukkan mereka naik dan turun tapi kurang mampu mengikat atensi penonton. Ketimbang bercerita The Secret Life of Pets terlihat lebih fokus berusaha memperpanjang nafasnya hingga akhir, karakter mengatasi rintangan di lingkungan luar ala Toy Story dengan sepenuhnya bertumpu pada aksi, bukan kombinasi aksi dan isi cerita.

Memang ada momen yang sukses menghibur dari keputusan untuk tampil hyperactive tapi hal-hal yang kemudian hadir perlahan terkesan kurang nendang ketika ditempel. Di satu bagian kamu akan menemukan set-up yang seperti ingin menghadirkan momen emosional tapi hasil akhirnya mentah, irama cerita juga tidak semuanya halus sehingga cerita yang mayoritas tampil dengan kecepatan tinggi itu perlahan terasa melelahkan karena kembali lagi ke masalah awal bahwa film ini tidak punya something yang benar-benar menarik di pusat cerita. Walaupun begitu meskipun punya bagian yang terasa "kering" film ini tidak pernah terasa menjengkelkan akibat visual yang memikat mata. Visual tajam dan eye-catching, dari lingkungan New York dengan gedung-gedungnya yang tinggi hingga karakter yang juga terasa oke, gerakan mereka ketika melempar lelucon terasa baik meskipun di sisi lain pesona yang dihasilkan terasa kurang kuat.

Elemen yang juga tidak tampil buruk adalah kinerja pengisi suara. Suka dengan tik-tok yang Louis C.K. dan Eric Stonestreet hadirkan di antara Max dan Duke, meskipun tidak menjadi dynamic duo yang super kuat mereka mampu bertahan di pusat cerita mengingat banyak karakter lain yang juga tampil di level mereka. Di sisi lain Kevin Hart, Lake Bell, dan Bobby Moynihan juga membuat karakter mereka memberikan sokongan yang pas terhadap dua karakter utama. Highlights di bagian ini adalah Steve Coogan yang berhasil menampilkan kesan sombong dan angkuh dari karakternya, Ozone. Selain kinerja pengisi suara yang terasa oke The Secret Life of Pets juga punya score yang sukses mencuri perhatian, terkadang berhasil menjadi penyelamat ketika cerita dan karakter mulai terasa goyah, Alexandre Desplat menghasikan score yang manis dengan rasa klasik yang oke.

Apakah kamu masih ingat sinopsis, plot serta konflik yang dimiliki Minions yang rilis tahun lalu? Garis besarnya mungkin iya namun hal yang jauh lebih memorable dari Minions tentu para minions itu sendiri. Seperti itu usaha yang dilakukan Chris Renaud dan Yarrow Cheney di sini, menggunakan hewan yang mencari jalan pulang dengan dipenuhi banyak humor dan menaruh fokus pada “menjual” karakter. Meskipun pesonanya tidak kuat namun ditunjang dengan visual yang memikat dan narasi “sederhana” dalam gerak cepat The Secret Life of Pets mampu menjadi hiburan animasi dengan rasa Looney Tunes yang loveable walaupun kurang memorable. It’s cute but charmless, it’s good for kids.
Sumber
The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

banner-appwal.jpg

Download Film The Secret Life of Pets (2016) HDTS Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 23 Menit - 15 Detik
Ukuran: 210 mb
SS:
thescretlfpts16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_201

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Download Film The Secret Life of Pets (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:

{UCERCLOUD}


Subtitle: br.thescrtlifeofpts.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: EveryAgent