I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Drama Movies. Show all posts
Showing posts with label Drama Movies. Show all posts

Friday, November 11, 2016

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO



Released
30 September 2016 (Indonesia)
Country USA | UK | Belgium
Language
English
Genres
Adventure | Drama | Family | Fantasy
Director
Tim Burton
Writers
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay)
Starcast
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew »
Rating
7.1/10
Review:
Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.
Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) memiliki ikatan yang erat dengan kakeknya Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp), sosok yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur tentang sebuah rumah berisikan anak-anak yang memiliki kekuatan unik di bawah pimpinan wanita bernama Miss Alma LeFay Peregrine (Eva Green). Suatu ketika musibah menimpa Abe dan kemudian meninggalkan Jake dalam kondisi sepi serta terus dirundung mimpi buruk, dipaksa untuk bertemu psikiater bernama Dr. Golan (Allison Janney) untuk dapat mengatasi kesedihannya. Tapi suatu ketika berawal dari sebuah postcards rasa ingin tahu Jake terhadap kebenaran dari dongeng yang selalu Abe ceritakan itu menjadi besar, bersama sang ayah Franklin (Chris O’Dowd) dia kemudian menuju Wales berharap dapat menemukan rumah Miss Peregrine.
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber
 

FILE SIZE : 343 MB
MP4
LINK

Tuesday, August 16, 2016

Money Monster (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

money-monsterbr.jpg
movieinfo.png
Released
13 May 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English | Korean | Icelandic
Genres
Crime | Drama | Thriller
Director
Jodie Foster
Writers
Jamie Linden (screenplay), Alan DiFiore (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
George Clooney, Julia Roberts, Jack O'Connell | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.8/10

Review:

Di fitur layar lebar ketika tampil sebagai seorang aktris di depan kamera Jodie Foster merupakan salah satu ahli dalam hal berbicara kepada penonton melalui karakternya, namun ketika ia mencoba duduk di depan layar monitor sebagai sutradara fitur yang ia hasilkan biasa-biasa saja. Home for the Holidays, The Beaver, mereka tidak buruk namun sulit pula untuk dikatakan sebagai kemasan yang benar-benar kuat. Mampir sejenak ke layar televisi dengan menyutradarai Orange Is the New Black serta House of Cards kini Jodie Foster kembali mencoba untuk berbicara sebagai sutradara lewat Money Monster, berkisah tentang praktek bisnis di Wall Street yang ternyata bukan merupakan kemasan drama thriller kelas monster.

Lee Gates (George Clooney) adalah host “Money Monster”, sebuah program televisi yang mencoba memandu penontonnya mengamati dunia perdagangan saham yang berada di bawah kontrol direktur bernama Patty Fenn (Julia Roberts). Suatu ketika seorang pemuda bernama Kyle Budwell (Jack O'Connell) menginvasi Money Monster, membawa pistol dan memaksa Lee Gates untuk mengenakan rompi yang telah berisikan bahan peledak. Kyle kehilangan $ 60.000 pada saham IBIS Clear Capital yang telah disahkan oleh Lee Gates dan dicurigai terjadi akibat kesalahan sistem komputer. Kyle hanya ingin penjelasan tentang uangnya yang hilang tersebut, menghasilkan proses yang ikut melibatkan aparat penegak hukum serta Diane Lester (Caitriona Balfe), IBIS chief communications officer.

Bukankah ketika membaca sinopsis di atas tadi akan mengingatkan kamu pada beberapa film dengan konflik atau isu utama yang sama dan serupa? Ya, bahan materi Money Monster memang sangat familiar, ada dari mereka yang berhasil diolah jadi kemasan menarik tapi tidak sedikit pula yang berakhir buruk. Kombinasi yang Jodie Foster hasilkan di sini tidak buruk terutama pada sisi teknis di mana Jodie Foster tampak mulai lebih terampil dalam memainkan elemen teknis. Banyak gambar dan audio yang digunakan berhasil dikemas dengan efektif oleh Foster, dan di awal hal tersebut ikut mempengaruhi ekspektasi karena meskipun familiar namun bahan cerita film ini punya potensi yang besar untuk menjadi sebuah panggung drama thriller yang menyenangkan, ia bisa menjadi sebuah sindiran pada sisi gelap dunia usaha dan media korporasi. Sayangnya Money Monster tidak menampilkan modus utama yang jelas sehingga skenario jatuh di zona abu-abu.

Jodie Foster tampak berusaha keras untuk membuat agar pesan yang film ini bawa tampak penting, namun cara ia membentuk plot yang semakin jauh kamu melangkah tampak semakin menggelikan menyebabkan misi tersebut gagal dicapai. Cara Money Monster bermain memang selalu menarik hingga akhir tapi cara ia mencoba menjual beberapa isu seperti keserakahan, korupsi, hingga sikap apatis publik dan tanggung jawab media tidak pernah mampu mencapai level believable yang membuat penonton merasa karakter dan cerita di dalam film merupakan sesuatu yang nyata, kemudian merasa peduli pada eksistensi mereka di dalam cerita. Lee Gates, Patty Fenn, Kyle, dan karakter lainnya terasa seperti boneka yang bernyawa di sini, bukan manusia. Pada akhirnya sulit untuk merasa terlibat di dalam “pesta” tentang sisi jahat dari dunia keuangan ini tidak peduli seberapa sering Foster mencoba menghadirkan kejutan yang terasa oke.

Nah, itu alasan mengapa meskipun perlahan mulai menurun daya tariknya dan thrill yang ia berikan tidak pernah terasa maksimal di sisi lain Money Monster juga tidak pernah terasa membosankan, cara ia bermain terasa menarik berkat berbagai kejutan di dalam cerita. Memang tidak semuanya terasa oke namun hal tersebut at least mampu membuat penonton penasaran bagaimana semua masalah itu akan diselesaikan. Seandainya Jodie Foster mampu menjaga fokus cerita menjadi lebih kuat dari yang ia tampilkan di sini bukan tidak mungkin dua minus tadi dapat teratasi dengan mudah. Ya, pergeseran nada cerita yang berat bukan menjadi masalah tapi fokus utama yang tidak kuat selalu berhasil mengganggu. Money Monster kehilangan fokus dengan sangat cepat, alih-alih mengeksplorasi potensi terkait dunia keuangan yang ia punya film ini justru terperangkap dalam rencana sandera Kyle, dan perlahan tampak seperti khotbah tentang bagaimana sengsaranya rakyat kecil akibat pihak-pihak yang memiliki kuasa lebih besar.

Bagaimana dengan kinerja cast? Mereka tampil oke tapi berada di bawah standar yang masing-masing mereka miliki. George Clooney berhasil membuat Lee Gates tampil sebagai pria bergaya sombong namun kurang mampu menarik penonton untuk merasa relatable dengannya. Julia Roberts berhasil menampilkan Patty Fenn sebagai wanita yang tenang dan gigih namun peran dan daya tarik Patty di dalam cerita kurang mampu tampil menggigit. Kyle sebenarnya punya karakteristik yang dapat dilahap Jack O'Connell dengan sangat mudah, namun sebagai korban di dalam cerita ia kurang mampu menarik simpati penonton terhadap permasalahannya. Caitriona Balfe berhasil mencuri perhatian, bintang Outlander ini berhasil menjadi bagian dari “proses” di konflik utama dalam kapasitas yang terasa pas. Menariknya meskipun membawa konflik yang serius Money Monster kerap berusaha menyisipkan komedi, dan itu kurang klik karena sejak awal tujuannya bukan untuk menjadi sebuah drama thriller dengan komedi satir.

Datang dengan misi menjadi sebuah crime thriller tentang sisi gelap praktek bisnis di Wall Street, Money Monster jatuh menjadi sebuah drama dengan rasa dongeng, tidak mampu mengindentifikasi korupsi di dunia keuangan dengan impresi yang "nyata". Sejak awal hingga akhir Jodie Foster memang mampu menampilkan cara bermain yang menarik sehingga Money Monster tidak pernah terasa monoton, namun sebagai sebuah perpaduan thriller dan crime film ini miskin thrill dan sensasi, menggunakan pendekatan langsung yang sayangnya tampil goyah dengan fokus yang lemah sehingga mengakibatkan segala upaya yang ia lakukan terasa seperti sebuah panggung sandiwara di dunia fantasi. Segmented.
Sumber

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

Money%2BMonster%2B%25282016%2529%2Bimage

banner-appwal.jpg

Download Film Money Monster (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 39 Detik
Ukuran: 273 mb
SS:
moneymnst16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_08_1

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: br-moneymonster-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:Ibra_Official

Download Film Money Money Monster (2016) BluRay Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 185 mb
SS:
moneymnst16_BRrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/0aikc95nnsai
TF: http://www.tusfiles.net/olrdkdm52id2
UF: http://sht.io/ji49
UI: http://sht.io/ji4a
SF: http://sht.io/ji4b
UP: http://uppit.com/5nsuq9qai8gm

Subtitle: br-moneymonster-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:Ibra_Official

Sunday, August 14, 2016

Sniper: Ghost Shooter (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

sniperghost-shooter-2016.jpg
movieinfo.png
Released
2 August 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Drama | War
Director
Don Michael Paul
Writer
Chris Hauty
Starcast
Billy Zane, Chad Michael Collins, Dennis Haysbert | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.4/10

Sinopsis:

Film Sniper: Ghost Shooter ini akan menceritakan tentang sniper kelas atas bernama Brandon Beckett (Chad Michael Collins) bersama rekannya Richard Milner (Billy Zane) dan mereka mendapatkan tugas baru. Namun tidak seperti film-film sebelumnya mereka memerangi penjahat dari berbagai kelompok lain, kali ini segalanya serba abu-abu untuk kedua penembak jitu tersebut.

Brandon Beckett dan Richard Milner terancam berhadapan dengan musuh-musuh yang lebih ganas yang tidak tertandingi. Misi terbaru membawa Brandon Beckett, Richard Milner serta sekelompok penembak jitu lain untuk terbang ke Black Sea. Misinya sederhana saja: Saluan pipa gas Trans Jordan rupanya tengah terancam dengan pernyataan kelompok terorois yang siap menyerang kelompok militan teroris tersebut, namun juga pengamanan dari udara yang ditingkatkan.

PMT Eye disebutkan mengawasi dan mengawal mereka semua dari udara. Yang tak terduga, ditengah peperangan salah satu penembak jitu justru berhasil dilumpuhkan. Penyelidikan atas terbunuhnya satu orang sniper tersebut mengarah pada semua nama yaitu ghost shooter. Ghost Sniper yang mengetahui secara pasti dan jelas dimana posisi hingga rencana mereka. Siapakah sebenarnya musuh mereka?

1469205063823.jpg

fb5b13_bd1f6291fdc34b798fdce57dc6a3bf6e_

sniper.jpg

banner-appwal.jpg

Download Film Sniper: Ghost Shooter (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 39 Menit - 08 Detik
Ukuran: 287 mb
SS:
sniperghststr16_DLrmcmv_mp4_thumbs_2016_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Subtitle: dl-sniperghststr-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:broth3rmax



Friday, July 22, 2016

Batman: The Killing Joke (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

brbatmanthe-killing-joke.jpg
movieinfo.png
Released
25 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Animation | Action | Crime | Drama | Thriller
Director
Sam Liu
Writers
Bob Kane (character created by: Batman), Bill Finger (character created by: Batman) | 3 more credits »
Starcast
Mark Hamill, Kari Wahlgren, Tara Strong | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif8.3/10

Sinopsis:

Banyak yang menilai satu-satunya komik Batman terbaik yang pernah ditulis adalah Batman: The Killing Joke. Kini, para penggemar komik bakal bergembira. Pasalnya kisah asal usul sang penjahat itu diadaptasi menjadi sebuah film animasi.

BATMAN: THE KILLING JOKE bercerita tentang perseteruan antara sang manusia kelelawar, Batman dan musuh abadinya Joker. Batman kini tengah melakukan pengejaran terhadap Joker. Sementara itu, Joker bertindak lebih gila dengan menyerang keluarga Gordon yang notabene adalah keluarga dari Batgirl.

Joker menunjukkan titik terendah dalam kehidupan seseorang bisa membuatnya menjadi gila. Joker pun juga ingin menunjukkan bagaimana proses dirinya menjadi gila.

1466116988-BTKJ103583.jpg

Screen-Shot-2016-04-08-at-12.05.43-PM.pn

batman-the-killing-joke-first-image-reve

banner-appwal.jpg

Download Film Batman: The Killing Joke (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 16 Menit - 39 Detik
Ukuran: 228 mb
SS:
batmnkllingjk16_BRrmcmv_mp4_thumbs_2016_

Download Single Link:
download-button.gif
[USERLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Subtitle: ...wait | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:

Download Film Judul (Tahun) Kualitas Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x
Ukuran: 143 mb
SS:
batmnkllingjk16_BRrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/xt8ms442hofb
TF: http://www.tusfiles.net/xlmymyvvc7xf
UF: http://sht.io/ivi5
UI: http://sht.io/ivi6
SF: http://sht.io/ivi7
UP: http://uppit.com/d11kkz2hehzj


Subtitle: ...wait | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:


Friday, July 15, 2016

The Legend of Tarzan (2016) BLUERAY+Subtitle Indonesia

the-legend-of-tarzan-2016.jpg
movieinfo.png
Released
1 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Adventure | Drama | Romance
Director
David Yates
Writers
Adam Cozad (screenplay), Craig Brewer (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Alexander Skarsgård, Rory J. Saper, Christian Stevens | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.8/10

Review:

Jika kamu tanya Google berapa banyak film Tarzan yang telah diproduksi maka kamu akan menemukan jumlah yang terhitung besar, dari fitur layar lebar, film animasi, hingga parodi. Pertanyaannya bukan apakah penting atau tidak untuk memproduksi kembali film pahlawan hutan yang dibesarkan oleh para kera yang sudah dilakukan berulang kali namun apakah produk yang dihasilkan tersebut mampu memberikan penonton pengalaman berpetualang bersama Tarzan yang terasa menyenangkan. Ya, sesederhana itu. The Legend of Tarzan, the most recent edition of the apeman adventure with hazy and gloomy swing.

Tumbuh dan berkembang di bawah asuhan Mangani dan para kera lainnya, Tarzan (Alexander Skarsgård) telah lama meninggalkan hutan Afrika dan kini hidup sebagai aristocrat di London dengan nama John Clayton III. Suatu ketika Tarzan diundang kembali Congo Free State sebagai utusan dagang dari House of Commons, namun celakanya Tarzan yang datang bersama istrinya, Jane Porter (Margot Robbie) tidak menyadari bahwa mereka menjadi “alat” dari sebuah rencana jahat yang didalangi oleh koruptor asal Belgia bernama Captain Léon Rom (Christoph Waltz).

, Hal paling impresif di The Legend of Tarzan berasal dari keputusan David Yates dan dua penulis naskah Adam Cozad serta Craig Brewer untuk tidak menaruh fokus terlalu besar pada proses tumbuh dan berkembangnya Tarzan di hutan. Tarzan kini merupakan seorang gentleman yang kemudian harus kembali ke hutan dan menyelesaikan masalah yang menghampirinya. Penyesuaian pada cerita itu menghasilkan narasi yang terasa fresh di awal, alur cerita dibuat standar dan fokus kini diarahkan pada bagaimana agar rasa percaya diri dan tentu saja rasa cinta dari Tarzan dapat menginspirasi penontonnya. The Legend of Tarzan juga seolah membawa banyak misi, dari tragedi, menggambarkan fenomena budaya, menghidupkan fantasi anak-anak, hingga usaha tampil dengan rasa blockbuster. Sayangnya berbagai tujuan tadi tidak menghasilkan kombinasi yang oke.

Setup di bagian awal cukup menarik, keputusan David Yates untuk tidak menghabiskan banyak waktu membentuk kembali dasar cerita asal membuat bagian awal terasa oke. Tapi masalahnya presentasi setelah itu ternyata tidak membawa karakter dan cerita bergerak maju dengan menarik pula. Hampir setengah durasi dihabiskan bagi Tarzan untuk membangun kembali dirinya, mondar-mandir sedikit berlebihan untuk membangun backstory bagi Tarzan. Tidak masalah jika hasilnya oke tapi di sini cerita justru terasa semakin berbelit-belit dan apa yang ingin dicapai oleh The Legend of Tarzan perlahan terasa tidak jelas. Konflik dengan nada politik, peperangan, ketika mereka stuck maka hadirkan hal klise dengan kasus penculikan dan usaha menyelamatkan. Hal-hal yang coba Adam Cozar dan Craig Brewer sampaikan seperti di atas tadi perlahan mati dan menghilang, menjelang masuk ke paruh kedua cerita ketegangan di narasi terasa murung dan suram, yang tersisa hanya Alexander Skarsgård bertelanjang dada.

Dari sana kita mulai sadar mengapa bagian awal terasa oke karena masalah yang berasal dari usaha membangun karakterisasi Tarzan tidak ditumpuk di awal melainkan diurai sepanjang cerita. Alhasil plot terasa sibuk dan sesak, berbagai ide yang ia bawa tadi tidak punya kesempatan untuk mencuri atensi penonton. Seperti sadar dengan hal tersebut David Yates kemudian mencoba mempertahankan nafas The Legend of Tarzan dengan menggunakan elemen action. Harus diakui beberapa dari elemen action terasa oke, dari peluru hingga aksi akrobat, tapi kehadiran mereka terasa terlambat dan tidak menghasilkan dampak yang besar pada daya tarik cerita yang sudah berubah dari nasi hangat menjadi bubur yang terlalu encer. Akibatnya kombinasi cerita dan elemen action yang tidak banyak yang terasa nendang tadi membuat The Legend of Tarzan terasa menggantung tanpa urgensi.

Ya, The Legend of Tarzan memiliki banyak kekurangan tapi yang paling menjengkelkan dari itu semua adalah bagaimana ia tampil tanpa menghadirkan semangat yang tajam dan mengesankan. Tidak peduli seberapa standar cerita, karakter, dan eksekusi yang penonton inginkan dari Tarzan adalah sebuah petualangan di hutan dengan thrill yang konsisten tampil menyenangkan. Hal penting itu coba ditampilkan oleh David Yates tapi lebih suka menghitungnya sebagai absen. Penilaian yang berbeda ada pada elemen teknis, kualitasnya seimbang. Suka dengan sinematografi dan score, mereka cukup manis, CGI juga cukup oke. Tidak ada yang benar-benar bombastis di sini tapi film ini punya beberapa eksekusi teknologi motion capture yang oke. Pernah menangani beberapa film ‘Harry Potter’ David Yates oke dalam menciptakan tampilan dan urutan dengan visual effect yang besar meskipun mayoritas dari mereka tidak banyak membantu daya tarik serta pesona dari karakter dan cerita.

Jika menilik kualitas cerita para aktor dan aktris seharusnya mampu untuk setidaknya menjaga rasa antusias penonton pada karakter dan cerita. Ya pada karakter namun tidak pada cerita. Alexander Skarsgård tidak tampil buruk tapi tanpa dibantu dengan urgensi yang menarik pesona dari kesan misterius yang ia bangun bersama sex appeal dengan kesan primitif yang liar tidak bertahan lama sejak cerita berangkat dari sinopsis. Alexander Skarsgård juga sering kecolongan karakter pendukung yang ditampilkan dengan baik oleh para pemerannya. Christoph Waltz adalah ahli dalam memerankan karakter penjahat utama dan meskipun tidak kuat kesan sombong dan creepy dari Léon Rom tidak buruk. Tidak punya keluhan terhadap Margot Robbie, sebagai penyeimbang ia membuat Jane sebagai damsel-in-distress yang sensual dan berani, sex appeal miliknya membuat Suicide Squad semakin menarik untuk dinantikan. Yang mengejutkan adalah Samuel L. Jackson (George Washington Williams), mampu menjadi sidekick yang aneh dan menyenangkan.

Kisah Tarzan di dalam hutan seharusnya menjadi sebuah petualangan besar yang mendebarkan. David Yates memang mencoba untuk menghadirkan hal tersebut dengan menampilkan beberapa elemen drama dan mencampur usaha menjadi blockbuster dengan nada cerita yang sedikit serius. Namun meskipun oke dan tampak menjanjikan di bagian awal The Legend of Tarzan tidak tumbuh menjadi petualangan yang semakin menyenangkan justru semakin suram dan tampak kabur. The Legend of Tarzan memang mampu menghadirkan kehebohan tapi kurang mampu untuk terasa benar-benar nendang, ini seperti hanya mengapung di danau tenang bukan bermain arung jeram di sungai dengan track yang menantang. 'The Legend of Tarzan' adalah film Tarzan yang “pincang” tanpa teriakan yang menawan. Dibandingkan dengan The Jungle Book? Sebaiknya jangan.
Sumber

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

banner-appwal.jpg

Download Film The Legend of Tarzan (2016) HDTS Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 45 Menit - 37 Detik
Ukuran: 256 mb
SS:
thelgndtrz16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_2016_0

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: hdts-thelgndtrzn-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:seaZ

Download Film The Legend of Tarzan (2016) BLUERAY+  Subtitle Indonesia
[UCERCLOUD]

Subtitle: hdts-thelgndtrzn-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:seaZ



Monday, June 27, 2016

ashby.jpg movieinfo.png Released 25 September 2015 (USA) Country USA Language English Genre Comedy | Drama | Romance Director Tony McNamara Writer Tony McNamara Starcast Mickey Rourke, Nat Wolff, Emma Roberts | See full cast & crew » Rating im

ashby.jpg
movieinfo.png
Released
25 September 2015 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Comedy | Drama | Romance
Director
Tony McNamara
Writer
Tony McNamara
Starcast
Mickey Rourke, Nat Wolff, Emma Roberts | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.4/10

Sinopsis:

ASHBY menceritakan tentang seorang remaja berusia 17 tahun, Ed, yang mencoba untuk memahami siapa yang ia inginkan di dunia. Ed berteman dengan seorang mantan pembunuh kontrak CIA, Ashby, yang kini menderita sakit parah dan mencoba untuk berdamai dengan hidupnya dan Tuhan sebelum pergi.

Baginya berdamai mungkin hanya memerlukan pembunuhan atas tiga bos tua yang telah menipunya.

ashby_t_cms_638x425.jpg

ashby-A_02250_rgb.jpg

Ashby_2015-10.jpg

banner-appwal.jpg

Download Film Ashby (2015) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 42 Menit - 59 Detik
Ukuran: 277 mb
SS:
ashby15_DLrmcmv_mp4_thumbs_2016_06_27_19

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/3eva8d6ylyb2
TF: http://www.tusfiles.net/nvg5ut0u6cst
UF: uploading...
UI: http://sht.io/i4g9
SF: http://sht.io/i4g2
UP: http://uppit.com/cfy0n7075kyk


Subtitle: dl-ashby-2015.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:ObezSubs

Download Film Ashby (2015) WEB-DL Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 193 mb
SS:
ashby15_DLrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/eodqi1ts2jhn
TF: http://www.tusfiles.net/vq7nt864kpkz
UF: uploading...
UI: http://sht.io/i4g6
SF: http://sht.io/i4g3
UP: http://uppit.com/v69esez765qt


Subtitle: dl-ashby-2015.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:ObezSubs