I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Fantasy Movies. Show all posts
Showing posts with label Fantasy Movies. Show all posts

Monday, April 23, 2018

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip

Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Image result

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DeKnight bersama dengan T.S. Nowlin (Maze Runner: The Death Cure, 2017), Emily Carmichael, dan Kira Snyder, jalan cerita Pacific Rim Uprising mengambil latar belakang waktu pengisahan sepuluh tahun semenjak terjadinya Battle of the Breach yang dikisahkan di Pacific Rim. Dikisahkan, Jake Pentecost (John Boyega) – yang merupakan putera dari General Stacker Pentecost (Idris Elba) yang telah meninggal dunia – dipaksa oleh kakak angkatnya, Mako Mori (Rinko Kikuchi), untuk kembali bertugas pada Pan-Pacific Defence Corps sebagai seorang pelatih bagi kadet-kadet muda kesatuan tersebut. Bukan sebuah persoalan mudah. Meskipun memiliki ayah yang telah dianggap sebagai sosok pahlawan bagi kebanyakan manusia di muka Bumi, Jake Pentecost memilih untuk menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Walau menerima “paksaan” sang kakak angkat, Jake Pentecost menjalankan tugasnya dengan malas-malasan. Sikap tersebut bahkan semakin menjadi-jadi setelah Jake Pentecost kembali bertemu dengan saingan terberatnya selama menjadi kadet muda terdahulu, Nate Lambert (Scott Eastwood). Namun, setelah kemunculan sebuah robot asing yang menimbulkan kekacauan besar, Jake Pentecost sadar bahwa kemampuannya diperlukan untuk berjuang dan memperbaiki keadaan.

Genre:  Action, Adventure, Fantasy, Science Fiction



Friday, June 9, 2017

WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO




Released
2 June 2017 (USA)

Country
USA | China | Hong Kong

Language
English | German

Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War

Director
Patty Jenkins

Writers
Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits »

Starcast
Gal GadotChris PineRobin Wright | See full cast & crew »

Rating
Wonder Woman (2017) on IMDb
Review:
Cukup mengherankan untuk melihat baik DC Films maupun Marvel Studios (atau rumah produksi Hollywood lainnya) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya menggarap sebuah film pahlawan super dengan sosok karakter wanita berada di barisan terdepan. Terlebih, film-film bertema pahlawan super tersebut saat ini sedang begitu digemari oleh banyak penikmat film sehingga mampu mendatangkan jutaan penonton – khususnya para penonton wanita. Marvel Studios sebenarnya memiliki kesempatan tersebut ketika mereka memperkenalkan karakter Black Widow yang diperankan Scarlett Johansson pada Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010) dan The Avengers (Joss Whedon, 2012) yang akhirnya kemudian begitu mencuri perhatian. Entah karena masih kurang percaya diri atau merasa karakter Black Widow belum terlalu menjual, ide pembuatan film solo untuk Black Widow akhirnya terkubur dalam hingga saat ini. Johansson sendiri kemudian mampu membuktikan nilai jualnya ketika ia membintangi Lucy (Luc Besson, 2014), Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014), dan Ghost in the Shell (Rupert Sanders, 2017) yang menempatkannya sebagai semacam sosok pahlawan super wanita sekaligus berhasil meraih kesuksesan secara komersial ketika masa perilisannya.
Well… Marvel Studios had their chances and ruined it. Pada tahun 2010, studio pesaingnya, DC Films – yang film-film pahlawan supernya selama ini seringkali menjadi bulan-bulanan para kritikus film dunia selepas trilogi The Dark Knight (2005 – 2012) arahan Christopher Nolan – mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi adaptasi film layar lebar dari Wonder Woman. Setelah mengumumkan bahwa Patty Jenkins (Monster, 2003) akan duduk di kursi penyutradaraan dan Gal Gadot (Fast and Furious 6, 2013) akan berperan sebagai karakter ikonik Diana Prince/Wonder Woman, DC Films kemudian secara resmi memulai proses produksi film di tahun 2015. Reputasi film-film pahlawan super milik DC Films sempat membayangi sekaligus memberikan keraguan pada Wonder Woman. Namun, dengan naskah cerita yang solid dari Allan Heinberg, penampilan yang begitu mengikat dari Gadot sekaligus arahan yang sangat kuat dari Jenkins, Wonder Woman mampu menentang segala ekspektasi terhadapnya. Tidak hanya menjadi film terbaik DC Films semenjak The Dark Knight (Nolan, 2008), Wonder Woman adalah salah satu film pahlawan super terbaik yang pernah dirilis Hollywood hingga saat ini.
Dibuka dengan cuplikan adegan yang sempat muncul dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (Zack Snyder, 2016) – dimana DC Films menghadirkan karakter Diana Prince/Wonder Woman untuk pertama kali, Jenkins memulai Wonder Woman dengan mengajak penonton berkenalan dengan asal usul sang wanita ajaib tersebut. Merupakan puteri dari penguasa kepulauan Themyscira yang merupakan tempat tinggal bagi kaum Amazon, Queen Hippolyta (Connie Nielsen), perkenalan Diana (Gadot) dengan seorang kapten Angkatan Darat Amerika Serikat, Steve Trevor (Chris Pine), kemudian membawanya bertualang jauh dari tanah kelahirannya. Dari informasi yang diberikan Steve Trevor, Diana mengetahui bahwa dunia sedang menghadapi perang besar yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Merasa bahwa peperangan tersebut disebabkan oleh Ares sang Dewa Perang, dan sebagai kaum Amazon yang bertugas untuk menundukkan Ares, Diana lantas bergabung dengan Steve Trevor dan pasukannya demi menghentikan peperangan.
Penampilan Gadot merupakan kunci mengapa karakter Diana Prince/Wonder Woman tampil begitu memikat. Seperti halnya Hugh Jackman yang memerankan James Howlett/Logan/Wolverine atau Robert Downey, Jr. yang memerankan Tony Stark/Iron Man atau Chris Evans yang memerankan Steve Rogers/Captain America, Gadot jelas terlahir untuk memerankan Diana Prince/Wonder Woman. Tidak seperti Black Widow yang tampil seduktif, Diana Prince/Wonder Woman adalah sosok pahlawan super dengan kepribadian yang terasa begitu lugu – mungkin dapat dideskripsikan sebagai versi wanita dari Steve Rogers/Captain America. Gadot mampu merepresentasikan gambaran tersebut dengan kuat. Meskipun dengan penampilan fisik yang sempurna – dan sentuhan lip gloss yang setiap melapisi bibirnya, kharisma Gadot mampu menjadikan karakter yang ia perankan terasa masih begitu membumi, hangat, dan mudah didekati siapa saja. Deskripsi penampilan yang jelas membuat baik Gadot maupun Diana Prince/Wonder Woman akan sangat mudah untuk disukai atau dicintai atau bahkan diidolai oleh siapa saja.
Tentu saja, penampilan Gadot juga merupakan hasil dari pengarahan yang sangat mengagumkan dari Jenkins. Merupakan film kedua Jenkins setelah Monster yang berhasil memenangkan Charlize Theron sebuah Academy Award, Wonder Woman hadir dengan kekuatan penceritaan dan teknikal layaknya film-film bertema sama arahan para sutradara pria namun dengan sentuhan sensitivitas seorang wanita. Kelebihan tersebut begitu terasa pada kemampuan Jenkins untuk menonjolkan kepribadian setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita dan membuat kehadiran mereka terasa begitu esensial, bahkan bagi karakter-karakter dengan jalinan kisah yang minimalis. Hal ini yang membuat pertarungan akhir yang dihadapi Diana Prince/Wonder Woman terasa lebih sebagai sebuah pertarungan ideologis antara dua karakter daripada sebagai sebuah pertarungan untuk menggelorakan penggunaan tata efek visual yang melelahkan seperti yang terjadi dalam adegan pertarungan final pada Batman v Superman: Dawn of Justice.
Perjalanan pengisahan Wonder Woman sendiri bukannya hadir tanpa permasalahan. Dengan karakter Diana Prince/Wonder Woman yang begitu mempesona, karakter-karakter antagonis dalam film ini seringkali terasa kurang begitu memorable. Begitu pula dengan karakter-karakter pendukung yang hadir di sekitaran Diana Prince/Wonder Woman maupun Steve Trevor. Paruh kedua dan ketiga pengisahan film juga memiliki beberapa masalah. Setelah deretan pengenalan karakter dan konflik pada paruh pertama, paruh kedua terasa sedikit hambar dalam pengelolaan ceritanya – meskipun mampu menggali kedalaman hubungan karakter Diana Prince/Wonder Woman dengan Steve Rogers dengan baik. Paruh ketiga yang berisi penyelesaian deretan konflik yang telah dikembangkan pada paruh-paruh pengisahan sebelumnya juga sempat terasa goyah pada beberapa bagian. Meskipun begitu, kelemahan-kelemahan minor tersebut untungnya tidak akan mengurangi kualitas pengisahan Wonder Woman secara keseluruhan yang mampu diproduksi dengan apik.
Berbicara mengenai departemen akting, penampilan Pine sebagai Steve Trevor mampu mendampingi penampilan Gadot dengan baik. Chemistry­-nya yang sangat hangat dengan Gadot membuat hubungan mereka terlihat begitu manis. Chemistry itu pula yang kemudian berhasil menyumbangkan beberapa momen emosional dalam presentasi cerita Wonder Woman. Selain Pine, penampilan-penampilan pendukung dalam film ini hadir dalam kualitas yang solid. Mulai penampilan dari Nielsen dan Robin Wright sebagai dua sosok wanita terdekat bagi karakter Diana Prince/Wonder Woman, David Thewlis, David Huston, Elena Anaya hingga Lucy Davis yang kerap kali berhasil mencuri perhatian. Kualitas penampilan departemen akting yang unggul tersebut yang kemudian berhasil semakin membuat Wonder Woman hadir begitu istimewa. Sebuah pencapaian yang jelas memberikan standar baru (yang cukup tinggi) bagi film-film pahlawan super wanita di masa yang akan datang. An instant classic!

LINK DIJAMIN BISA KARNA SUDAH DIUJI OLEH ADMIN 
FILE SIZE= 348MB
FORMATMP4
LINK
Subtitle: hdts.wonderwoman.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: unickunru

Friday, November 18, 2016

Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO


Released
14 September 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
David Lowery
Writers
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew »
Rating
7.2/10
Review:
Disney belum berhenti untuk bercerita tentang believing in wonder di tahun ini. Di awal tahun kita sudah bertemu dengan ‘Zootopia’ bersama seekor kelinci yang berjuang meraih mimpinya, yang kemudian disusul oleh ‘The Jungle Book’ dan ‘Finding Dory’. Kini ‘Pete’s Dragon’ hadir mencoba meneruskan pencapaian tadi, sebuah redesign yang sehat pada a tale of a magic tentang kisah persahabatan antara seorang manusia dengan seekor naga dengan kombinasi heart, semangat, dan visual yang menyenangkan. It’s ‘The Good Dinosaur’ meets ‘The Jungle Book’ with good heart and magic.
Grace Meacham (Bryce Dallas Howard), seorang penjaga hutan, tidak percaya dengan cerita sang ayah, Mr. Meacham (Robert Redford), tentang naga yang hidup di dalam hutan, sampai ketika ia bertemu dengan Pete (Oakes Fegley). Remaja berusia 10 tahun itu mengatakan selama ini ia diasuh dan dilindungi oleh seekor naga hijau bernama Elliot. Pete yang selama ini bersembuyi dari interaksi sosial dengan manusia lain keluar dari hutan untuk meminta bantuan dari Grace. Hutan tempat ia dan Elliot selama ini tinggal sedang terancam aksi dari para penebang hutan yang dipimpin pria bernama Gavin (Karl Urban).
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber

FILE SIZE : 308 MB
MP4
LINK

Friday, November 11, 2016

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO



Released
30 September 2016 (Indonesia)
Country USA | UK | Belgium
Language
English
Genres
Adventure | Drama | Family | Fantasy
Director
Tim Burton
Writers
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay)
Starcast
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew »
Rating
7.1/10
Review:
Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.
Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) memiliki ikatan yang erat dengan kakeknya Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp), sosok yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur tentang sebuah rumah berisikan anak-anak yang memiliki kekuatan unik di bawah pimpinan wanita bernama Miss Alma LeFay Peregrine (Eva Green). Suatu ketika musibah menimpa Abe dan kemudian meninggalkan Jake dalam kondisi sepi serta terus dirundung mimpi buruk, dipaksa untuk bertemu psikiater bernama Dr. Golan (Allison Janney) untuk dapat mengatasi kesedihannya. Tapi suatu ketika berawal dari sebuah postcards rasa ingin tahu Jake terhadap kebenaran dari dongeng yang selalu Abe ceritakan itu menjadi besar, bersama sang ayah Franklin (Chris O’Dowd) dia kemudian menuju Wales berharap dapat menemukan rumah Miss Peregrine.
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber
 

FILE SIZE : 343 MB
MP4
LINK

Friday, November 4, 2016

Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo

Hasil gambar untuk doctor strange 
Sinopsis Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.

Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.

Review Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.

Released
26 October 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi
Director
Scott Derrickson
Writers
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit »
Starcast
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew »
Rating
8.0/10

FILE SIZE : 287 MB
MP4
LINK
 [USERCLOUD] 

Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia

Saturday, October 22, 2016

Nine Lives (2016) BluRay


Released
5 August 2016 (USA)
Country France | China
Language
English
Genres
Comedy | Family | Fantasy
Director
Barry Sonnenfeld
Writers
Gwyn Lurie, Matt Allen | 3 more credits »
Starcast
Kevin Spacey, Jennifer Garner, Robbie Amell | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 4.6/10

Sinopsis:
Film NINE LIVES bercerita tentang seorang pengusaha yang gila kerja. Hari-harinya selalu diisi dengan bekerja dan terus bekerja. Baginya tak ada hari yang tak diisi dengan bekerja. Hal tersebut lantas membuat dirinya menjadi memiliki jarak dengan keluarganya sendiri. Walaupun begitu, ia tetap menikmati pekerjaannya tersebut.
Hingga suatu hari, pria tersebut mengalami sebuah kecelakaan yang tak sengaja mengakibatkan dirinya berada dalam tubuh seekor kucing rumah milik keluarganya. Kini ia tak bisa lagi bekerja seperti dahulu, dan hidup layaknya seekor kucing. Selagi ia berada dalam tubuh seekor kucing, ia belajar mengenai menghabiskan waktu dengan keluargnya.








FILE SIZE : 253MB


Friday, July 22, 2016

Ghostbusters (2016) BLUERAY + Subtitle Indonesia

ghostbusters-ver6.jpg
movieinfo.png
Released
15 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Comedy | Fantasy | Sci-Fi
Director
Paul Feig
Writers
Katie Dippold, Paul Feig | 3 more credits »
Starcast
Melissa McCarthy, Kristen Wiig, Kate McKinnon | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.3/10

Review:

Rasa kaget yang begitu besar muncul ketika melihat gelombang “menolak” yang hadir di trailer reboot Ghostbusters empat bulan yang lalu, hinggatelah mendapat 930.000+ dislike. Kita tahu betapa besar cinta yang diperoleh versi original Ghostbusters tapi apakah menolak secara frontal untuk sebuah “pembaharuan” yang bahkan kita belum tahu baik dan buruknya merupakan sebuah tindakan yang sehat? Memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekuel versi original, ‘Ghostbusters (2016)’ berhasil memberikan punch begitu kuat untuk kaum pesimistis tadi, a bigger and bustier re-imagining to the classic film. Not super legit but pleasantly solid.

Berawal dari usaha untuk menarik buku terkait fenomena paranormal yang pernah ia publikasikan dan kini mengancam reputasinya, Erin Gilbert (Kristen Wiig) bersedia untuk membantu sahabat lamanya Abby Yates (Melissa McCarthy) yang kini sedang melakukan investigasi paranormal bersama Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Investigasi tersebut ternyata membawa Erin Gilbert kembali tertarik pada dunia paranormal dan untuk melanjutkan penelitian bersama Abby dan Jillian mendirikan "Department of the Metaphysical Examination." Berawal dari pekerja subway Patty Tolan (Leslie Jones) yang melihat hantu di jalur kereta pertempuran di antara girls versus ghosts dimulai.

Kota New York sedang berada di bawah serangan para mayat hidup. Who you gonna call? Yeah, Ghostbusters! Menjadi target cemoohan lengkap dengan berbagai argumen hingga komentar miring dengan sikap politik dan membawa isu feminisme, Ghostbusters berhasil menjawab mereka semua dengan menyajikan sebuah supernatural comedy yang menyenangkan. Paul Feig (Bridesmaids, The Heat, Spy) cermat dan cerdik dalam meramu kembali cerita bersama Katie Dippold, semua rasa cemas calon penonton setelah menyaksikan trailer hilang ketika Abby dan tiga sahabatnya itu mulai beraksi. Mengapa? Karena ‘Ghostbusters’ tidak hanya terasa seperti sekedar reboot belaka, sebuah komedi yang berhasil tampil lucu dalam gerak cepat namun memiliki hati yang menarik terkait beberapa topik menarik seperti persahabatan, namun ini juga terasa seperti sebuah re-imagining dengan sentuhan modifikasi yang manis dan tepat guna.

Sekali lagi, versi original Ghostbusters merupakan sebuah film klasik yang “manis” tapi ketika menyaksikan film ini versi original tersebut jarang tampil "mencuri" atensi di pikiran penonton secara berlebihan. Bagaimana bisa? Karena film ini tidak mencoba menyaingi bahkan mengalahkan versi originalnya. Ini seperti sebuah penghormatan kepada versi original dengan menggunakan empat karakter wanita. Sejak berkembang dari sinopsis kita masuk kedalam sebuah “dunia” baru pertempuran manusia melawan hantu, banyak menghadirkan referensi namun Paul Feig membawa ini untuk berjalan di petualangan mereka sendiri, menghadapi ancaman supranatural dengan carefree manner yang menarik untuk diikuti. Komedi memang terhitung sering mencuri posisi terdepan dari elemen supranatural tapi dinamika dan pesona cerita serta karakter terasa stabil, banter mereka cukup asyik dan kamu seolah menjadi anggota kelima di dalam tim.

Hasilnya topik utama terkait persahabatan jadi terasa impresif. Tentu saja banyak hantu di sana sini tapi fokus penonton terus terpaku pada persahabatan empat karakter utama yang terasa memikat, tanpa drama berlebihan dan lebih mengandalkan humor. Para hantu juga tidak kalah oke dibandingkan karakter manusia, itu mengapa pertempuran ini terasa seimbang. Visual efek berhasil menciptakan fantasi yang manis, para hantu tampil dengan esensi yang pas dengan tujuan yang ingin dicapai film ini, mampu mengintimidasi tapi tidak merusak usaha dari komedi. Special note juga berasal dari visual. Secara mengejutkan Ghostbusters ternyata juga merupakan sajian visual experience, kesan “kaya” yang dimiliki visual Ghostbusters terasa cool dan menyenangkan, visual juga digunakan oleh Paul Feig untuk menambah kedalaman nada cerita serta membantu narasi bercerita. Disarankan untuk menonton film ini di format 3D atau versi IMAX 3D, it’s one of the best 3D film.

Lalu apa kekurangan Ghostbusters? Film ini terasa begitu mengikat sejak awal hingga akhir tapi ia juga tidak luput dari beberapa minus yang sebenarnya tidak semua dari mereka mampu merusak kenikmatan yang ia tampilkan. Energi Ghostbusters terasa oke tapi sebelum masuk ke paruh kedua durasi harus diakui naskah di beberapa bagian terasa goyah. Dengan begitu mengandalkan karakter untuk meraih atensi penonton penting pula bagi penonton untuk merasa “dekat” dengan karakter, jika tidak maka cengkeraman dari petualangan mereka akan terasa biasa bahkan terasa lemah. Karakter hantu terasa memikat tapi karakter antagonis manusia terasa, well, kurang menggigit. Dampaknya cukup signifikan karena taruhan dari pertempuran antara girls versus ghosts ini tidak pernah mencapai titik maksimal meskipun hal tersebut tertutupi dengan cukup rapi oleh energi komik dari empat karakter utama.

Dasar dari karakter masih bersandar pada versi originalnya namun ditampilkan dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya “manja.” Kristen Wiig berhasil menampilkan "kejengkelan" yang dimiliki Erin Gilbert dengan baik, Melissa McCarthy mampu membentuk Abby Yates menjadi karakter agresif yang menarik, sedangkan Leslie Jones terasa seperti karakter Anger di Inside Out. Sebagai sebuah tim ensemble mereka terasa tangguh tapi ada satu karakter yang berhasil tampil sedikit lebih menonjol. Dia adalah Jillian Holtzmann, diperankan dengan sangat baik oleh Kate McKinnon. Jillian Holtzmann merupakan karakter yang unik dan mampu konsisten mencuri perhatian, ia seperti punya energi nakal dan liar yang membuat penonton merasa apa yang ia lakukan tidak hanya lucu tapi juga keren. Oh, Chris Hemsworth! Memberikan kinerja yang terasa santai Thor punya momen yang mampu ia manfaatkan dengan baik.

Sejak awal Ghostbusters tidak mencoba menyaingi versi original, dengan hormat meminjam format untuk membangun “dunia” baru bagi pertempuran wanita melawan hantu. Paul Feig membentuk spirit dan formula lengkap dengan “kebisingan” dari versi original menjadi sebuah petualangan lucu yang tidak lupa untuk tampil mengintimidasi. Berayun penuh variasi dengan percaya diri tinggi, Ghostbusters memang tidak superb namun dengan visual yang memikat serta cerita dan karakter yang konsisten terasa menarik ini berhasil menjadi kombinasi komedi dan fantasi yang menyenangkan. A pleasantly solid fantasy comedy, it’s a pleasure hanging out with these characters.
Sumber

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

Ghostbusters-2016-Action-comedy-Paul%2BF

banner-appwal.jpg

Download Film Ghostbusters (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 55 Menit - 27 Detik
Ukuran: 305 mb
SS:
ghsbstr16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_2016_07_2

Download Single Link:
download-button.gif
USERCLOUD

Subtitle: brext-ghssbstr-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng






Alice Through the Looking Glass (2016) BluRay+Subtitle Indonesia

alicebrthrough-the-lookin.jpg
movieinfo.png
Released
27 May 2016 (USA)
CountryUSA | UK
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
James Bobin
Writers
Linda Woolverton (screenplay), Lewis Carroll (books)
Starcast
Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.3/10

Review:

Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.

Ketika kembali ke London Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) mendapati bahwa mantan tunangannya telah mengendalikan properti keluarganya. Bingung dan marah, Alice kembali ke Underland melalui sebuah cermin. Alice mendapat berita bahwa kehidupan Mad Hatter (Johnny Depp) terancam “mati”, ia terus berkabung karena percaya bahwa keluarganya masih hidup. Princess Mirana (Anne Hathaway), The White Queen, menugaskan Alice menemui Time (Sacha Baron Cohen), raja pengendali waktu di Underland, untuk meminta izin menggunakan Chronosphere dan melakukan perjalan waktu. Tugas Alice ternyata tidak mudah, Iracebeth of Crims (Helena Bonham Carter), The Red Queen, juga menginginkan Chronosphere untuk melakukan rencana jahatnya.

Tidak disutradarai oleh Tim Burton ternyata tidak membuat petualangan Alice berubah arah. Misi utama film ini ternyata masih sama seperti Alice in Wonderland, menciptakan petualangan fantasi penuh warna-warni yang sama gilanya, dan meskipun memakai template serupa dalam hal visual di tangan James Bobin Alice Through the Looking Glass sukses melaksanakan niatnya itu. Terasa lebih terang dengan kesan gelap yang sedikit berkurang, pemanfaatan visual di film ini terasa menarik sejak sinopsis yang standar itu hingga ketika ia berakhir dengan cara yang juga standar. Alice Through the Looking Glass punya estetika ala Tim Burton di sektor visual, seolah memaksa penonton terus berteman dengan gambar-gambar eye-popping, kostum yang mewah, production design dan sinematografi juga oke, dikemas over-the-top dan setia pada “aturan dasar” milik Tim Burton.

Satu paragraf tadi cukup untuk mewakili nilai positif film ini. Ya, hanya visual yang tampil oke di Alice Through the Looking Glass, sisanya kembali tampil sama seperti film pertama, terasa underwhelming. Alice in Wonderland (2010) bukan kemasan yang luar biasa, ada kekurangan yang ia tinggalkan namun sayangnya tidak coba diperbaiki oleh film ini. Alasan utama Alice Through the Looking Glass tidak mampu konsisten tampil memikat adalah cerita yang ia punya terasa cukup hambar, dan sumber masalahnya masih sama yaitu narasi. Tidak mengharapkan sesuatu yang benar-benar kompleks tapi setidaknya narasi harus mampu menciptakan dan menjaga rasa menarik dari masalah di dalam cerita. James Bobin kurang berhasil mengolah naskah yang ditulis oleh Linda Woolverton, masih membangun narasi dengan cara konvensional untuk membentuk sebuah fantasi berkilau yang juga mencoba membawa berbagai isu substantif yang akhirnya terbengkalai tanpa penjelasan.

Alice Through the Looking Glass terus terasa goyah karena ia mencoba melanjutkan dan mengeksploitasi dasar rapuh dari film pertama dan tidak mampu memperbaikinya. Seandainya Alice Through the Looking Glass punya narasi yang lebih kohesif ia akan dengan mudah berakhir di level yang lebih baik. Mengapa? Karena jika berpadu dengan baik alur cerita akan mengikat penonton sehingga mereka konsisten tertarik untuk mengamati lebih lanjut karakter dan masalah di dalam cerita seperti kemerdekaan dan emansipasi. Koneksi yang baik antara karakter, cerita, dan penonton tidak dimiliki film ini sehingga penonton perlahan kehilangan rasa peduli pada karakter dan cerita. Terasa aneh ketika ada momen di mana rasa simpati pada karakter antagonis lebih besar ketimbang karakter protagonist, melengkapi minus utama di mana konflik tidak menampilkan sebuah konsekuensi yang menarik.

Hal serupa terjadi pada kinerja cast, mereka kurang menarik. Terasa menyedihkan bakat seperti Mia Wasikowska harus tenggelam di dalam hiruk pikuk CGI di sekelilingnya. Mia Wasikowska mampu menampilkan sisi berani Alice tapi pesonanya tidak maksimal dan terus terdegradasi. Itu juga dialami oleh pemeran pendukung seperti Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, dan Sacha Baron Cohen, masing-masing punya momen tapi pesona karakter mereka tidak begitu kuat walaupun beberapa humor berhasil mereka sampaikan dengan cukup oke. Oh, Johnny Depp? Karakter The Mad Hatter yang sedang dalam kondisi berduka membuat Depp seperti terbatasi keleluasaannya. Ia berulang kali berusaha menampilkan ekspresi sedih dan pengharapan tapi kurang berhasil tersampaikan karena terbentur kesan eksentrik dan antic yang ia miliki.

Dengan fantasi sebagai jualan utama usaha Alice Through the Looking Glass untuk menciptakan dunia fantasi yang imajinatif patut diapresiasi terutama sektor visual yang kembali tampil memikat dengan segala eksekusi over-the-top yang mewah dan eye-popping. Namun sayangnya semua kemilau dari visual tadi membuat Alice Through the Looking Glass terasa berat sebelah, visual oke namun cerita tidak oke, hal yang salah di mana keduanya harus berkombinasi dengan baik untuk menciptakan sebuah fantasi yang menarik. Akibat kombinasi visual bersama cerita dan narasi yang kurang kuat film ini terasa underwhelming, Alice Through the Looking Glass berakhir sebagai petualangan fantasi yang kaku dan tasteless. Kualitas visual worth the price of admission, tapi waktu? For me, nope. Segmented.
Sumber

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

Alice%2BThrough%2Bthe%2BLooking%2BGlass%

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: br-alicelkinglass-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng
buzzcity

Thursday, June 9, 2016

Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BLUERAY +Subtitle Indonesia

teenageposter.jpg
movieinfo.png
Released
3 June 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Adventure | Comedy | Fantasy | Sci-Fi
Director
Dave Green
Writers
Josh Appelbaum, AndrĂ© Nemec | 2 more credits »
Starcast
Megan Fox, Will Arnett, Tyler Perry | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.5/10

Review:

Penggunaan CGI dalam film blockbuster perlahan mulai sama seperti basic melody dan tipikal builds up yang digunakan di Electonic Music Dance, all sounds the same, all feels the same. Pemain di industri harus semakin cermat dalam menggunakan CGI, mereka harus menciptakan sebuah gebrakan yang luar biasa dari segi kualitas jika murni ingin “menjual” CGI, atau melakukan cara sederhana dengan menciptakan kombinasi antara CGI dan cerita yang saling melengkapi satu sama lain. Dua hal tersebut kurang berhasil dilakukan dengan baik oleh film ini, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, another forgettable boom-boom-bang-bang project from the producer of Transformers.

Satu tahun setelah pertempuran mereka melawan The Shredder (Brian Tee) dan Eric Sacks, Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher), dan Donatello (Jeremy Howard) masih menyembunyikan identitas asli mereka dan mempersilahkan Vern Fenwick (Will Arnett) untuk mengambil kredit atas kesuksesan yang mereka raih. The Shredder ternyata sedang menyusun rencana untuk lepas dari tahanan pemerintah, dibantu ilmuwan Dr. Baxter Stockman (Tyler Perry) proses transfer antar penjara yang dikomandoi prison officer Casey Jones (Stephen Amell) ia gunakan untuk mewujudkan rencananya tersebut. Celakanya ketika TMNT mencoba menghalangi rencana tersebut proses teleportasi yang dilakukan oleh Stockman membawa Shredder bertemu dengan panglima perang alien, Krang (Brad Garrett).

First of all, review ini akan dinilai dari sudut pandang penonton dewasa. Mengapa? Karena dua tahun lalu ketika selesai menyaksikan Teenage Mutant Ninja Turtles ada seorang rekan yang berujar bahwa film tersebut dibuat untuk anak-anak bahkan untuk penonton usia dini. No, itu gila, meskipun PG-rated film tersebut tidak memenuhi standar film keluarga yang ramah. Hal tersebut kembali terjadi di Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, ketika di bagian awal kita sudah dibawa untuk menyaksikan sex appeal Megan Fox lengkap dengan pakaian sekolah ala Jepang, dari sana penonton paham di mana target utama yang diincar oleh film ini. Sayangnya meskipun menetapkan target dengan begitu meyakinkan sayangnya film ini tidak tampil sama meyakinkannya ketika membawa penontonnya bergembira bersama, memanfaatkan karakter untuk menyajikan berbagai aksi gila tanpa diiringi konsistensi daya tarik yang mumpuni.

Itu alasan mengapa di awal menyebut ini sebagai kemasan terbaru yang akan begitu mudah terlupakan, karena seperti film pertama di mana TMNT di bawa berseluncur di gunung bersalju jika seminggu lagi mencoba mengingat kembali tentang TMNT 2 maka hanya akan bisa menjawab adegan berseluncur di udara. Selebihnya? Sebuah paket action-adventure yang miskin pesona dan jiwa meskipun memiliki ide yang menarik. Isu tentang proses menerima dan upaya meruntuhkan perbedaan antara TMNT dan manusia itu sebenarnya punya potensi besar, tapi sayangnya ketimbang dimanfaatkan itu hanya jadi pemanis yang terlupakan karena sutradara Dave Green (Earth to Echo) serta writer Josh Appelbaum dan André Nemec lebih fokus pada bagaimana membentuk berbagai set di mana akan digunakan untuk membuat penonton terpukau lewat tampilan visual.

Ini bukan kelas hardcore ketika berbicara sumber utama materi film ini, comic book Teenage Mutant Ninja Turtles, namun sepertinya akan lebih menarik jika busur cerita dikembangkan sedikit lebih jauh saja sehingga TMNT: Out of the Shadows punya kepentingan yang menarik yang eksis di pusat cerita. Secara kualitas sinopsis standar tapi cerita terasa sedikit lebih menarik dari film pertama, karakter juga masing-masing punya momen yang menarik, tapi TMNT: Out of the Shadows tidak berhasil membentuk setup yang kuat untuk menopang berbagai ide yang ia punya, proses penerimaan, dendam pribadi, adegan kejar-kejaran, mondar - mandir bersama Krang, hingga hal sepele semakin teamwork, mereka perlahan semakin terasa kurang menarik akibat tidak dirakit dengan irama yang pas. Di jaman ketika CGI perlahan menjadi sesuatu yang normal diterapkan dalam hiburan visual sepenuhnya mengandalkan CGI yang hadir tanpa gebrakan luar biasa untuk terus hidup bukan sebuah kebijakan yang sehat, hal yang dilakukan oleh film ini.

Lantas apakah TMNT: Out of the Shadows adalah sebuah hiburan yang buruk? Tidak, tapi jika dibandingkan dengan ini tidak memberikan sebuah lompatan besar dari kualitas film pertamanya. Jika kamu penonton yang mudah dipuaskan oleh CGI maka film ini akan menjadi kue yang sangat nikmat, TMNT: Out of the Shadows tidak pernah terasa “mati” hingga akhir berkat kualitas motion capture serta CGI yang mengesankan, interaksi antara karakter animasi kura-kura (mereka bukan penyu?) dengan karakter manusia dieksekusi dengan baik, meskipun sayangnya karakter manusia terasa datar, hanya Laura Linney dan Stephen Amell (Arrow) yang tampil mumpuni. Dialog juga punya peran mengapa pesona karakter tidak maksimal, mereka tumpul, bahkan sulit untuk merasakan sebuah ancaman serius dan berbahaya dari karakter antagonis, sebuah proses merakit yang dilakukan Krang tidak pernah mampu mengintimidasi.

Membawa berbagai topik yang menarik untuk menyokong tujuan utama mereka yang masih sama yaitu menyajikan pesta visual gerak cepat, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows terasa terlalu biasa, kemasan boom-boom-bang-bang yang kurang mampu meninggalkan impresi yang kuat dan membekas, sama seperti film pertamanya. Ketika menyajikan momen lucu TMNT: Out of the Shadows tampil tidak terlalu buruk, namun ketika ia mencoba mendorong materi yang lebih serius sebagai penyeimbang kombinasi yang tercipta terasa kaku. Tidak segar, terlalu terburu-buru, kerap kali terasa canggung, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows gagal memaksimalkan potensi yang ia miliki untuk membawa waralaba ini naik satu tingkat lebih tinggi. Segmented.
Sumber

Teenage%2BMutant%2BNinja%2BTurtles%2BOut

Teenage%2BMutant%2BNinja%2BTurtles%2BOut

Teenage%2BMutant%2BNinja%2BTurtles%2BOut

banner-appwal.jpg
Download Film Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 52 Menit - 07 Detik
Ukuran: 326 mb
SS:



Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
Subtitle: br-tmnt2-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: 
seaZ