This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Monday, April 23, 2018
Pacific Rim 2: Uprising (2018) HC HDRip
Friday, June 9, 2017
WONDER WOMAN (2017) HDTS+SUB INDO

Released | 2 June 2017 (USA) |
Country | USA | China | Hong Kong |
Language | English | German |
Genres | Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi | War |
Director | Patty Jenkins |
Writers | Allan Heinberg (screenplay), Zack Snyder (story by) | 3 more credits » |
Starcast | Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright | See full cast & crew » |
Rating |
Friday, November 18, 2016
Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO

|
Released
|
14 September 2016 (Indonesia) |
| Country | USA |
|
Language
|
English |
|
Genres
|
Adventure | Family | Fantasy |
|
Director
|
David Lowery |
|
Writers
|
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits » |
|
Starcast
|
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew » |
| Rating |
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber



Friday, November 11, 2016
Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO

|
Released
|
30 September 2016 (Indonesia) |
| Country | USA | UK | Belgium |
|
Language
|
English |
|
Genres
|
Adventure | Drama | Family | Fantasy |
|
Director
|
Tim Burton |
|
Writers
|
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay) |
|
Starcast
|
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew » |
| Rating |
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber


Friday, November 4, 2016
Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo
Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.
Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.
Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.
Released
|
26 October 2016 (Indonesia) |
| Country | USA |
Language
|
English |
Genres
|
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi |
Director
|
Scott Derrickson |
Writers
|
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit » |
Starcast
|
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew » |
| Rating |
Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia
Saturday, October 22, 2016
Nine Lives (2016) BluRay
Released
|
5 August 2016 (USA) |
| Country | France | China |
Language
|
English |
Genres
|
Comedy | Family | Fantasy |
Director
|
Barry Sonnenfeld |
Writers
|
Gwyn Lurie, Matt Allen | 3 more credits » |
Starcast
|
Kevin Spacey, Jennifer Garner, Robbie Amell | See full cast & crew » |
| Rating |

Friday, July 22, 2016
Ghostbusters (2016) BLUERAY + Subtitle Indonesia
Released | 15 July 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genres | Comedy | Fantasy | Sci-Fi |
Director | Paul Feig |
Writers | Katie Dippold, Paul Feig | 3 more credits » |
Starcast | Melissa McCarthy, Kristen Wiig, Kate McKinnon | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Rasa kaget yang begitu besar muncul ketika melihat gelombang “menolak” yang hadir di trailer reboot Ghostbusters empat bulan yang lalu, hinggatelah mendapat 930.000+ dislike. Kita tahu betapa besar cinta yang diperoleh versi original Ghostbusters tapi apakah menolak secara frontal untuk sebuah “pembaharuan” yang bahkan kita belum tahu baik dan buruknya merupakan sebuah tindakan yang sehat? Memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekuel versi original, ‘Ghostbusters (2016)’ berhasil memberikan punch begitu kuat untuk kaum pesimistis tadi, a bigger and bustier re-imagining to the classic film. Not super legit but pleasantly solid.
Berawal dari usaha untuk menarik buku terkait fenomena paranormal yang pernah ia publikasikan dan kini mengancam reputasinya, Erin Gilbert (Kristen Wiig) bersedia untuk membantu sahabat lamanya Abby Yates (Melissa McCarthy) yang kini sedang melakukan investigasi paranormal bersama Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Investigasi tersebut ternyata membawa Erin Gilbert kembali tertarik pada dunia paranormal dan untuk melanjutkan penelitian bersama Abby dan Jillian mendirikan "Department of the Metaphysical Examination." Berawal dari pekerja subway Patty Tolan (Leslie Jones) yang melihat hantu di jalur kereta pertempuran di antara girls versus ghosts dimulai.
Kota New York sedang berada di bawah serangan para mayat hidup. Who you gonna call? Yeah, Ghostbusters! Menjadi target cemoohan lengkap dengan berbagai argumen hingga komentar miring dengan sikap politik dan membawa isu feminisme, Ghostbusters berhasil menjawab mereka semua dengan menyajikan sebuah supernatural comedy yang menyenangkan. Paul Feig (Bridesmaids, The Heat, Spy) cermat dan cerdik dalam meramu kembali cerita bersama Katie Dippold, semua rasa cemas calon penonton setelah menyaksikan trailer hilang ketika Abby dan tiga sahabatnya itu mulai beraksi. Mengapa? Karena ‘Ghostbusters’ tidak hanya terasa seperti sekedar reboot belaka, sebuah komedi yang berhasil tampil lucu dalam gerak cepat namun memiliki hati yang menarik terkait beberapa topik menarik seperti persahabatan, namun ini juga terasa seperti sebuah re-imagining dengan sentuhan modifikasi yang manis dan tepat guna.
Sekali lagi, versi original Ghostbusters merupakan sebuah film klasik yang “manis” tapi ketika menyaksikan film ini versi original tersebut jarang tampil "mencuri" atensi di pikiran penonton secara berlebihan. Bagaimana bisa? Karena film ini tidak mencoba menyaingi bahkan mengalahkan versi originalnya. Ini seperti sebuah penghormatan kepada versi original dengan menggunakan empat karakter wanita. Sejak berkembang dari sinopsis kita masuk kedalam sebuah “dunia” baru pertempuran manusia melawan hantu, banyak menghadirkan referensi namun Paul Feig membawa ini untuk berjalan di petualangan mereka sendiri, menghadapi ancaman supranatural dengan carefree manner yang menarik untuk diikuti. Komedi memang terhitung sering mencuri posisi terdepan dari elemen supranatural tapi dinamika dan pesona cerita serta karakter terasa stabil, banter mereka cukup asyik dan kamu seolah menjadi anggota kelima di dalam tim.
Hasilnya topik utama terkait persahabatan jadi terasa impresif. Tentu saja banyak hantu di sana sini tapi fokus penonton terus terpaku pada persahabatan empat karakter utama yang terasa memikat, tanpa drama berlebihan dan lebih mengandalkan humor. Para hantu juga tidak kalah oke dibandingkan karakter manusia, itu mengapa pertempuran ini terasa seimbang. Visual efek berhasil menciptakan fantasi yang manis, para hantu tampil dengan esensi yang pas dengan tujuan yang ingin dicapai film ini, mampu mengintimidasi tapi tidak merusak usaha dari komedi. Special note juga berasal dari visual. Secara mengejutkan Ghostbusters ternyata juga merupakan sajian visual experience, kesan “kaya” yang dimiliki visual Ghostbusters terasa cool dan menyenangkan, visual juga digunakan oleh Paul Feig untuk menambah kedalaman nada cerita serta membantu narasi bercerita. Disarankan untuk menonton film ini di format 3D atau versi IMAX 3D, it’s one of the best 3D film.
Lalu apa kekurangan Ghostbusters? Film ini terasa begitu mengikat sejak awal hingga akhir tapi ia juga tidak luput dari beberapa minus yang sebenarnya tidak semua dari mereka mampu merusak kenikmatan yang ia tampilkan. Energi Ghostbusters terasa oke tapi sebelum masuk ke paruh kedua durasi harus diakui naskah di beberapa bagian terasa goyah. Dengan begitu mengandalkan karakter untuk meraih atensi penonton penting pula bagi penonton untuk merasa “dekat” dengan karakter, jika tidak maka cengkeraman dari petualangan mereka akan terasa biasa bahkan terasa lemah. Karakter hantu terasa memikat tapi karakter antagonis manusia terasa, well, kurang menggigit. Dampaknya cukup signifikan karena taruhan dari pertempuran antara girls versus ghosts ini tidak pernah mencapai titik maksimal meskipun hal tersebut tertutupi dengan cukup rapi oleh energi komik dari empat karakter utama.
Dasar dari karakter masih bersandar pada versi originalnya namun ditampilkan dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya “manja.” Kristen Wiig berhasil menampilkan "kejengkelan" yang dimiliki Erin Gilbert dengan baik, Melissa McCarthy mampu membentuk Abby Yates menjadi karakter agresif yang menarik, sedangkan Leslie Jones terasa seperti karakter Anger di Inside Out. Sebagai sebuah tim ensemble mereka terasa tangguh tapi ada satu karakter yang berhasil tampil sedikit lebih menonjol. Dia adalah Jillian Holtzmann, diperankan dengan sangat baik oleh Kate McKinnon. Jillian Holtzmann merupakan karakter yang unik dan mampu konsisten mencuri perhatian, ia seperti punya energi nakal dan liar yang membuat penonton merasa apa yang ia lakukan tidak hanya lucu tapi juga keren. Oh, Chris Hemsworth! Memberikan kinerja yang terasa santai Thor punya momen yang mampu ia manfaatkan dengan baik.
Sejak awal Ghostbusters tidak mencoba menyaingi versi original, dengan hormat meminjam format untuk membangun “dunia” baru bagi pertempuran wanita melawan hantu. Paul Feig membentuk spirit dan formula lengkap dengan “kebisingan” dari versi original menjadi sebuah petualangan lucu yang tidak lupa untuk tampil mengintimidasi. Berayun penuh variasi dengan percaya diri tinggi, Ghostbusters memang tidak superb namun dengan visual yang memikat serta cerita dan karakter yang konsisten terasa menarik ini berhasil menjadi kombinasi komedi dan fantasi yang menyenangkan. A pleasantly solid fantasy comedy, it’s a pleasure hanging out with these characters.
Sumber



Download Film Ghostbusters (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 55 Menit - 27 Detik
Ukuran: 305 mb
SS:
Download Single Link:
USERCLOUD
Subtitle: brext-ghssbstr-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng
Alice Through the Looking Glass (2016) BluRay+Subtitle Indonesia
Released | 27 May 2016 (USA) |
| Country | USA | UK |
Language | English |
Genres | Adventure | Family | Fantasy |
Director | James Bobin |
Writers | Linda Woolverton (screenplay), Lewis Carroll (books) |
Starcast | Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.
Ketika kembali ke London Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) mendapati bahwa mantan tunangannya telah mengendalikan properti keluarganya. Bingung dan marah, Alice kembali ke Underland melalui sebuah cermin. Alice mendapat berita bahwa kehidupan Mad Hatter (Johnny Depp) terancam “mati”, ia terus berkabung karena percaya bahwa keluarganya masih hidup. Princess Mirana (Anne Hathaway), The White Queen, menugaskan Alice menemui Time (Sacha Baron Cohen), raja pengendali waktu di Underland, untuk meminta izin menggunakan Chronosphere dan melakukan perjalan waktu. Tugas Alice ternyata tidak mudah, Iracebeth of Crims (Helena Bonham Carter), The Red Queen, juga menginginkan Chronosphere untuk melakukan rencana jahatnya.
Tidak disutradarai oleh Tim Burton ternyata tidak membuat petualangan Alice berubah arah. Misi utama film ini ternyata masih sama seperti Alice in Wonderland, menciptakan petualangan fantasi penuh warna-warni yang sama gilanya, dan meskipun memakai template serupa dalam hal visual di tangan James Bobin Alice Through the Looking Glass sukses melaksanakan niatnya itu. Terasa lebih terang dengan kesan gelap yang sedikit berkurang, pemanfaatan visual di film ini terasa menarik sejak sinopsis yang standar itu hingga ketika ia berakhir dengan cara yang juga standar. Alice Through the Looking Glass punya estetika ala Tim Burton di sektor visual, seolah memaksa penonton terus berteman dengan gambar-gambar eye-popping, kostum yang mewah, production design dan sinematografi juga oke, dikemas over-the-top dan setia pada “aturan dasar” milik Tim Burton.
Satu paragraf tadi cukup untuk mewakili nilai positif film ini. Ya, hanya visual yang tampil oke di Alice Through the Looking Glass, sisanya kembali tampil sama seperti film pertama, terasa underwhelming. Alice in Wonderland (2010) bukan kemasan yang luar biasa, ada kekurangan yang ia tinggalkan namun sayangnya tidak coba diperbaiki oleh film ini. Alasan utama Alice Through the Looking Glass tidak mampu konsisten tampil memikat adalah cerita yang ia punya terasa cukup hambar, dan sumber masalahnya masih sama yaitu narasi. Tidak mengharapkan sesuatu yang benar-benar kompleks tapi setidaknya narasi harus mampu menciptakan dan menjaga rasa menarik dari masalah di dalam cerita. James Bobin kurang berhasil mengolah naskah yang ditulis oleh Linda Woolverton, masih membangun narasi dengan cara konvensional untuk membentuk sebuah fantasi berkilau yang juga mencoba membawa berbagai isu substantif yang akhirnya terbengkalai tanpa penjelasan.
Alice Through the Looking Glass terus terasa goyah karena ia mencoba melanjutkan dan mengeksploitasi dasar rapuh dari film pertama dan tidak mampu memperbaikinya. Seandainya Alice Through the Looking Glass punya narasi yang lebih kohesif ia akan dengan mudah berakhir di level yang lebih baik. Mengapa? Karena jika berpadu dengan baik alur cerita akan mengikat penonton sehingga mereka konsisten tertarik untuk mengamati lebih lanjut karakter dan masalah di dalam cerita seperti kemerdekaan dan emansipasi. Koneksi yang baik antara karakter, cerita, dan penonton tidak dimiliki film ini sehingga penonton perlahan kehilangan rasa peduli pada karakter dan cerita. Terasa aneh ketika ada momen di mana rasa simpati pada karakter antagonis lebih besar ketimbang karakter protagonist, melengkapi minus utama di mana konflik tidak menampilkan sebuah konsekuensi yang menarik.
Hal serupa terjadi pada kinerja cast, mereka kurang menarik. Terasa menyedihkan bakat seperti Mia Wasikowska harus tenggelam di dalam hiruk pikuk CGI di sekelilingnya. Mia Wasikowska mampu menampilkan sisi berani Alice tapi pesonanya tidak maksimal dan terus terdegradasi. Itu juga dialami oleh pemeran pendukung seperti Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, dan Sacha Baron Cohen, masing-masing punya momen tapi pesona karakter mereka tidak begitu kuat walaupun beberapa humor berhasil mereka sampaikan dengan cukup oke. Oh, Johnny Depp? Karakter The Mad Hatter yang sedang dalam kondisi berduka membuat Depp seperti terbatasi keleluasaannya. Ia berulang kali berusaha menampilkan ekspresi sedih dan pengharapan tapi kurang berhasil tersampaikan karena terbentur kesan eksentrik dan antic yang ia miliki.
Dengan fantasi sebagai jualan utama usaha Alice Through the Looking Glass untuk menciptakan dunia fantasi yang imajinatif patut diapresiasi terutama sektor visual yang kembali tampil memikat dengan segala eksekusi over-the-top yang mewah dan eye-popping. Namun sayangnya semua kemilau dari visual tadi membuat Alice Through the Looking Glass terasa berat sebelah, visual oke namun cerita tidak oke, hal yang salah di mana keduanya harus berkombinasi dengan baik untuk menciptakan sebuah fantasi yang menarik. Akibat kombinasi visual bersama cerita dan narasi yang kurang kuat film ini terasa underwhelming, Alice Through the Looking Glass berakhir sebagai petualangan fantasi yang kaku dan tasteless. Kualitas visual worth the price of admission, tapi waktu? For me, nope. Segmented.
Sumber



LINK
UCERCLOUD
Subtitle: br-alicelkinglass-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Lebah Ganteng
Thursday, June 9, 2016
Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BLUERAY +Subtitle Indonesia
Released | 3 June 2016 (USA) |
| Country | USA |
Language | English |
Genre | Action | Adventure | Comedy | Fantasy | Sci-Fi |
Director | Dave Green |
Writers | Josh Appelbaum, AndrĂ© Nemec | 2 more credits » |
Starcast | Megan Fox, Will Arnett, Tyler Perry | See full cast & crew » |
| Rating |
Review:
Penggunaan CGI dalam film blockbuster perlahan mulai sama seperti basic melody dan tipikal builds up yang digunakan di Electonic Music Dance, all sounds the same, all feels the same. Pemain di industri harus semakin cermat dalam menggunakan CGI, mereka harus menciptakan sebuah gebrakan yang luar biasa dari segi kualitas jika murni ingin “menjual” CGI, atau melakukan cara sederhana dengan menciptakan kombinasi antara CGI dan cerita yang saling melengkapi satu sama lain. Dua hal tersebut kurang berhasil dilakukan dengan baik oleh film ini, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, another forgettable boom-boom-bang-bang project from the producer of Transformers.
Satu tahun setelah pertempuran mereka melawan The Shredder (Brian Tee) dan Eric Sacks, Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher), dan Donatello (Jeremy Howard) masih menyembunyikan identitas asli mereka dan mempersilahkan Vern Fenwick (Will Arnett) untuk mengambil kredit atas kesuksesan yang mereka raih. The Shredder ternyata sedang menyusun rencana untuk lepas dari tahanan pemerintah, dibantu ilmuwan Dr. Baxter Stockman (Tyler Perry) proses transfer antar penjara yang dikomandoi prison officer Casey Jones (Stephen Amell) ia gunakan untuk mewujudkan rencananya tersebut. Celakanya ketika TMNT mencoba menghalangi rencana tersebut proses teleportasi yang dilakukan oleh Stockman membawa Shredder bertemu dengan panglima perang alien, Krang (Brad Garrett).
First of all, review ini akan dinilai dari sudut pandang penonton dewasa. Mengapa? Karena dua tahun lalu ketika selesai menyaksikan Teenage Mutant Ninja Turtles ada seorang rekan yang berujar bahwa film tersebut dibuat untuk anak-anak bahkan untuk penonton usia dini. No, itu gila, meskipun PG-rated film tersebut tidak memenuhi standar film keluarga yang ramah. Hal tersebut kembali terjadi di Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows, ketika di bagian awal kita sudah dibawa untuk menyaksikan sex appeal Megan Fox lengkap dengan pakaian sekolah ala Jepang, dari sana penonton paham di mana target utama yang diincar oleh film ini. Sayangnya meskipun menetapkan target dengan begitu meyakinkan sayangnya film ini tidak tampil sama meyakinkannya ketika membawa penontonnya bergembira bersama, memanfaatkan karakter untuk menyajikan berbagai aksi gila tanpa diiringi konsistensi daya tarik yang mumpuni.
Itu alasan mengapa di awal menyebut ini sebagai kemasan terbaru yang akan begitu mudah terlupakan, karena seperti film pertama di mana TMNT di bawa berseluncur di gunung bersalju jika seminggu lagi mencoba mengingat kembali tentang TMNT 2 maka hanya akan bisa menjawab adegan berseluncur di udara. Selebihnya? Sebuah paket action-adventure yang miskin pesona dan jiwa meskipun memiliki ide yang menarik. Isu tentang proses menerima dan upaya meruntuhkan perbedaan antara TMNT dan manusia itu sebenarnya punya potensi besar, tapi sayangnya ketimbang dimanfaatkan itu hanya jadi pemanis yang terlupakan karena sutradara Dave Green (Earth to Echo) serta writer Josh Appelbaum dan André Nemec lebih fokus pada bagaimana membentuk berbagai set di mana akan digunakan untuk membuat penonton terpukau lewat tampilan visual.
Ini bukan kelas hardcore ketika berbicara sumber utama materi film ini, comic book Teenage Mutant Ninja Turtles, namun sepertinya akan lebih menarik jika busur cerita dikembangkan sedikit lebih jauh saja sehingga TMNT: Out of the Shadows punya kepentingan yang menarik yang eksis di pusat cerita. Secara kualitas sinopsis standar tapi cerita terasa sedikit lebih menarik dari film pertama, karakter juga masing-masing punya momen yang menarik, tapi TMNT: Out of the Shadows tidak berhasil membentuk setup yang kuat untuk menopang berbagai ide yang ia punya, proses penerimaan, dendam pribadi, adegan kejar-kejaran, mondar - mandir bersama Krang, hingga hal sepele semakin teamwork, mereka perlahan semakin terasa kurang menarik akibat tidak dirakit dengan irama yang pas. Di jaman ketika CGI perlahan menjadi sesuatu yang normal diterapkan dalam hiburan visual sepenuhnya mengandalkan CGI yang hadir tanpa gebrakan luar biasa untuk terus hidup bukan sebuah kebijakan yang sehat, hal yang dilakukan oleh film ini.
Lantas apakah TMNT: Out of the Shadows adalah sebuah hiburan yang buruk? Tidak, tapi jika dibandingkan dengan ini tidak memberikan sebuah lompatan besar dari kualitas film pertamanya. Jika kamu penonton yang mudah dipuaskan oleh CGI maka film ini akan menjadi kue yang sangat nikmat, TMNT: Out of the Shadows tidak pernah terasa “mati” hingga akhir berkat kualitas motion capture serta CGI yang mengesankan, interaksi antara karakter animasi kura-kura (mereka bukan penyu?) dengan karakter manusia dieksekusi dengan baik, meskipun sayangnya karakter manusia terasa datar, hanya Laura Linney dan Stephen Amell (Arrow) yang tampil mumpuni. Dialog juga punya peran mengapa pesona karakter tidak maksimal, mereka tumpul, bahkan sulit untuk merasakan sebuah ancaman serius dan berbahaya dari karakter antagonis, sebuah proses merakit yang dilakukan Krang tidak pernah mampu mengintimidasi.
Membawa berbagai topik yang menarik untuk menyokong tujuan utama mereka yang masih sama yaitu menyajikan pesta visual gerak cepat, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows terasa terlalu biasa, kemasan boom-boom-bang-bang yang kurang mampu meninggalkan impresi yang kuat dan membekas, sama seperti film pertamanya. Ketika menyajikan momen lucu TMNT: Out of the Shadows tampil tidak terlalu buruk, namun ketika ia mencoba mendorong materi yang lebih serius sebagai penyeimbang kombinasi yang tercipta terasa kaku. Tidak segar, terlalu terburu-buru, kerap kali terasa canggung, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows gagal memaksimalkan potensi yang ia miliki untuk membawa waralaba ini naik satu tingkat lebih tinggi. Segmented.
Sumber



Download Film Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of the Shadows (2016) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 52 Menit - 07 Detik
Ukuran: 326 mb
SS:
Download Single Link:
[USERCLOUD]
Subtitle: br-tmnt2-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: seaZ







