I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, October 16, 2016

Suicide Squad(2016) HDRip


Released
 5 August 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English | Japanese | Spanish
Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi
Director
 David Ayer
Writer
 David Ayer
Starcast
 Will Smith, Jared Leto, Margot Robbie | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 6.7/10
Review:
Akhirnya mereka tiba, salah satu dari sekian banyak highly anticipated film tahun ini, menilik teaser yang ia lempar juga menyandang status dan hype sebagai film pertama di DC Extended Universe yang mencoba sedikit menggeser serious stuff dari panggung utama untuk kemudian tampil a la sebuah pesta berisikan para kriminal “gila”. Lalu di mana pada akhirnya ia berdiri? Apakah ini tampil lebih baik dari “tawuran” yang inkoheren itu? Apakah ini menjadi sebuah “kekacauan” yang menghibur? Suicide Squad: a bumpy but catchy intro for DC anti-hero.
Pejabat Intelijen USA bernama Amanda Waller (Viola Davis) menganggap bahwa negaranya kini harus mempersiapkan “tameng” yang lebih kuat dan lebih mampu untuk menghadang serta melawan jika kelak the “next Superman” muncul kembali. Waller kemudian mengusulkan agar pemerintah membentuk sebuah satuan tugas namun berisikan anggota yang tidak “biasa”, sebuah tim berisikan para meta-humans yang merupakan kriminal dengan berbagai kekuatan super. Ide tersebut dikabulkan karena dengan menaruh “deadly detector” di dalam tubuh para kriminal tadi maka setiap anggota tim yang kemudian bernama ‘Suicide Squad’ itu akan patuh karena status mereka yang nothing to lose.
Deadshot (Will Smith), Diablo (Jay Hernandez), Slipknot (Adam Beach), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), Boomerang (Jai Courtney) dan Harley Quinn (Robbie) “dipaksa” untuk menjadi sebuah tim di bawah pengawasan Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman) dan Katana (Karen Fukuhara). Misi mereka adalah berusaha untuk menggagalkan sebuah rencana besar dan berbahaya yang sedang dilakukan oleh Dr. June Moone (Cara Delevingne) yang tubuhnya digunakan oleh roh penyihir jahat bernama ‘Enchantress’. Celakanya itu bukan sebuah tugas yang mudah bagi Suicide Squad, otak kriminal mereka yang liar masih eksis walaupun berada di bawah kendali Waller, dan di sisi lain Joker (Jared Leto) juga punya rencana lain terhadap salah satu anggota Suicide Squad.
Terasa menggelikan memang menggunakan kata “dipaksa” pada sinopsis di atas tadi, tapi begitulah fakta terbentuknya Suicide Squad di sini. Para penonton yang tidak mengenal latar belakang dari para anti-hero ini lewat comic dan animasi televisi di film ini tentu akan berkenalan dengan mayoritas karakter tim untuk pertama kali, tentu saja tidak termasuk Joker. Butuh proses yang sedikit lebih ekstra untuk menciptakan pondasi bagi masing-masing karakter, hal yang berhasil dilakukan dengan baik oleh David Ayer, make spectators “care” about them. Tapi yang menjadi daya tarik terbesar dari bagian pembuka adalah seperti yang disebutkan di awal tadi usaha untuk membuat ‘Suicide Squad’ menjadi film pertama di DC Extended Universe yang terasa “ringan” berhasil dilaksanakan dengan baik, tone down a bit that “dark thingy” lalu menonjolkan kesan “berpesta” lewat presentasi yang terasa berayun dan absurd.
Premis dengan ide yang aneh tadi membantu terbentuknya ruang untuk melakukan “pesta” tadi. Membawa kriminal untuk bertarung demi tercapainya sebuah kedamaian tentu menarik, layaknya film dengan karakter anti-hero penonton terus berayun bersama gesekan antara sisi baik dan sisi buruk karakter, tapi David Ayer cukup mampu memoles pesona karakter secara overall. Yang menjadi masalah adalah meskipun mampu menangani karakter lengkap dengan elemen teknis seperti action sequences ternyata David Ayer sedikit kedodoran ketika berurusan dengan cerita. Ketika tombol “pause” untuk elemen action ditekan film yang menggunakan sedikit rasa war movies ini menjadi terasa sedikit lebih longgar ketimbang bagian pembuka tadi. Ide yang aneh dan beresiko tadi menghasilkan berbagai boomerang bagi ‘Suicide Squad’, ambil contoh setelah origin stories hal selanjutnya yang tersaji tidak jauh lebih menarik, dan tentu saja cerita yang terasa cukup disjointed.
Akibatnya yang ditemukan oleh penonton setelah itu adalah sebuah formulaic superhero yang terasa setengah matang di sektor cerita. Memang cukup kentara efek yang dihasilkan rating yang turun dari R menjadi PG-13 tapi David Ayer (End of Watch, Sabotage, Fury) tetap mampu menciptakan elemen action yang exciting, meskipun sayangnya tidak dengan narasi. Seandainya ‘Suicide Squad’ murni tampil sebagai sebuah action movie mungkin hasilnya akan jauh lebih baik itu karena momen ketika ‘Suicide Squad’ terasa goyah muncul pada bagian di mana karakter tidak berpesta bersama peluru dan senjata. Bagian di mana David Ayer mencoba mendorong maju “isi” dari konflik dan karakter terasa kurang exciting, dari berjalan bersama hingga berbincang di bar, tidak membosankan namun sedikit mengganggu irama cerita. Hasilnya motivasi dari misi utama terasa ambigu dengan pressure yang terasa kurang kuat, penyampaian beberapa poin penting termasuk yang berkaitan dengan DCEU serta proses pengungkapan juga terasa cukup kasar.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa tim di balik produksi DC Extended Universe masih belum mampu menyatukan cerita dan teknis dalam komposisi yang pas bagi superhero mereka, termasuk menciptakan petualangan yang tampil serius dan santai secara bersamaan serta seimbang. ‘Suicide Squad’ terasa condong ke arah menjadi sajian yang santai di mana cerita hanya menjadi jalan bagi proses perkenalan karakter anti-hero. ‘Suicide Squad’ memiliki presentasi yang bergelombang dengan nada yang terasa kurang kohesif tapi energi yang karakter tampilkan di layar terasa catchy. Ini memiliki semacam craziness yang nasty tapi catchy, tampil berani menjadi sajian superhero yang tampak tidak penting tapi manis ketika menampilkan berbagai slaying, dari pistol, baseball bat, boomerang, hingga api dan samurai, termasuk beberapa tik-tok antar karakter.
Itu mengapa ‘Suicide Squad’ is a weird movie, cukup kacau ketika bertugas mendongeng tapi di dalam kekacauan tadi eksis berbagai fun yang terasa segar. Ya, segar, ini merupakan kombinasi yang aneh antara cerita, tones, moods, dan pacing yang mampu konsisten membuat karakter miliknya terasa menarik meskipun mereka terasa kurang memikat sebagai sebuah tim. ‘Suicide Squad’ tidak ragu untuk “menghajar” penonton dengan berbagai disjointed moments bersama irama offbeat, terasa semrawut bahkan mungkin membingungkan tapi juga terasa “oddly humorous” yang pada akhirnya akan to be loved or hated by its spectators. Feel tersebut tadi juga banyak terbantu oleh kinerja elemen teknis seperti score gubahan Steven Price yang di sini dipadupadankan bersama soundtrack yang oke, dari classic rock hingga modern hip-hop, too many but well chosen to lighten the load tanpa mengganggu craziness yang ingin ditampilkan. Dan hal-hal positif tadi menjadi lengkap ketika ditambah dengan kinerja beberapa cast terhadap karakter mereka masing-masing.
Di sektor ini David Ayer juga kurang mampu menciptakan keseimbangan, tapi bagi karakter yang mendapat porsi lebih besar mereka berhasil tampil memikat. Will Smith tampil cukup baik sebagai Deadshot, karakter yang memiliki paling banyak backstory, punya cukup banyak kesempatan yang mampu dimanfaatkan dengan baik. Yang kedua adalah Harley Quinn, dibentuk dengan manis oleh Margot Robbie lewat sexy, crazy, and memorable performance terutama pada sifat unpredictable yang Harley Quinn miliki. Dan terakhir Joker, yang di sini membawa masalahnya sendiri. Eksekusi Jared Leto tidak luar biasa terlebih kehadiran Joker di sini terasa kurang kuat tapi “feel” dari Joker mampu ia tampilkan dengan baik, crazy and scary. Karakter lainnya juga terasa menarik tapi tidak coba dieksplorasi sedikit lebih dalam sehingga di beberapa moment yang mereka punya kerap terasa one-dimensional, meskipun peran Cara Delevingne terasa cukup mengecewakan, ‘Enchantress’ punya potensi untuk menjadi main villain yang menarik tapi cerita yang ia bawa terasa underwritten.
Overall, ‘Suicide Squad’ adalah film yang cukup memuaskan. ‘Suicide Squad’ is a weird movie, a jarring mix of genres yang terasa bumpy tapi catchy. Tampil menggunakan rasa B-movie David Ayer punya banyak tugas yang tidak semua berhasil ia laksanakan dengan baik terutama pada sektor cerita yang terasa kurang kohesif. Tapi David Ayer mampu menggabungkan elemen action bersama momen individual yang punya hooks oke bersama dengan humor dalam sebuah kombinasi yang seimbang, and keep it all as straight as possible. Perlu waktu untuk merasa terikat pada cerita dan karakter terlebih karena dramatisasi tidak semuanya terasa mumpuni, namun ketika itu telah tercapai muncul sebuah “pesta” absurd yang terasa aneh namun menarik, sebuah konvensi genre dengan overall result yang mampu menampilkan rasa segar ketimbang those “run-of-the-mill” movies. It’s a pleasure hanging out with these characters. Segmented.
Sumber




FILE SIZE MP4=333MB
[UCERCLOUD]
Subtitle: hd-squdscuad-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Kakek Salto

Independence Day: Resurgence (2016) BluRay

 
Released
24 June 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
  Action | Adventure | Sci-Fi
Director
Roland Emmerich
Writers
 Nicolas Wright (screenplay), James A. Woods (screenplay) | 9 more credits »
Starcast
 Liam Hemsworth, Jeff Goldblum, Bill Pullman | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif 5.4/10
 
 

 
<


FILE SIZE =352MB
[UCERCLOUD]
Subtitle: br-indpancedysres-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Ariel Nugie
 

Sunday, October 9, 2016

ARQ (2016) WEBRip+Subtitle Indonesia

arq16.jpg
movieinfo.png
Released
16 September 2016 (USA)
Country USA
Language
English
Genres
Sci-Fi | Thriller
Director
Tony Elliott
Writer
Tony Elliott
Starcast
Robbie Amell, Rachael Taylor, Shaun Benson | See full cast & crew »
Rating imdb-icon.gif6.5/10

Sinopsis:
Terperangkap dalam sebuah lab dan terjebak pada putaran waktu, pasangan suami istri tak punya tujuan mencoba mengatur lingkaran waktu saat para penjahat bertopeng mendatangi mereka, dan dalam putaran waktu tertentu, mereka kedatangan robot yang juga menyerang mereka habis-habisan, dan semuanya itu terlihat dalam waktu mundur yang ada dalam pikiran Renton; ada sumber energi baru yang sepertinya bisa menyelamatkan umat manusia.
ARQ.jpg

vlcsnap-2016-09-17-00h06m56s938.png

vlcsnap-2016-09-17-00h07m29s497.png

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: web-arq-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: MoviePrazz

Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

star-trek-beyond-2016.jpg
movieinfo.png
Released
22 July 2016 (USA)
Country USA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Justin Lin
Writers
Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit »
Starcast
Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew »
Rating imdb-icon.gif7.4/10

Review:
Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.

Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).

Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.

Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.

Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.

Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.

Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.

Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.

Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber
Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

banner-appwal.jpg
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4

UCERCLOUD

Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam

Saturday, October 8, 2016

SEE YOU AGAIN IN WORDPRESS OR BLOGSPOT

SELAMAT TINGGAL, TINGGAL KARNA MYWAPBLOG AKAN DI HAPUS SAYA AKAN GANTI ALIH KE WORDPRESS ATAU BLOGSPOT . SAMPAI BERTEMU LAGI

Friday, September 30, 2016

Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

star-trek-beyond-2016.jpg
movieinfo.png
Released
22 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Director
Justin Lin
Writers
Simon Pegg, Doug Jung | 1 more credit »
Starcast
Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif7.4/10

Review:

Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.

Tahun ketiga pada misi lima tahun yang the USS Enterprise jalani , Captain James T. Kirk (Chris Pine) mulai merasa kurang betah dengan tugasnya menjadi komandan. Rutinitas tersebut membuat Kirk berniat untuk berhenti dan mencoba karir yang lebih stabil dengan promosi jabatan sebagai Starfleet Vice Admiral. Kirk ingin Commander Spock (Zachary Quinto) menjadi suksesornya namun di sisi lain setelah putus dengan Lieutenant Nyota Uhura (Zoe Saldana) Spock juga sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Vulcan. Fokus pada rencana pribadi yang mereka susun tadi mendadak “diganggu” oleh sebuah permintaan tolong dari tamu asing bernama Kalara (Lydia Wilson).

Kalara meminta bantuan dari Enterprise untuk menyelamatkan pesawat yang ia komandani, kini terdampar di sebuah wilayah yang belum dipetakan di nebula. Misi yang Kirk bawa bersama Spock, Uhura, Leonard “Bones” McCoy, MD (Karl Urban), Montgomery Scott (Simon Pegg), Hikaru Sulu (John Cho), Pavel Chekov (Anton Yelchin), dan crew lainnya adalah misi penyelamatan namun celakanya kini keselamatan mereka yang terancam. Permintaan tolong yang the USS Enterprise terima ternyata merupakan sebuah rencana yang disusun oleh Krall (Idris Elba), komandan kawanan alien yang menginginkan artifak yang Kirk dan timnya bawa dari Teenax.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar kabar bahwa J. J. Abrams tidak kembali untuk menyutradarai film ketiga reboot Star Trek dan memilih untuk “bermain” di Star Wars. Namun ternyata ada niat baik di balik keputusan tersebut, sebuah usaha “penyegaran”, bahkan Kirk saja mulai merasa bosan dengan apa yang ia lakukan sebagai Kapten the USS Enterprise. Dan boom, membawa Justin Lin ke bangku sutradara merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat. Ini tidak seperti sebuah usaha untuk tampil beda secara keseluruhan, Justin Lin hanya sedikit “memodifikasi” warna Star Trek namun dengan tetap berada di jalur yang telah diletakkan Abrams sebelumnya. Hasilnya adalah sebuah petualangan ruang angkasa yang dari konteks cerita dan karakter kembali berhasil terasa menarik namun kali ini tampil dengan kecepatan yang lebih “nyata”, sci-fi adventure dengan action rasa chutzpah yang terasa lebih thrilling.

Dengan Justin Lin sebagai sutradara Star Trek Beyond mendapatkan “kecepatan” yang lebih nendang. Seperti judulnya Star Trek Beyond mencoba untuk menemukan something yang belum pernah dijelajahi oleh the USS Enterprise sebelumnya, Beyond berhasil melakukan misi tersebut dengan baik, revived itself in playful mood. Mayoritas paruh pertama memang diisi dengan drama, berada di tone yang kalem, namun skenario tersebut seperti mempersiapkan ruangan untuk kemudian diisi dengan berbagai “ledakan” menarik di babak kedua. Cerita yang ditulis oleh Simon Pegg dan Doug Jung di sini terasa lebih berani untuk “bermain” dan dieksekusi dengan baik pula oleh Justin Lin sehingga terasa kompak. Alhasil Star Trek Beyond memiliki variasi irama yang penuh warna, action slapstick yang silly hingga momen “wow” yang menegangkan, dari humor, kemudian drama, momen charming yang kemudian disambung exciting sequences.

Sikap berani untuk “bermain” yang ditunjukkan Star Trek Beyond tersebut menghasilkan dampak positif lain di samping elemen action. Di sini pesona karakter mampu mencuri perhatian sejak awal hingga akhir dan menariknya seluruh anggota tim the USS Enterprise, termasuk beberapa anggota “baru”, memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Star Trek Beyond treats the characters much better, vital role berhasil membuat karakter memegang peran yang lebih besar di dalam petualangan terbaru ini, berdiri sejajar dengan usaha menghadapai rintangan yang menghadang. Hal tersebut memang merupakan akibat dari situasi “terpecahnya” tim ketika mendapat serangan namun Justin Lin yang punya pengalaman dalam mengendalikan ensembles mampu mengolah masing-masing dari mereka untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik ketika harus menghadapi berbagai tantangan yang berbeda.

Hasil terbaik ada pada link antara Bones and Spock, mereka semacam menjadi buddies dengan banter yang terasa menghibur, sama seperti Scotty yang kali ini ditemani oleh Jaylah. Uhura dan Sulu juga memiliki momen mereka masing-masing di mana nama terakhir menjadi jalan bagi Star Trek Beyond untuk “berbicara” tentang isu gender dengan eksekusi yang manis. Kondisi ini terasa unik karena Star Trek bekerja sangat baik ketika karakter bergabung sebagai sebuah tim namun ketika mereka terpisah mereka juga mampu menghibur sama baiknya. Itu disebabkan oleh kemampuan Justin Lin dalam menyuntikkan casual style miliknya dengan style klasik dari Star Trek sehingga tidak hanya pesona saja yang stabil di sini tapi juga kualitas enjoyment dari petualangan itu sendiri, semua karakter tampak enjoy dan memiliki waktu yang menyenangkan.

Sama seperti penonton terlebih di babak kedua di mana elemen action mulai beraksi. Kita menemukan development dan sedikit emosi di karakter dan cerita tapi Justin Lin tidak lupa bahwa elemen action harus dan wajib tampil mempesona di Star Trek. Dari space battles sampai hand-to-hand combat, action sequences Star Trek Beyond terasa bombastic. Seperti dentuman irama rock lagu Sabotage elemen action film ini terasa intens dan memikat, Justin Lin tahu cara “bergembira” dengan kekacauan di luar angkasa, ia cermat dalam menciptakan kehancuran dan kemudian memperluas dampak yang dihasilkan tapi di sisi lain semangat dari pertempuran utama tetap di gas penuh. Yeah, full throttle, Star Trek Beyond punya semangat yang memikat dengan terjangan di sana sini bersama rasa hyperactive yang manis, memanfaatkan sinematografi dengan baik bersama visual effects yang lustfull, Justin Lin tampak benar-benar nyaman ketika bermain di ruang angkasa. Thanks God there’s no Vin Diesel.

Namun Star Trek Beyond terasa sedikit kering ketika pijakan pada gas tadi sedikit dikurangi. Karakter antagonis juga terasa terlalu biasa, not strongly gripping serta daya intimidasi yang sedikit lacking, sama seperti hasil akhir dari inti utama skenario yang terasa tipis akibat uninteresting motivations dan babak kedua yang tidak memberi kesempatan bagi cerita untuk bernafas lega. Untung saja kinerja cast tidak mengalami hal serupa. Idris Elba tidak pernah terasa penting kehadirannya akibat perlakuan Justin Lin terhadap karakter Krall, dia cuma menunggu pengungkapan. Sisanya, semua karakter tampil baik. Sofia Boutella berhasil menampilkan kesan "bitchy" dari Jaylah, John Cho, Anton Yelchin, dan Zoe Saldana mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka punya, Karl Urban dan Simon Pegg punya porsi sedikit lebih besar yang mereka eksekusi dengan baik pula, sementara Chris Pine dan Zachary Quinto kembali mampu tampil sebagai karakter central dengan baik.

Overall, 'Star Trek Beyond' adalah film yang memuaskan. 'Star Trek Beyond' tidak lebih baik dari Star Trek Into Darkness tapi mampu menjadi yang paling memorable di antara tiga film Star Trek versi reboot sejauh ini. Justin Lin berhasil menjalankan tantangan yang diberikan padanya dengan baik, meskipun terasa lebih tipis di sektor cerita tetap mampu memberikan sebuah petualangan bombastis dengan mencampur casual style bersama spirit Star Trek show yang ringan dan terasa seperti sebuah episode ukuran besar. Humor yang witty bersama momen bagi setiap karakter yang kemudian dibungkus bersama “petir” di sana-sini, ‘Star Trek Beyond’ bukan sebuah usaha revolusi namun usaha untuk melangkah maju, hanya mencoba to go beyond bersama dengan mix antara old dan new. Ridiculous pleasures, it’s a blast.
Sumber

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

Star%2BTrek%2BBeyond-Justin%2BLin-Chris%

banner-appwal.jpg
Star Trek Beyond (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia MP4

UCERCLOUD

Subtitle: dl-startrekbyond-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: rizaladam

Saturday, September 24, 2016

ARQ (2016) WEBRip+Subtitle Indonesia

arq16.jpg
movieinfo.png
Released
16 September 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Sci-Fi | Thriller
Director
Tony Elliott
Writer
Tony Elliott
Starcast
Robbie Amell, Rachael Taylor, Shaun Benson | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.5/10

Sinopsis:

Terperangkap dalam sebuah lab dan terjebak pada putaran waktu, pasangan suami istri tak punya tujuan mencoba mengatur lingkaran waktu saat para penjahat bertopeng mendatangi mereka, dan dalam putaran waktu tertentu, mereka kedatangan robot yang juga menyerang mereka habis-habisan, dan semuanya itu terlihat dalam waktu mundur yang ada dalam pikiran Renton; ada sumber energi baru yang sepertinya bisa menyelamatkan umat manusia.

ARQ.jpg

vlcsnap-2016-09-17-00h06m56s938.png

vlcsnap-2016-09-17-00h07m29s497.png

banner-appwal.jpg
LINK
UCERCLOUD

Subtitle: web-arq-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: MoviePrazz