I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, June 4, 2017

DOWNLOAD THE FATE OF THE FURIOUS (2017) HC HDRIP SUBTITLE INDONESIA




Released
14 April 2017 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genres
Action | Crime | Thriller
Director
F. Gary Gray
Writers
Chris MorganGary Scott Thompson (based on characters created by)
Starcast
Vin DieselJason StathamDwayne Johnson | See full cast & crew »
RatingThe Fate of the Furious (2017) on IMDb
7.2/1071,759 votes
Review:
Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis.
Dua tahun semenjak perilisan Fast and Furious 7 (atau Furious 7 atau Fast 7 – bergantung dimana lokasi negara perilisannya) dan untuk pertamakalinya semenjak kematian tragis Paul Walker yang memerankan salah satu karakter sentral, Brian O’Conner, seri film The Fast and the Furious melanjutkan perjalanannya lewat Fast and Furious 8. Dikisahkan, Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru saja menikahi Letty Ortiz (Michelle Rodriguez) dan sedang berbulan madu di Kuba, secara tidak sengaja bertemu dengan seorang teroris dunia maya yang dikenal dengan nama Cipher (Charlize Theron). Tanpa disangka, setelah pertemuan tersebut, Dom malah memilih untuk mengkianati Letty sekaligus para sahabatnya, Luke Hobbs (Dwayne Johnson), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Chris Bridges) dan Ramsey (Nathalie Emmanuel), untuk kemudian bergabung dengan Cipher dan menyusun sebuah rencana teror untuk memicu sebuah perang nuklir. Bekerjasama dengan agen rahasia Frank Petty (Kurt Russel) dan Eric Reisner (Scott Eastwood), Letty bersama mantan rekan-rekan Dom memulai aksi mereka untuk menyelamatkan dunia dari berbagai rencana jahat Dom dan Cipher.
Juga dirilis dengan judul The Fate of the Furious atau Fast 8 – lagi, bergantung dimana lokasi negara perilisannya, Fast and Furious 8 masih melanjutkan tradisi seri-seri sebelumnya dimana kisah persahabatan serta tantangan yang hadir dalam hubungan karakter-karakter dalam film ini menjadi pendamping bagi deretan adegan aksi yang dipenuhi tampilan efek visual spektakuler yang menjadi sajian utama sekaligus daya tarik film. F. Gary Gray (Straight Outta Compton, 2015), yang menggantikan posisi Wan untuk duduk di kursi sutradara, sepertinya berusaha keras untuk menyaingi tampilan aksi yang dihadirkan Wan dalam seri sebelumnya. Berhasil? Cukup berhasil. Dengan pengalamannya mengarahkan remake The Italian Job (2003) yang juga menampilkan banyak adegan balapan – serta dibintangi Theron dan Jason Statham yang turut hadir dalam film ini – Gray mampu mengeksekusi deretan adegan aksi dalam Fast and Furious 8 dengan baik. Kental dibungkus dengan tampilan efek visual, beberapa adegan film ini bahkan mampu menghadirkan momen-momen menegangkan bagi para penontonnya.
Tidak banyak hal yang dapat digali dari kualitas penceritaan yang digariskan Chris Morgan – yang juga merupakan penulis naskah Fast and Furious 7. Seperti seri sebelumnya, dinamika pengisahan arahan Morgan tidak banyak berubah. Tantangan yang diberikan kepada hubungan persahabatan yang terjalin antara karakter-karakternya masih terasa generik dan tidak berkembang dengan terlalu baik. Kehadiran karakter Chiper sebagai karakter antagonis utama – dan merupakan karakter antagonis wanita pertama dalam seri film ini – sekilas terlihat menarik pada awalnya. Namun, seiring dengan perjalanan penceritaan film, karakter Chiper tidak diberikan ruang pengisahan yang terlalu luas yang membuat karakternya kemudian juga menjadi terasa hambar. Arahan Gray yang mengedepankan kepentingan tampilan efek visual juga seringkali terasa menghalangi penceritaan film untuk mampu tampil berkisah dengan lebih kuat. Memang tidak ada yang mengharapkan kualitas cerita yang benar-benar prima dari sebuah film dalam seri The Fast and the Furious. Namun lemahnya pengisahan film ini jelas memberikan kontribusi yang besar terhadap munculnya banyak momen-momen membosankan dalam Fast and Furious 8.
Penampilan para jajaran pemeran film juga masih berada dalam kapasitas akting yang telah biasa mereka tampilkan dalam film-film sebelumnya. Diesel (dan Rodriguez) masih hadir dengan ekspresi wajah yang datar dan serupa dalam tiap adegan. Begitu pula dengan Bridges dan Gibson yang selalu siap sedia menjadi penyuplai humor dalam film ini dengan dialog-dialog singkat yang diberikan pada mereka. Theron tampil cukup lugas – meskipun setelah melihat penampilan garangnya lewat Mad Max: Fury Road (George Miller, 2015) dan The Huntsman: Winter’s War (Cedric Nicolas-Troyan, 2016) penampilannya sebagai Cipher dalam film ini menjadi terkesan terlalu biasa. Johnson dan Statham justru tampil cukup menonjol dengan chemistry mereka yang begitu hangat sekaligus sangat, sangat meyakinkan. Penampilan Helen Mirren dan Luke Evans juga mampu mencuri perhatian meskipun dalam komposisi penceritaan yang begitu singkat. Secara keseluruhan, Fast and Furious 8 masih akan mampu menghibur para penggemar lamanya sekaligus banyak penikmat film-film aksi dalam skala luas. Meskipun begitu, dengan stagnannya kualitas penulisan cerita film, seri film The Fast and the Furious jelas terasa cukup mengkhawatirkan di masa yang akan mendatang.





LINK DI JAMIN BISA KARNA SUDAH DI UJI/TES OLEH ADMIN
FILE SIZE= 381MB 
FORMAT MP4
LINK
Subtitle: hchdrip.thefateoffurious.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: donny_doublen

LEGO BATMAN MOVIE (2017) BLUERAY+ SUB INDO

THE LEGO BATMAN MOVIE
(2017)

Quality: BRRip


Released
10 February 2017 (USA)
CountryDenmark | USA
Language
English
Genres
Animation | Action | Adventure | Comedy | Family
Director
Chris McKay
Writers
Seth Grahame-Smith (screenplay), Chris McKenna (screenplay) | 8 more credits »
Starcast
Will ArnettMichael CeraRosario Dawson | See full cast & crew »
RatingThe LEGO Batman Movie (2017) on IMDb
7.5/1045,613 votes
Review:
The LEGO Movie arahan Phil Lord dan Christopher Miller muncul menjadi salah satu film animasi terbaik yang dirilis pada tahun 2014 lalu dengan tampilannya yang begitu berwana, naskah cerita yang diisi dialog serta karakter yang jenaka serta sebuah lagu tema yang berhasil menempel di kepala setiap penontonnya – sekaligus membuahkan nominasi Best Original Song pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Tahun ini, penonton mendapatkan sebuah subseri dari The LEGO Movie yang dibintangi oleh salah satu karakter pahlawan super yang sempat muncul di film tersebut, Batman. Diarahkan oleh Chris McKay – yang sebelumnya bertugas sebagai salah satu penata gambar pada The LEGO Movie, The LEGO Batman Movie menjanjikan pengalaman yang sama menyenangkannya dengan film pertama seri ini sekaligus kehadiran Batman serta rekan-rekan protagonis dan antagonisnya dalam nada penceritaan yang jauh dari kesan kelam seperti yang sering dibawakan film-film Batman selama ini. Because… Why so serious, right?
Tiga tahun semenjak menyelamatkan The LEGO Universe seperti yang dikisahkan pada The LEGO Movie, Batman (Will Arnett) terus mengisi kesehariannya dengan melawan kejahatan di Gotham City. Namun, Batman kemudian merasa keberadaan dirinya menjadi tidak berarti ketika Komisaris Besar Kepolisian yang baru, Barbara Gordon (Rosario Dawson), menginginkan agar kepolisian dan masyarakat Gotham City untuk tidak terlalu bergantung pada keberadaan Batman dalam menjaga keamanan kota. Sementara itu, Joker (Zach Galifianakis) sedang menyusun rencana untuk membalaskan dendamnya kepada Batman. Dengan mengumpulkan deretan penjahat legendaris seperti Harley Quinn (Jenny Slate), Riddler (Conan O’Brien), Bane (Doug Benson), Catwoman (Zoë Kravitz) hingga Lord Voldemort dari seri film Harry Potter (Eddie Izzard) dan Sauron dari trilogi The Lord of the Rings (Jemaine Clement), Joker mulai mengambil alih dan menghancurkan Gotham City. Merasa dirinya terpanggil kembali dan dibutuhkan, Batman kemudian mengumpulkan pasukannya dan mulai menjalankan aksi untuk menyelamatkan Gotham City.
Seperti halnya The LEGO Movie, naskah cerita yang digarap Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern dan John Whittington masih mengutamakan plot kisah mengenai pentingnya kebersamaan dan kerjasama antara satu dengan yang lain. Maskipun masih menawarkan jalan pengisahan yang diisi dengan dialog-dialog yang sukses tampil menghibur, keberadaan banyaknya karakter dalam jalan cerita The LEGO Batman Movie memang cukup memberikan beban tersendiri dalam mengikuti kisahnya. Paruh pertama film, khususnya, terasa berjalan dengan tempo yang sedikit lamban akibat usaha untuk memperkenalkan deretan karakter-karakternya. Beruntung, secara perlahan, The LEGO Batman Movie kemudian berhasil meningkatkan pacuan penceritaan dan akhirnya tampil dengan ritme pengisahan yang tepat untuk dinikmati, baik sebagai sebuah komedi maupun sebagai sebuah film pahlawan super.
Dari departemen produksi, warna-warna terang dan bernuansa cerah, yang jelas tidak akan didapatkan penonton dari film-film Batman manapun, juga masih mengisi film sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Tatanan musik garapan Lorne Balfe juga memberikan atmosfer pengiring yang tepat bagi setiap adegan The LEGO Batman Movie – memberikan sajian ketegangan a la film-film pahlawan super di banyak adegan aksi dan, secara mengejutkan, mampu memberikan elemen emosional ketika naskah cerita film ini memberikan pengisahan yang menyentuh. Penataan gambar film ini juga diperlakukan seperti layaknya sebuah film pahlawan super. Memberikan pengalaman menyaksikan sebuah film animasi yang cukup menyegarkan.
Namun, poin kesuksesan terbesar dari naskah cerita The LEGO Batman Movie adalah kemampuan para penulis naskahnya untuk memasukkan berbagai referensi tentang Batman – baik dari komik, serial televisi hingga seri film Batman – secara cerdas ke dalam rangkaian konflik maupun dialog yang disajikan dalam film ini. Para pembuat The LEGO Batman Movie jelas merupakan kumpulan para penggemar berat Batman. Bersama, mereka menggali secara mendalam berbagai informasi tentang pahlawan super tersebut dan menyajikannya dengan sentuhan hiburan yang kuat. Begitu banyaknya referensi tentang Batman, The LEGO Batman Movie dipastikan akan dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi para penontonnya ketika mereka menyaksikan film ini untuk kedua atau ketiga (atau keempat atau kelima atau keenam dan seterusnya…) kalinya. Mereka yang bukan penggemar Batman rasanya juga tidak lantas akan merasa dialienasi oleh kuatnya referensi budaya Batman dalam naskah cerita film ini. Ada begitu banyak unsur hiburan yang sukses disajikan di sepanjang 104 menit durasi perjalanan film ini.
The LEGO Batman Movie juga diperkuat oleh barisan pengisi suara yang mampu menjadikan karakter-karakter mereka bagitu hidup dan menarik untuk diikuti kisahnya. Sebagai Batman, vokal Arnett tampil sangat meyakinkan. Karakternya yang digambarkan sebagai versi parodi dari sosok Bruce Wayne/Batman yang eksentrik dan penyendiri mampu disajikan dengan sempurna. Galifianakis juga cukup memikat perhatian sebagai Joker, seperti halnya Michael Cera yang menjadikan Robin sebagai sosok yang cute atau Ralph Fiennes yang menjadikan karakter pendamping setia Bruce Wayne/Batman, Alfred Pennyworth, tampil dengan karakterisasi yang lebih luas dari yang biasa ditampilkan dalam film-film Batman lainnya. Kesuksesan penggarapan kualitas secara keseluruhan The LEGO Batman Movie tersebut dengan mudah menjadikan film ini sebagai film Batman terbaik sejak The Dark Knight (Christopher Nolan, 2008). Dan dengan komposisi komedi yang cerdas, The LEGO Batman Movie jelas juga menjadi film Batman paling menghibur di sepanjang sejarah adaptasi film dari komik buatan DC Comics tersebut.



+

Link di jamin aktif karna sudah di tes oleh ADMIN 

FILE SIZE= 328MB
FORMAT MP4


LINK
UCERCLOUD



Subtitle: br.thelegobatmanmv.2017.zip | More
Bahasa: Indonesia
Format: SUB & SRT
Subtitle By: Agent Nas







Friday, November 18, 2016

Pete’s Dragon (2016) BluRay+SUB INDO


Released
14 September 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Adventure | Family | Fantasy
Director
David Lowery
Writers
David Lowery (screenplay), Toby Halbrooks (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Bryce Dallas Howard, Robert Redford, Oakes Fegley | See full cast & crew »
Rating
7.2/10
Review:
Disney belum berhenti untuk bercerita tentang believing in wonder di tahun ini. Di awal tahun kita sudah bertemu dengan ‘Zootopia’ bersama seekor kelinci yang berjuang meraih mimpinya, yang kemudian disusul oleh ‘The Jungle Book’ dan ‘Finding Dory’. Kini ‘Pete’s Dragon’ hadir mencoba meneruskan pencapaian tadi, sebuah redesign yang sehat pada a tale of a magic tentang kisah persahabatan antara seorang manusia dengan seekor naga dengan kombinasi heart, semangat, dan visual yang menyenangkan. It’s ‘The Good Dinosaur’ meets ‘The Jungle Book’ with good heart and magic.
Grace Meacham (Bryce Dallas Howard), seorang penjaga hutan, tidak percaya dengan cerita sang ayah, Mr. Meacham (Robert Redford), tentang naga yang hidup di dalam hutan, sampai ketika ia bertemu dengan Pete (Oakes Fegley). Remaja berusia 10 tahun itu mengatakan selama ini ia diasuh dan dilindungi oleh seekor naga hijau bernama Elliot. Pete yang selama ini bersembuyi dari interaksi sosial dengan manusia lain keluar dari hutan untuk meminta bantuan dari Grace. Hutan tempat ia dan Elliot selama ini tinggal sedang terancam aksi dari para penebang hutan yang dipimpin pria bernama Gavin (Karl Urban).
Disney membuat keputusan yang tepat di bangku sutradara, mereka memilih sutradara indie David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints) yang berhasil menampilkan pesona yang dimiliki cerita. Memang ‘Pete’s Dragon’ pada akhirnya tidak terasa terlalu “flashy” tapi film ini berhasil menampilkan sebuah hiburan family adventure yang baik. Bagus visi yang David Lowery gunakan atau terapkan di film ini, setiap bagian dibuat agar tampak minimal tapi memberikan hasil yang tidak minimal. ‘Pete’s Dragon’ mencoba menampilkan materi yang sedikit serius, daya tarik dramatis terjaga tapi tidak terasa berat dan berlebihan, dan di sisi lain ada humor yang oke mengisi kisah dengan durasi 102 menit ini. Kombinasi tadi kualitasnya terjaga dengan baik hingga akhir, koneksi dan pesona tentang persahabatan dan keluarga terasa oke sambil membawa penonton menyaksikan Pete yang masuk kedalam lingkungan baru yang mengejutkannya dan membuat rasa ingin tahunya meluap.
Hal menarik lain dari ‘Pete’s Dragon’ adalah sebagai film dengan fantasi yang merupakan salah satu temanya usaha membuat penonton terpukau dengan visual tidak terlalu mendominasi. Pete’s Dragon punya drama sebagai central dengan nuansa yang terasa nyaman dan tenang, David Lowery mampu membumbui narasi klasik yang ia gunakan untuk berbicara tentang childhood dan reality. Penonton dewasa akan menemukan hal-hal manis dari sebuah film Disney bersama nostalgia masa anak-anak yang polos dan naif, sementara penonton muda akan terpesona dengan persahabatan antara Pete dan Elliot yang terasa menyenangkan diikuti. David Lowery juga berhasil menggambarkan hal-hal yang sedikit lebih “gelap” dengan baik, tidak membuat materi seperti kehilangan dan kesepian “mengganggu” daya tarik cerita dan menghasilkan kombinasi menarik antara family drama fantasy dengan sincerity yang menarik.
Jika harus memilih hal terbaik dari film ini maka yang jadi pilihan adalah cara sincerity mengisi cerita. Ini sederhana, masalah dan isu juga klasik, tapi ‘Pete’s Dragon’ punya kelembutan yang tidak sederhana. Sangat suka cara kasih sayang mengisi cerita, karakter manusia punya “heart” yang menarik dan Elliot juga memiliki hal yang sama. Itu membuat ancaman di plot yang klise itu tetap terasa menarik, karena kamu ingin karakter-karakter ini tetap merasakan kebahagiaan. Fokus film ini juga oke, tidak overuse menggunakan usaha menyelamatkan Elliot tapi juga arena bagi Pete belajar tentang dunia, dari rasa ingin hidup bersama manusia tapi juga takut kehilangan teman baiknya, Elliot. Memang di beberapa bagian ‘Pete’s Dragon’ terasa lambat dan kurang begitu exciting tapi cerita dan karakter tetap terus tumbuh menjadi lebih menarik. Dan hal itu juga berkat elemen teknis yang berhasil membuat Elliot menjadi karakter yang punya “heart” yang menarik.
‘Pete’s Dragon’ punya elemen teknis yang berhasil membuat elemen fantasi miliknya jadi terasa enak untuk dinikmati, selain juga punya peran dalam membuat drama juga terasa semakin menarik. Thrill yang dihasilkan visual juga terasa oke, David Lowery cermat dalam membangun lapisan dan irama untuk mempermainkan antisipasi penonton, dan momen ketika Elliot dan Pete terbang lalu kemudian berputar-putar di awan merupakan momen visual terbaik dari ‘Pete’s Dragon’. Dibantu dengan cinematography dan scoring yang juga oke kisah tentang “keajaiban” ini juga punya visual effects yang manis pada cara mereka membentuk Elliot menjadi karakter animated tapi dengan rasa cartoonish yang tidak berlebihan. Bentuk fisiknya tampak oke dan karakteristik yang ditanamkan padanya membuat Elliot menjadi sosok baik hati yang menyenangkan, lebih dari sekedar hewan peliharaan Elliot merupakan naga yang membuat kamu ingin memeluknya.
Dilengkapi dengan kinerja cast yang tidak kalah memikat dalam menyuntikkan kehangatan ke dalam cerita (Bryce Dallas Howard is good) David Lowery berhasil membentuk ‘Pete’s Dragon’ menjadi family drama and fantasy yang menyenangkan. Sesuatu yang familiar telah eksis sejak sinopsis tapi ‘Pete’s Dragon’ punya semangat yang segar, terasa fluid dalam menampilkan imajinasi yang tampil minimalis dan oke dalam membangun drama berisikan pesan seperti loyalty dan melindungi sosok yang kamu sayangi. Di beberapa bagian memang terasa sedikit lambat tapi tanpa unsur musical cerita dan karakter terus tumbuh menjadi menarik bersama presentasi visual yang memikat di dalam kisah tentang believing in wonder ini. Tidak terlalu “flashy” ‘Pete’s Dragon’ merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga.
Sumber

FILE SIZE : 308 MB
MP4
LINK

Friday, November 11, 2016

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) HDRip+SUB INDO



Released
30 September 2016 (Indonesia)
Country USA | UK | Belgium
Language
English
Genres
Adventure | Drama | Family | Fantasy
Director
Tim Burton
Writers
Ransom Riggs (based upon the novel written by), Jane Goldman (screenplay)
Starcast
Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson | See full cast & crew »
Rating
7.1/10
Review:
Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.
Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield) memiliki ikatan yang erat dengan kakeknya Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp), sosok yang selalu membacakan dongeng sebelum tidur tentang sebuah rumah berisikan anak-anak yang memiliki kekuatan unik di bawah pimpinan wanita bernama Miss Alma LeFay Peregrine (Eva Green). Suatu ketika musibah menimpa Abe dan kemudian meninggalkan Jake dalam kondisi sepi serta terus dirundung mimpi buruk, dipaksa untuk bertemu psikiater bernama Dr. Golan (Allison Janney) untuk dapat mengatasi kesedihannya. Tapi suatu ketika berawal dari sebuah postcards rasa ingin tahu Jake terhadap kebenaran dari dongeng yang selalu Abe ceritakan itu menjadi besar, bersama sang ayah Franklin (Chris O’Dowd) dia kemudian menuju Wales berharap dapat menemukan rumah Miss Peregrine.
Rumah itu masih ada namun telah hancur akibat bom dari tentara Jerman pada tanggal 3 September 1943. Di sana Jake bertemu dengan Emma (Ella Purnell), remaja aerokinetic yang dapat memanipulasi udara, dan setelah pertemuan itu berbagai hal aneh kemudian datang menghampiri Jake salah satunya terkait ruang dan waktu yang ia jalani. Bertemu dengan sosok yang ia cari serta teman baru yang unik dari Bronwyn (Pixies Davies), Olive (Lauren McCrostie), hingga Enoch (Finlay MacMillan), Jake kemudian belajar tentang time loops yang digunakan oleh para Ymbrynes untuk melindungi anak asuhnya dari makhluk menyerupai monster bernama Hollowgast atau The Hollows, kelompok yang di bawah pimpinan Mr. Barron (Samuel L. Jackson) sangat membutuhkan para peculiar children agar dapat memulihkan eksperimen mereka.
Seperti yang telah disinggung di awal tadi berbicara tentang materi cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ seperti “diciptakan” untuk dibentuk oleh Tim Burton bersama imajinasi miliknya, dari cerita yang unik dan karakter yang aneh termasuk peluang besar bermain di sektor visual berkat ruang bermain yang leluasa untuk mengeksplorasi segala macam “keanehan” yang terkandung di dalamnya. Meskipun memulai semuanya dengan cukup goyah cerita yang ditulis oleh Jane Goldman (Kick-Ass, X-Men, Kingsman) berdasarkan novel karya Ransom Riggs itu berhasil menemukan pijakannya, dan di tangan Tim Burton petualangan penuh fantasi itu berhasil menciptakan semacam koneksi dengan penonton di awal. Pencapaian tersebut harus diakui berasal dari penggambaran di awal pada ikatan antara Jake dan Abe yang terasa manis, penonton menjadi tertarik pada apa yang tersimpan di balik dongeng tersebut. Namun yang menarik adalah dengan materi yang tampak kompleks film ini justru mencoba menjadi simple.
Cukup menarik mendapati Tim Burton dan timnya justru memilih untuk membuat kisah yang dipenuhi dengan permainan ruang dan waktu hingga kekuatan super ini agar terasa simple. Itu sebuah visi yang oke, Tim Burton seolah ingin menunjukkan semacam sense of wonder tapi tanpa mengisi cerita dengan berbagai punches yang berlebihan, ia tetap bermain dengan rasa horror andalannya dan juga simpati pada karakter namun lebih menggunakan visual storytelling ketimbang narasi untuk menggambarkan kegelapan dan kesedihan yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut berjalan dengan baik di awal, dengan tujuan yang jelas sejak awal aksi Jake mengeksplorasi “fantasi” yang ditanamkan oleh sang kakek padanya itu terasa menarik, meskipun aliran cerita tidak mulus tapi pesona tetap tumbuh secara perlahan. Hal tersebut semakin baik ketika Jake telah bertemu dengan peculiars, dibentuk dengan Burton-esque mereka karakter yang sangat menarik seperti perpaduan antara penyihir dari Harry Potter yang bertugas layaknya anggota X-Men.
Jika berbicara tentang pesona sesungguhnya pesona yang dimiliki oleh karakter ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa cukup oke ketika berjumpa penonton dan tidak terasa buruk ketika cerita telah berakhir, namun hal tersebut tidak terjadi di cerita. Akibat memilih bermain “sederhana” tadi daya tarik konflik tidak menunjukkan progress yang menarik, menyaksikan Jake beradaptasi dengan teman barunya serta berbagai tensi di dalam hubungan mereka terasa menarik tapi goal yang sejak awal telah ditetapkan seperti tidak ikut berjalan bersama Jake, ia berhenti di sepertiga awal dan baru muncul kembali menjelang akhir. Tidak terdapat eksposisi yang berlebihan di dalam narasi menjadi penyebabnya, konsekuensi logis dari perpindahan ruang dan waktu itu bukan masalah yang mengganggu tapi akibat tidak dieksplorasi secara lebih mendalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya pressure yang menarik, ia berjalan dengan sangat tenang sehingga miskin thrill yang berkualitas.
Itu mengapa ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti sebuah “robotic” fantasy, segala macam masalah yang ia mulai berhasil ia selesaikan dengan baik tapi tanpa proses dengan rasa yang dipenuhi dengan bumbu yang nikmat dan “menggoyang lidah”. Cerita ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ terasa seperti rasa makanan rumah sakit yang kita kenal pada umumnya, berhasil membuat kenyang namun karena membatasi atau bahkan tidak ada garam, gula dan mungkin lemak di dalamnya jadi terasa hambar dan well, cukup membosankan. Sosok Tim Burton yang menyutradarai film seperti Batman, Beetlejuice, atau Edward Scissorhands pasti akan mencoba untuk “mengasah” materi yang ia punya, namun Tim Burton sekarang ini di sektor cerita lebih sering bermain aman dengan imajinasinya, sama seperti Dark Shadows dan Big Eyes dia berhasil menarik minat penonton terhadap cerita dan karakter, menciptakan kesan “istimewa” namun kemudian tidak diasah dan berjalan tidak dengan kecepatan penuh.
Tentu saja tidak mengharapkan Tim Burton menciptakan berbagai kehebohan yang luar biasa di sini, namun jika dibumbui sedikit lebih jauh investasi penonton pada karakter dan konflik mungkin dapat menjadi lebih besar dan akibat impact yang dihasilkan dari petualangan Jake di dunia fantasi itu mungkin dapat terasa lebih menarik. Karena sudah terlalu sering bermain dengan fantasi dan imajinasi Tim Burton kurang berhasil menciptakan kesan “awe” yang terasa impresif di sini, karakter dan cerita perlahan terasa formulaic dan mechanical. Ketika berurusan dengan emosi tidak ada bobot yang oke, horror tidak punya terror yang kuat, dan unsur fantasi tidak punya kesan menakjubkan yang terasa memukau. Tidak heran energi dan semangat yang menarik di awal perlahan justru digunakan untuk berusaha menyambung setiap titik di dalam narasi, bersama dengan visual yang mumpuni namun editing yang kurang oke menghadirkan usaha eksposisi yang membuat cerita jadi terasa cukup sesak sehingga petualangan fantasi itu berubah menjadi sebuah permainan yang hanya sebatas ingin menyelesaikan misi saja.
Ya, sekali lagi, ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ tidak punya impact yang kuat ketika ia telah menyelesaikan kisah yang terasa menarik itu dan berjalan dalam durasi 127 menit sejak sinopsis. Tentu ia punya hal positif, dari visual dan production design misalnya dengan colorful images yang menarik, begitupula dengan cinematography, namun mereka tidak dapat membantu mengurangi minus seperti dari sektor cerita dan karakter yang terasa underdeveloped. Cast juga memberikan kinerja terbaik mereka namun karakter mereka tidak pernah terasa bersinar. Asa Butterfield berhasil membuat Jake tampil sebagai remaja teguh namun bingung yang cukup menarik meskipun kurang ekspresif, Terence Stamp yang cukup sukses menciptakan pondasi emosi di awal, serta Eva Green yang kurang memiliki kesempatan lebih untuk membuat Miss Peregrine bersinar meskipun meraih atensi penonton lewat pesona dan penampilannya yang mencolok, dari makeup, rambut, hingga kostum. Para pemeran the peculiars juga cukup oke, dibantu dengan CGI berhasil menampilkan kesan unik dan aneh dari masing-masing karakter mereka.
Overall, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang kurang memuaskan. Menggabungkan dongeng bersama sedikit sentuhan rasa superhero, fantasi dengan sedikit rasa horror dan tentu saja dibentuk dengan Burton-esque, ‘Miss Peregrine’s’ merupakan sebuah presentasi yang cukup menyenangkan dari segi visual, namun ketika berkombinasi dengan cerita yang merupakan perpaduan time travel dan juga coming-of-age ini terasa kurang memuaskan, terasa underdeveloped. Burton melakukan keahliannya di sini, menciptakan cerita dan karakter yang weird namun sama seperti beberapa film terakhirnya ia kurang berhasil menyuntikkan “kesibukan” yang konsisten menarik sejak awal hingga akhir, mengasah materi dengan berbagai bumbu dalam kecepatan penuh. It’s another “miss” on Tim Burton’s career, not super bad but there’s no awe, feels mechanical, feels like a “robotic” fantasy.
Sumber
 

FILE SIZE : 343 MB
MP4
LINK

Monday, November 7, 2016

Ouija: Origin of Evil (2016) HDRip + SUB iNDO

Ouija: Origin of Evil
(2016)

Quality: HDRip

Released
2 November 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Horror | Thriller
Director
Mike Flanagan
Writers
Mike Flanagan, Jeff Howard
Starcast
Elizabeth Reaser, Lulu Wilson, Annalise Basso | See full cast & crew »
Rating
6.6/10
Review:
Bermain dengan hal-hal supernatural selalu tampak menjanjikan sesuatu yang “menyenangkan”, tidak heran dengan budget kecil film-film horror kerap berhasil meraih keuntungan finansial yang besar termasuk that dreadful ‘Ouija’ yang hadir dua tahun lalu. Budget kecil membuat rasa takut pada potensi merugi juga kecil, tidak heran film-film di genre horror kerap tampak seperti trial and error, putar materi klise dan klasik di mana karakter hantu melihat karakter manusia dan karakter manusia merasakan eksistensi karakter hantu di sekitarnya. Genre horror tidak sepenuhnya membutuhkan materi baru yang segar namun sosok tepat yang mampu mengolah materi klasik dan klise tadi menjadi sajian yang segar. Film ini berada di tangan sosok yang tepat. Ouija: Origin of Evil: an effectively creepy horror without being overly cheesy.
Alice Zander (Elizabeth Reaser) merupakan seorang single mother dengan dua orang putri, Lina (Annalise Basso) dan juga Doris (Lulu Wilson), dua sosok yang membantu Alice ketika ia sedang beraksi melakukan aksi penipuan berkedok fortune teller. Sayangnya usaha tersebut masih belum mampu untuk meringakan beban finansial yang sedang mereka hadapi, tagihan belum dibayar menandakan potensi penyitaan rumah yang mereka tempati semakin besar. Suatu ketika sedang berkunjung ke rumah temannya Lina diajak untuk bermain ouija dan dari sana ia menyarankan sang ibu untuk menggunakan papan tersebut untuk membuat bisnis mereka semakin menarik.
Celakanya usaha tersebut justru memanggil sosok asing yang tertarik untuk bermain dengan mereka. Ketika sedang melakukan setting pada mainan barunya itu Alice tanpa sadar telah memanggil roh yang bermukim di rumah mereka, bernama Marcus dan hadir lewat perantaraan Doris. Doris tidak tahu bahwa sang ayah telah tiada percaya bahwa situasi “unik” yang ia rasakan itu akibat arwah sang ayah, terus dilanda rasa penasaran untuk bermain Ouija. Bersama dengan Father Tom (Henry Thomas) Alice dan Lina perlahan yakin bahwa Doris kini berada di bawah kendali roh jahat.
Sinopsis di atas tadi terkesan standard dan mungkin akan terasa basi jika menilik hubungan sebab dan akibat yang ia tawarkan. Faktanya tidak ada materi yang benar-benar fresh from the oven di dalam cerita Ouija: Origin of Evil, tidak hanya materi yang terasa hangat saja namun juga tidak terdapat materi yang benar-benar segar dan baru. Formula Ouija: Origin of Evil tipikal film horror pada umumnya, karakter bertemu dengan masalah, lalu build-up dan kemudian bermain dengan situasi penuh rasa waspada dari “kehadiran” sosok “asing” di sekitar karakter. Ya, there or not there dengan diselingi beberapa fake-outs klasik, Mike Flanagan sepenuhnya berpegang teguh dengan formula klasik dari genre horror namun apa yang menyebabkan materi yang tidak segar tadi justru berhasil menyajikan presentasi horror yang terasa segar adalah karena Mike Flanagan sejak awal memilih bermain aman namun terkendali.
Mungkin terkesan kurang menantang namun hal tersebut yang justru membuat berbagai hal dan materi klasik genre horror di film ini bekerja dengan baik. Efektifitas adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Ouija: Origin of Evil secara singkat, hal tersebut eksis sejak awal hingga akhir. Karakter dan juga konflik berhasil dibentuk dengan cepat dan tepat, kita dapat merasakan kehadiran tekanan yang sedang dihadapi oleh Alice dan dua putrinya di dalam cerita, kemudian cara papan ouija masuk ke dalam rumah keluarga Zander itu juga terasa halus termasuk penggunaan kondisi di mana Doris yakin bahwa arwah tersebut merupakan sang ayah. Koneksi antar cerita dan juga karakter terbangun dengan baik sejak awal, kita juga bertemu dengan Mikey (Parker Mack) yang berhasil menjadi “boneka” yang efektif bagi Doris, dan setelah koneksi tadi sukses menjadi semacam “alarm” bagi penonton setelah itu Flanagan coba menghadirkan “keriuhan” yang telah dinanti.
Kata yang digunakan memang keriuhan namun mereka hadir tanpa kebisingan yang berlebihan. Bermain dengan keheningan, itu senjata utama yang Flanagan gunakan di sini, dan seperti disebutkan di awal tadi penonton yang telah merasa seolah menjadi bagian lain dari keluarga Zander terus merasa waspada karena kita tahu di sana ada hantu. Di paruh pertama semua terasa lowkey namun eerie mood yang dihasilkan terus tumbuh dengan baik, penonton dibuat menantikan kemunculan sosok asing itu dan ketika momen itu tiba Mike Flanagan (Absentia, Oculus, Hush, Before I Wake) sajikan dengan punchs yang manis, effectively creeping audiences out. Pola klasik yang digunakan berhasil dikendalikan dengan baik oleh Flanagan terutama pada cara ia bermain tarik dan ulur bersama penonton, membuat penonton perlahan merasa unnerving untuk kemudian memunculkan berbagai “kejutan” yang manis.
Hal lain yang terasa impresif dari eksekusi Flanagan di sini adalah ia tidak mencoba menggunakan berbagai kejutan tadi untuk menciptakan kesan menakutkan yang terasa overwhelm. Ouija: Origin of Evil tidak menawarkan sebuah petualangan layaknya rollercoaster dengan track dipenuhi naik dan turun yang mengerikan tapi dengan tetap tampak tenang the scares yang dihasilkan justru terasa kumulatif, terasa terus bergerak semakin besar. Kesan creepy yang dihasilkan Ouija: Origin of Evil secara perlahan terus menumpuk, meskipun memberi kesempatan bagi beberapa humor kecil untuk tampil itu tidak membuat ekspektasi penonton pada menantikan kemunculan berbagai “kejutan” menjadi turun. Hal tersebut disebabkan karena Flanagan berusaha untuk menjauhkan materi yang dapat menciptakan kesan random di dalam cerita, secara step by step ia bangun mood and scare sehingga kesan menakutkan ketika kejutan itu hadir terasa impactful.
Hal lain yang Flanagan lakukan dengan baik di sini adalah ia berhasil menciptakan sebuah kemasan dipenuhi dengan timing yang tepat dari kemunculan setiap elemen cerita. Di awal dia fokus pada menciptakan dasar bagi karakter dan juga konflik namun ketika itu telah usai dua hal tadi tidak lantas berada di satu ruangan dengan tugas utama untuk hanya menciptakan kehebohan yang mengejutkan penonton saja. Paruh kedua harus diakui terasa predictable namun kesan fun yang dihasilkan paruh pertama tidak luntur di bagian ini, dari karakter, konflik, hingga elemen teknis seperti score dan visual mereka berhasil dikombinasikan dengan baik oleh Flanagan sebagai editor untuk menakut-nakuti penontonnya. Teror dikemas dengan sangat efektif, dari twist and turns hingga hal sederhana seperti mempermainkan silence moments ketika that thing sedang mengintai karakter untuk perlahan mendekat dan mendekat.
Hal-hal semacam itu yang menjadi daya tarik dari film horror dan di sini ditampilkan Flanagan dengan baik meskipun di babak akhir pace terasa sedikit kendor dan tidak begitu kuat. Bersama dengan Jeff Howard screenplay yang dihasilkan memang tidak istimewa namun lebih dari mampu untuk menciptakan kesan padat, dari arena bermain bagi berbagai kejutan hingga pada hal yang sedikit lebih berat seperti tentang family. Di sisi lain terdapat api kecil yang terus membakar suspense, mempertahankan atmosfir menakutkan yang telah terbentuk dan tetap stay away dari usaha “memukul” penonton dengan berbagai kejutan yang cheap dan random. Dan itu semua dilengkapi dengan kinerja akting yang juga sangat efektif dari jajaran cast, dari Elizabeth Reaser sebagai “guardian”, kemudian Annalise Basso hingga Lulu Wilson yang tampil exceptionally good terlebih ketika ia bermain dengan senyum yang gentle namun creepy itu.
Overall, Ouija: Origin of Evil adalah film yang memuaskan. Ini merupakan kelanjutan dan juga prequel yang superior for that dreadful ‘Ouija’, dan di sisi lain menjadi bukti bahwa genre horror kembali mendapatkan satu talenta yang berhasil meninggalkan kesan dependable, yaitu Mike Flanagan. Ini adalah bukti bahwa materi yang klise dan basi pada industri film bukan masalah yang besar, materi klasik dan klise tetap memiliki potensi untuk menciptakan sebuah sajian yang segar jika diolah dengan baik dan benar. Mike Flanagan melakukan itu di sini, memiliki great sense pada eksekusi untuk membuat berbagai terror itu work dan menghasilkan sebuah effective and entertaining horror.
Sumber

FILESIZE: 273 MB
LINK

Subtitle: hd.ouijaorigin.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Zolren

Friday, November 4, 2016

Doctor Strange (2016) HD CAM + sub Indo

Hasil gambar untuk doctor strange 
Sinopsis Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange 2016 ini bercerita tentang seseorang ahli bedah yang sangat tersohor bernama Dr. Stephen Strange yang mana pada saat itu diperankan oleh seorang aktor bernama Benedict Cumberbatch. Kemudian pada suatu hari ketika sang dokter tersebut mengalami sebuah insiden kecelakaan serius dan juga membuat melukai tangannya. Peristiwa itu bahkan membuat karirnya berakhir. Dan dengan tekad tanpa putus asa, akhirnya Dr. Strange bertekad untuk dapat menemukan obat agar kehidupannya dapat kembali normal kembali.

Setelah kehidupannya normal kembali Doctor memiliki kekuatan yaitu "The Sorcerer Supreme" atau sebuah kekuatan sehir yang bermaksut untuk melindungi bumi dari ancaman makhluk-makhluk jahat.

Review Film Doctor Strange (2016)

Film Doctor Strange yang mana merupakan sebuah film dengan gendre Fantasi dan juga petualangan yang sangat seru dan diadaptasi dari sebuah komik Marvel yang sangat tersohor saat ini. Film ini sedikit menceritakan mengenai bagaimana kisah seorang dokter yang mengalami hari-hari buruk dalam hidupnya setelah mengalami kecelakaan dan kemudian dia kembali bertekad untuk dapat mengembalikan kembali kehidupannya seperti dulu.

Released
26 October 2016 (Indonesia)
Country USA
Language
English
Genres
Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi
Director
Scott Derrickson
Writers
Jon Spaihts, Scott Derrickson | 1 more credit »
Starcast
Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams | See full cast & crew »
Rating
8.0/10

FILE SIZE : 287 MB
MP4
LINK
 [USERCLOUD] 

Subtitle: hdcam.drstrange.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Yechika Chisilia

Thursday, November 3, 2016

REGISTER ADSIME

BLog anda mau di pasang iklan ni coba adsime langsung aja gw kasih linknya