I Love Her

ANIME AIKATSU

THUNDERSTROM

5 power

NAME IS BLOG

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, July 21, 2016

The Secret Life of Pets (2016) HDTS + Subtitle Indonesia

secret-life-of-pets-movie.jpg
movieinfo.png
Released
8 July 2016 (USA)
CountryJapan | USA
Language
English
Genres
Animation | Comedy | Family
Directors
Yarrow Cheney, Chris Renaud
Writers
Cinco Paul, Ken Daurio | 2 more credits »
Starcast
Louis C.K., Eric Stonestreet, Kevin Hart | See full cast & crew »
Ratingimdb-icon.gif6.8/10

Sinopsis:
Ini mungkin akan terasa aneh tapi jika kamu memiliki hewan peliharaan pernahkan terlintas di pikiranmu apa yang mereka lakukan ketika kamu meninggalkannya untuk pergi bekerja. Jika ia seekor anjing apakah ketika tidak ada manusia di sekitarnya ia akan berbicara bahasa hewan dengan kucing tetangga atau tikus yang bersembunyi di bawah tempat tidurmu? Apakah ia hanya duduk di ruang tamu menunggu kamu pulang atau justru bergembira dengan dengan musik rock, menonton televisi, hingga memeriksa isi kulkas? Konsep tersebut digunakan oleh The Secret Life of Pets, karya studio animasi yang telah menghadirkan Despicable Me, The Lorax, dan Minions, sebuah animasi keluarga yang mencoba mengangkat ide kehidupan rahasia dari hewan peliharaan dengan rasa Looney Tunes. It’s cute but charmless animation.

Anjing jenis Jack Russell Terrier benama Max (Louis CK) merasa kesal ketika kehidupan sehari-hari yang ia isi bersama Chloe (Lake Bell), Mel (Bobby Moynihan), dan Buddy (Hannibal Buress) suatu ketika “diganggu” oleh Duke (Eric Stonestreet). Duke merupakan anjing ukuran besar yang diadopsi oleh pemilik Max, Katie (Ellie Kemper). Lawan menjadi kawan, Max dan Duke memutuskan untuk menyelinap keluar apartemen, tapi celakanya mereka tersesat di New York. Selain bertemu dengan hewan baru seperti Tiberius (Albert Brooks) dan Gidget (Jenny Slate) mereka juga harus berurusan dengan Ozone (Steve Coogan), anggota gang kucing, dan Snowball (Kevin Hart), kelinci yang memaksa Mac dan Duke untuk menjadi bawahannya.

Salah satu hal menyenangkan dari The Secret Life of Pets adalah mendapati fakta bahwa Illumination Entertainment masih mencoba untuk menghadirkan hiburan animasi yang ringan dan tampil ringkas. Sama seperti karya-karya yang pernah mereka hasilkan sebelumnya The Secret Life of Pets mengandung sisi positif dan sisi negatif dari produk Illumination Entertainment. Set-up The Secret Life of Pets standard dan familiar dan di sini dua sutradara Chris Renaud dan Yarrow Cheney serta tim penulis naskah seperti kompak bahwa film ini no need a good story, mereka dengan berani mengandalkan karakter untuk mencuri dan mengikat perhatian penonton. Anehnya itu berhasil di bagian awal, menggunakan pola dasar petualangan animasi for kids materi substansial di narasi film ini nihil tapi dengan karakter yang ekpresif dan memikat mata serta sesekali lelucon yang cukup oke.

Ya, di bagian awal, tapi setelah dibuka dengan sangat baik di 10 menit pertamanya The Secret Life of Pets perlahan jatuh menjadi sebuah petualangan yang just good enough, di beberapa titik bahkan sedikit lebih rendah dari itu. Tentu tidak layak mengharapkan cerita dengan something "thoughtful" yang kuat pada film-film dari Illumination Entertainment tapi keputusan yang seolah menaruh cerita di pinggir dan kemudian have fun dengan karakter menghasilkan boomerang bagi The Secret Life of Pets. Sulit untuk merasa apa yang Max, Duke, dan karakter lain lakukan sepanjang 81 menit durasi sisa sebagai sesuatu yang konsisten menarik, pertunjukkan mereka naik dan turun tapi kurang mampu mengikat atensi penonton. Ketimbang bercerita The Secret Life of Pets terlihat lebih fokus berusaha memperpanjang nafasnya hingga akhir, karakter mengatasi rintangan di lingkungan luar ala Toy Story dengan sepenuhnya bertumpu pada aksi, bukan kombinasi aksi dan isi cerita.

Memang ada momen yang sukses menghibur dari keputusan untuk tampil hyperactive tapi hal-hal yang kemudian hadir perlahan terkesan kurang nendang ketika ditempel. Di satu bagian kamu akan menemukan set-up yang seperti ingin menghadirkan momen emosional tapi hasil akhirnya mentah, irama cerita juga tidak semuanya halus sehingga cerita yang mayoritas tampil dengan kecepatan tinggi itu perlahan terasa melelahkan karena kembali lagi ke masalah awal bahwa film ini tidak punya something yang benar-benar menarik di pusat cerita. Walaupun begitu meskipun punya bagian yang terasa "kering" film ini tidak pernah terasa menjengkelkan akibat visual yang memikat mata. Visual tajam dan eye-catching, dari lingkungan New York dengan gedung-gedungnya yang tinggi hingga karakter yang juga terasa oke, gerakan mereka ketika melempar lelucon terasa baik meskipun di sisi lain pesona yang dihasilkan terasa kurang kuat.

Elemen yang juga tidak tampil buruk adalah kinerja pengisi suara. Suka dengan tik-tok yang Louis C.K. dan Eric Stonestreet hadirkan di antara Max dan Duke, meskipun tidak menjadi dynamic duo yang super kuat mereka mampu bertahan di pusat cerita mengingat banyak karakter lain yang juga tampil di level mereka. Di sisi lain Kevin Hart, Lake Bell, dan Bobby Moynihan juga membuat karakter mereka memberikan sokongan yang pas terhadap dua karakter utama. Highlights di bagian ini adalah Steve Coogan yang berhasil menampilkan kesan sombong dan angkuh dari karakternya, Ozone. Selain kinerja pengisi suara yang terasa oke The Secret Life of Pets juga punya score yang sukses mencuri perhatian, terkadang berhasil menjadi penyelamat ketika cerita dan karakter mulai terasa goyah, Alexandre Desplat menghasikan score yang manis dengan rasa klasik yang oke.

Apakah kamu masih ingat sinopsis, plot serta konflik yang dimiliki Minions yang rilis tahun lalu? Garis besarnya mungkin iya namun hal yang jauh lebih memorable dari Minions tentu para minions itu sendiri. Seperti itu usaha yang dilakukan Chris Renaud dan Yarrow Cheney di sini, menggunakan hewan yang mencari jalan pulang dengan dipenuhi banyak humor dan menaruh fokus pada “menjual” karakter. Meskipun pesonanya tidak kuat namun ditunjang dengan visual yang memikat dan narasi “sederhana” dalam gerak cepat The Secret Life of Pets mampu menjadi hiburan animasi dengan rasa Looney Tunes yang loveable walaupun kurang memorable. It’s cute but charmless, it’s good for kids.
Sumber
The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

The%2BSecret%2BLife%2Bof%2BPets%252C%2B2

banner-appwal.jpg

Download Film The Secret Life of Pets (2016) HDTS Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 23 Menit - 15 Detik
Ukuran: 210 mb
SS:
thescretlfpts16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_201

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]


Download Film The Secret Life of Pets (2016) BLUERAY Subtitle Indonesia MP4 High Quality:

{UCERCLOUD}


Subtitle: br.thescrtlifeofpts.2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: EveryAgent



Friday, July 15, 2016

The Legend of Tarzan (2016) BLUERAY+Subtitle Indonesia

the-legend-of-tarzan-2016.jpg
movieinfo.png
Released
1 July 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Adventure | Drama | Romance
Director
David Yates
Writers
Adam Cozad (screenplay), Craig Brewer (screenplay) | 3 more credits »
Starcast
Alexander SkarsgÃ¥rd, Rory J. Saper, Christian Stevens | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif6.8/10

Review:

Jika kamu tanya Google berapa banyak film Tarzan yang telah diproduksi maka kamu akan menemukan jumlah yang terhitung besar, dari fitur layar lebar, film animasi, hingga parodi. Pertanyaannya bukan apakah penting atau tidak untuk memproduksi kembali film pahlawan hutan yang dibesarkan oleh para kera yang sudah dilakukan berulang kali namun apakah produk yang dihasilkan tersebut mampu memberikan penonton pengalaman berpetualang bersama Tarzan yang terasa menyenangkan. Ya, sesederhana itu. The Legend of Tarzan, the most recent edition of the apeman adventure with hazy and gloomy swing.

Tumbuh dan berkembang di bawah asuhan Mangani dan para kera lainnya, Tarzan (Alexander SkarsgÃ¥rd) telah lama meninggalkan hutan Afrika dan kini hidup sebagai aristocrat di London dengan nama John Clayton III. Suatu ketika Tarzan diundang kembali Congo Free State sebagai utusan dagang dari House of Commons, namun celakanya Tarzan yang datang bersama istrinya, Jane Porter (Margot Robbie) tidak menyadari bahwa mereka menjadi “alat” dari sebuah rencana jahat yang didalangi oleh koruptor asal Belgia bernama Captain Léon Rom (Christoph Waltz).

, Hal paling impresif di The Legend of Tarzan berasal dari keputusan David Yates dan dua penulis naskah Adam Cozad serta Craig Brewer untuk tidak menaruh fokus terlalu besar pada proses tumbuh dan berkembangnya Tarzan di hutan. Tarzan kini merupakan seorang gentleman yang kemudian harus kembali ke hutan dan menyelesaikan masalah yang menghampirinya. Penyesuaian pada cerita itu menghasilkan narasi yang terasa fresh di awal, alur cerita dibuat standar dan fokus kini diarahkan pada bagaimana agar rasa percaya diri dan tentu saja rasa cinta dari Tarzan dapat menginspirasi penontonnya. The Legend of Tarzan juga seolah membawa banyak misi, dari tragedi, menggambarkan fenomena budaya, menghidupkan fantasi anak-anak, hingga usaha tampil dengan rasa blockbuster. Sayangnya berbagai tujuan tadi tidak menghasilkan kombinasi yang oke.

Setup di bagian awal cukup menarik, keputusan David Yates untuk tidak menghabiskan banyak waktu membentuk kembali dasar cerita asal membuat bagian awal terasa oke. Tapi masalahnya presentasi setelah itu ternyata tidak membawa karakter dan cerita bergerak maju dengan menarik pula. Hampir setengah durasi dihabiskan bagi Tarzan untuk membangun kembali dirinya, mondar-mandir sedikit berlebihan untuk membangun backstory bagi Tarzan. Tidak masalah jika hasilnya oke tapi di sini cerita justru terasa semakin berbelit-belit dan apa yang ingin dicapai oleh The Legend of Tarzan perlahan terasa tidak jelas. Konflik dengan nada politik, peperangan, ketika mereka stuck maka hadirkan hal klise dengan kasus penculikan dan usaha menyelamatkan. Hal-hal yang coba Adam Cozar dan Craig Brewer sampaikan seperti di atas tadi perlahan mati dan menghilang, menjelang masuk ke paruh kedua cerita ketegangan di narasi terasa murung dan suram, yang tersisa hanya Alexander Skarsgård bertelanjang dada.

Dari sana kita mulai sadar mengapa bagian awal terasa oke karena masalah yang berasal dari usaha membangun karakterisasi Tarzan tidak ditumpuk di awal melainkan diurai sepanjang cerita. Alhasil plot terasa sibuk dan sesak, berbagai ide yang ia bawa tadi tidak punya kesempatan untuk mencuri atensi penonton. Seperti sadar dengan hal tersebut David Yates kemudian mencoba mempertahankan nafas The Legend of Tarzan dengan menggunakan elemen action. Harus diakui beberapa dari elemen action terasa oke, dari peluru hingga aksi akrobat, tapi kehadiran mereka terasa terlambat dan tidak menghasilkan dampak yang besar pada daya tarik cerita yang sudah berubah dari nasi hangat menjadi bubur yang terlalu encer. Akibatnya kombinasi cerita dan elemen action yang tidak banyak yang terasa nendang tadi membuat The Legend of Tarzan terasa menggantung tanpa urgensi.

Ya, The Legend of Tarzan memiliki banyak kekurangan tapi yang paling menjengkelkan dari itu semua adalah bagaimana ia tampil tanpa menghadirkan semangat yang tajam dan mengesankan. Tidak peduli seberapa standar cerita, karakter, dan eksekusi yang penonton inginkan dari Tarzan adalah sebuah petualangan di hutan dengan thrill yang konsisten tampil menyenangkan. Hal penting itu coba ditampilkan oleh David Yates tapi lebih suka menghitungnya sebagai absen. Penilaian yang berbeda ada pada elemen teknis, kualitasnya seimbang. Suka dengan sinematografi dan score, mereka cukup manis, CGI juga cukup oke. Tidak ada yang benar-benar bombastis di sini tapi film ini punya beberapa eksekusi teknologi motion capture yang oke. Pernah menangani beberapa film ‘Harry Potter’ David Yates oke dalam menciptakan tampilan dan urutan dengan visual effect yang besar meskipun mayoritas dari mereka tidak banyak membantu daya tarik serta pesona dari karakter dan cerita.

Jika menilik kualitas cerita para aktor dan aktris seharusnya mampu untuk setidaknya menjaga rasa antusias penonton pada karakter dan cerita. Ya pada karakter namun tidak pada cerita. Alexander Skarsgård tidak tampil buruk tapi tanpa dibantu dengan urgensi yang menarik pesona dari kesan misterius yang ia bangun bersama sex appeal dengan kesan primitif yang liar tidak bertahan lama sejak cerita berangkat dari sinopsis. Alexander Skarsgård juga sering kecolongan karakter pendukung yang ditampilkan dengan baik oleh para pemerannya. Christoph Waltz adalah ahli dalam memerankan karakter penjahat utama dan meskipun tidak kuat kesan sombong dan creepy dari Léon Rom tidak buruk. Tidak punya keluhan terhadap Margot Robbie, sebagai penyeimbang ia membuat Jane sebagai damsel-in-distress yang sensual dan berani, sex appeal miliknya membuat Suicide Squad semakin menarik untuk dinantikan. Yang mengejutkan adalah Samuel L. Jackson (George Washington Williams), mampu menjadi sidekick yang aneh dan menyenangkan.

Kisah Tarzan di dalam hutan seharusnya menjadi sebuah petualangan besar yang mendebarkan. David Yates memang mencoba untuk menghadirkan hal tersebut dengan menampilkan beberapa elemen drama dan mencampur usaha menjadi blockbuster dengan nada cerita yang sedikit serius. Namun meskipun oke dan tampak menjanjikan di bagian awal The Legend of Tarzan tidak tumbuh menjadi petualangan yang semakin menyenangkan justru semakin suram dan tampak kabur. The Legend of Tarzan memang mampu menghadirkan kehebohan tapi kurang mampu untuk terasa benar-benar nendang, ini seperti hanya mengapung di danau tenang bukan bermain arung jeram di sungai dengan track yang menantang. 'The Legend of Tarzan' adalah film Tarzan yang “pincang” tanpa teriakan yang menawan. Dibandingkan dengan The Jungle Book? Sebaiknya jangan.
Sumber

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

The%2BLegend%2Bof%2BTarzan%252Caction%25

banner-appwal.jpg

Download Film The Legend of Tarzan (2016) HDTS Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 45 Menit - 37 Detik
Ukuran: 256 mb
SS:
thelgndtrz16_HDTSrmcmv_mp4_thumbs_2016_0

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: hdts-thelgndtrzn-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:seaZ

Download Film The Legend of Tarzan (2016) BLUERAY+  Subtitle Indonesia
[UCERCLOUD]

Subtitle: hdts-thelgndtrzn-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:seaZ



Monday, July 4, 2016

Marauders (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

marauders.jpg
movieinfo.png
Released
1 July 2016 (USA)
CountryCanada
Language
English
Genre
Action
Director
Steven C. Miller
Writers
Michael Cody (story), Michael Cody | 1 more credit »
Starcast
Bruce Willis, Christopher Meloni, Dave Bautista | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.4/10

Sinopsis:

MARAUDERS mengisahkan tentang aksi perampokan bank oleh kelompok penjahat profesional. Dari bukti yang di temukan, semuanya mengarah pada pemilik bank (Bruce Willis).

Tetapi sekelompok agen FBI mencoba untuk menggali lebih dalam kasus perampokan tersebut. Saat itu ditemukan bahwa konspirasi yang lebih besar berada dibaliknya.
Sumber

marauders_2.png

Marauders-777x437.png

Marauders-2016-HDRip-DVDRIP-700MB-33.jpg

banner-appwal.jpg

Download Film Marauders (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 47 Menit - 07 Detik
Ukuran: 296 mb
SS:
maraudrs16_DLrmcmv_mp4_thumbs_2016_07_03

Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: dl-marauders-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:apras

Download Film Marauders (2016) WEB- Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Ukuran: 200 mb
SS:
maraudrs16_DLrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/1gs6spayggzc
TF: http://www.tusfiles.net/61imgtyjz7fc
UF: http://sht.io/ic29
UI: http://sht.io/ic2c
SF: http://sht.io/ic2b
UP: http://uppit.com/5fo0cswcowjc

Subtitle: dl-marauders-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:apras


The Last Heist (2016) WEB-DL+Subtitle Indonesia

the-last-heist.jpg
movieinfo.png
Released
17 June 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action
Director
Mike Mendez
Writer
Guy Stevenson
Starcast
Henry Rollins, Torrance Coombs, Victoria Pratt | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif3.5/10

Sinopsis:

A bank heist descends into violent chaos when one of the hostages turns out to be a serial killer. Trapping the well-organized team of bank robbers in the building, the killer is now picking them off one by one.

The_Last_Heist-838879284-large.jpg

Screen-Shot-2016-04-6D7C77.jpg

Screen-Shot-2016-04-6D807F.jpg

banner-appwal.jpg

Download Film The Last Heist (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 24 Menit - 18 Detik
Ukuran: 233 mb
SS:

thelasthst16_DLrmcmv_mp4_thumbs_2016_07_

Download Single Link:
download-button.gif
[USECLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: dl-thelastheist-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:
ard@jati
Download Film The Last Heist (2016) WEB-DL Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x288
Ukuran: 159 mb
SS:

thelasthst16_DLrmcmv_Snapshot.jpg

Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/1inuctx7vxsc
TF: http://www.tusfiles.net/xf04oep5ms9o
UF: http://sht.io/ic1o
UI: http://sht.io/ic24
SF: http://sht.io/ic1q
UP: http://uppit.com/k94gz9cezexs

Subtitle: dl-thelastheist-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:
ard@jati

Independence Day: Resurgence (2016) HDTS+Subtitle Indonesia

independence-day-resurgen.jpg
movieinfo.png
Released
24 June 2016 (USA)
CountryUSA
Language
English
Genre
Action | Adventure | Sci-Fi
Director
Roland Emmerich
Writers
Nicolas Wright (screenplay), James A. Woods (screenplay) | 9 more credits »
Starcast
Liam Hemsworth, Jeff Goldblum, Bill Pullman | See full cast & crew »
Rating
imdb-icon.gif5.6/10

Review:

Begitu mudah untuk memasukkan Independence Day ke dalam list disaster film favorit, sebuah sci-fi yang tidak hanya sekedar mampu menjadi sajian yang cukup intens dan fun dibalik kekurangan yang ia miliki saja tapi berhasil menjadi one to be remembered kinda movie. Sudah 20 tahun tertidur dengan lelap kini kita coba dibawa kembali bertemu dengan “bencana” yang serupa namun tidak sama, babak kedua yang kembali mencoba mempertemukan manusia dan alien dalam sebuah pertarungan penuh kehancuran skala besar. Siapa yang akan menjadi pemenang bukan pertanyaan paling menarik dari film ini namun apakah ia mampu menyamai atau bahkan menjadi kemasan action sci-fi yang lebih baik dari pendahulunya? A dreadful waffle, Independence Day: Resurgence is a war without a wow.

Tahun 2016, 20 tahun telah berlalu dan kini PBB menciptakan Earth Space Defense (ESD), sebuah program pertahanan global sebagai sistem yang memberi peringatan dini marabahaya ke bumi jika kembali muncul serangan dari sisa-sisa alien yang telah dikalahkan. Sedang bersiap untuk merayakan hari kemerdekaan mereka, USA (dan seluruh planet bumi) dikejutkan dengan serangan alien ke ESD. Tidak lama kemudian gelombang pasukan alien yang lebih besar datang dan menyerang bumi setelah mendapat sinyal yang dikirimkan dari satu-satunya pesawat mereka yang masih tertinggal di bumi sisa dari pertarungan 20 tahun yang lalu.

Di balik minus yang ia miliki Independence Day berhasil menyajikan sebuah petualangan science fiction dengan thrill yang menyenangkan, hal yang banyak membantu menutup kekurangan yang ia miliki. Di bawah kendali Roland Emmerich film tersebut memberikan sajian visual yang untuk ukuran tahun 1996 merupakan sebuah presentasi yang menawan, dan semakin memorable karena meskipun merupakan disaster film skala besar ia berhasil memadupadankan bahaya dari bencana dengan elemen humor yang oke. Roland Emmerich kembali ingin mencoba melakukan hal tersebut di film kedua ini, menggunakan pendekatan yang sama di mana alien ingin menghancurkan dunia dalam skala yang lebih besar, lebih kejam, dan lebih berbahaya untuk memberikan kita sebuah petualangan visual. Sedikit modifikasi di sektor cerita layak diapresiasi tapi sayangnya sebagai sebuah kesatuan mereka tidak terasa menarik.

Memang meskipun menggunakan template yang identik penontonya akan suka dengan usaha Roland Emmerich bersama rekan-rekannya untuk membuat naskah yang tidak tampak seperti eksekusi copy dan paste belaka, tapi sayangnya semakin jauh ia bergerak dari sinopsis daya tarik segala sesuatu yang terjadi di layar perlahan berkurang. Tentu sebagai sebuah disaster film kurang pantas mengharapkan karakter dengan kedalaman emosi yang luar biasa, tapi berbagai karakter di sini tampil dengan standar yang sedikit lebih rendah dari karakter pada film tipe tersebut. Kita tahu mereka siapa dan tugas mereka apa, tapi mereka tidak terasa hidup di dalam cerita. Masalah itu terasa tidak terlalu besar di karakter lama tapi besar dampaknya pada karakter baru yang notabene punya tugas yang juga tidak kalah penting di sini, mereka terasa seperti boneka. Alhasil fokus dan hook cerita terasa lemah, semua karakter seperti dicampur sebagai sebuah tim yang terasa sesak.

Salah satu hal menarik dari Independence Day: Resurgence adalah untuk ukuran sebuah film tentang bencana skala besar power dari ancaman berbahaya yang ia hasilkan tidak kuat. Untuk masalah visual tidak perlu banyak komentar, meskipun kualitasnya sudah terasa familiar di era sekarang ini Emmerich merupakan sutradara yang oke dalam memanfaatkan CGI untuk menampilkan bencana (Godzilla, The Day After Tomorrow, 2012), menghancurkan landmark hingga serangan lewat darat, laut, dan udara. Masalahnya sajian visual itu kerap terasa soulless akibat pesona karakter dan konflik yang terkesan seadanya. Bukankah dengan menghadirkan antagonis yang memikat akan berdampak pada pesona hingga makna dari perjuangan yang protagonis lakukan, sayangnya Roland Emmerich kurang berhasil menghadirkan hal tersebut di sini. Ketegangan di cerita ada tapi mereka tidak terasa “nyata” dan bersifat mengintimidasi penonton, kita seperti masuk ke mode menunggu bagaimana semua itu akan berakhir.

Itu blunder besar bagi sebuah film yang memakai ancaman dan ketegangan sebagai nafas utamanya. Independence Day: Resurgence memang punya struktur cerita yang cukup oke tapi ia tidak mampu mengikat dan mencengkeram atensi penonton hingga akhir. Dengan durasi sebesar 120 menit Independence Day: Resurgence lebih terasa seperti sebuah kepanikan ketimbang usaha perlawanan, ia menampilkan segala hingar bingar tapi tidak memiliki tension yang mumpuni, di beberapa bagian kehadiran elemen action lebih terasa seperti usaha mengalihkan perhatian dari kualitas konflik dan juga akting yang terasa biasa. Kesan heroik yang dihasilkan tidak ada, feel dari elemen drama terasa palsu, Independence Day: Resurgence terasa seperti kekacauan di dalam sebuah ruangan yang hampa. Rasa kesal juga muncul dari score yang seharusnya dapat membantu elemen action terasa lebih intens tapi di sini justru terasa kurang nendang.

Bagaimana denga kinerja cast? Pemeran dari karakter lama kembali melakukan usaha terbaik mereka, sebuah fan service yang oke meskipun sebenarnya selain Captain Steven Hiller tidak ada karakter lain dari film pertama yang terasa ikonik. Yang paling menonjol adalah Jeff Goldbloom, meskipun terkadang kemunculannya hanya membawa beberapa line sederhana tapi at least ia berhasil membuat karakternya tampil menghibur dengan perawakan yang santai. Highlight dari cast adalah hal yang sudah ditakutkan sebelumnya, absennya Will Smith. Steven Hiller adalah nafas utama Independence Day dan di sini ia coba diganti dengan beberapa karakter baru yang diperankan oleh Liam Hemsworth (Jake Morrison), Maika Monroe (Patricia Whitmore), Jessie Usher (Dylan Dubrow-Hiller), dan Angelababy (Rain Lao). Mereka tidak tampil buruk tapi tidak ada pesona dan energi sekuat yang ditampilkan Will Smith, dan itu sangat disayangkan karena dibalik sebuah film sci-fi action yang menawan selalu ada pahlawan yang juga tampil menawan.

Mencoba tampil tidak jauh berbeda sayangnya Independence Day: Resurgence tidak mampu mengulangi pencapaian yang diciptakan pendahulunya. Tema dan berbagai isu seperti teamwork misalnya tidak menghasilkan hit yang kuat, dan meskipun menampilkan visual yang oke Independence Day: Resurgence tidak punya ketegangan yang menawan, tidak mampu mengikat dan mencengkeram penonton hingga akhir. Humor juga tidak punya hit yang mumpuni, hal yang membuat Independence Day terasa menawan. Punya bekal yang oke untuk menjadi disaster film skala besar namun memberikan eksekusi dengan hits yang jatuh pendek di berbagai elemennya, termasuk pula lemahnya keunikan dan kejutan yang ia tampilkan sehingga terasa seperti film sci-fi action yang formulaic, Independence Day: Resurgence is a war without a wow
Sumber

Independence%2BDay%2BResurgence%252C%2B2

Independence%2BDay%2BResurgence%252C%2B2

Independence%2BDay%2BResurgence%252C%2B2

banner-appwal.jpg

Download Film Independence Day: Resurgence (2016) HDTS Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 50 Menit - 40 Detik
Ukuran: 291 mb
SS:


Download Single Link:
download-button.gif
[USERCLOUD]
[TUSFILES]
[UPFILE]
[UPLOAD]
[SOLIDFILES]
[UPPIT]

Subtitle: hdts-independncdy-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:edisoebkan

Download Film Independence Day: Resurgence (2016) HDTS Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x288
Ukuran: 209 mb
SS:


Download Single Link:
download-button.gif
UC: https://userscloud.com/8qj97twt4lqw
TF: http://www.tusfiles.net/t08v0c3xbitu
UF: http://sht.io/ic2h
UI: http://sht.io/ic2i
SF: http://sht.io/ic2j
UP: http://uppit.com/6t9tpymflzkr

Subtitle: hdts-independncdy-2016.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By:edisoebkan